Labuan Bajo Garap Waterfront, Ini Tujuannya

Labuan Bajo Garap Waterfront
Ilustrasi. Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT), kini sedang menyiapkan destinasi Waterfront. (iStock)

TURISIAN.com – Labuan Bajo garap Waterfront. Pemerintah pun tidak main-main agar proyek tersebut mampu mewujudkan destinasi unggulan.

Harapannya, tentu tidak saja bisa menarik wisatawan mancanegara, tetapi juga dometik yang masih menyisakan ceruk pasar yang besar.

Spirit ini tidak lepas dari fakta bahwa Labuan Bajo memiliki banyak sekali obyek wisata. Bahkan bisa dikatakan hampir setiap sudut wilayahnya memiliki keunikan.

Mulai dari menghubungkan seluruh keindahan pantai, laut, bukit serta padang rumput. Labuan Bajo juga kaya akan budaya dan kearifan lokal yang tidak kalah dengan eksotisme alamnya.

Karena keindahan dan keunikan tersebut, Labuan Bajo kemudian menjadi salah satu Destinasi Super Prioritas (DPSP) di Indonesia.

BACA JUGA: Labuan Bajo Siapkan PLTS untuk Menerangi 8 Event G20

Ada 4 DPSP lain yang juga sedang dibangun yaitu Danau Toba di Sumatera Utara, Borobudur di Jawa Tengah, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, dan Likupang di Sulawesi Utara.

Kini,  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus melakukan pembangunan infrastruktur Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo.

Tujuannya, melahirkan salah satu destinasi wisata premium. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yang ingin mengubah wajah Labuan Bajo agar lebih menarik.

Menjadi Program KSPN

Waterfront merupakan salah satu dari program penataan KSPN Labuan Bajo dan  saat ini infrastrukturnya telah rampung dibangun.

BACA JUGAKeciput Belitung Dibidik Kemenparekraf Masuk ADWI 2022

Siap digunakan dan telah dilengkapi dengan fasilitas kelas dunia dan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Direktur Utama BPOLBF, Shana Fatina menjelaskan bahwa pertanggal 8 Februari 2022 lalu, pembangunan dan penataan Waterfront telah 100 persen selesai.

Dan saat ini pihaknya bersama dengan kementerian dan lembaga terkait tengah mempersiapkan beberapa aktivasi untuk mengisi ruang publik yang telah dibangun tersebut.

“Saat ini kita sudah masuk dalam tahap menggabungkan aktivasi program dan infrastruktur. Sehingga ruang publik ini bisa memberi manfaat langsung ke masyarakat dan bisa menjadi atraksi landmark wajib Labuan Bajo” jelas Shana di Labuan Bajo, belum lama ini.

BACA JUGALiburan di Yogya? Bisa Bayar Hotel 1 Malam untuk 2 Malam

Shana juga melanjutkan bahwa semua pihak dapat  menggunakan ruang publik tersebut selama mengikuti peraturan dan memberi dampak positif kepada masyarakat setempat.

“Waterfront adalah ruang publik. Jadi siapa pun boleh menggunakan area Waterfront untuk aktivitas. Baik itu aktivitas dari komunitas maupun event-event. Tentu, selama mendapat izin dari pihak pengelola  Waterfront. Diantaranya, bisa menjaga kebersihan, dan menjaga segala fasilitas yang dibangun tersebut” tambahnya.

Ada Bangunan Untuk Ruang Publik

Sebagai bangunan yang didesain untuk ruang publik, BPOLBF bersama kementerian dan lembaga terkait berupaya untuk selalu melibatkan masyarakat lokal.

Kelak, bangunan ini menjadi ikon salah satu bangunan ikonik Labuan Bajo ini.

“Event yang dibuat tentunya akan selalu melibatkan komunitas lokal. Dan kita berharap mulai dari Waterfront ini. Kita punya banyak produk kesenian dan kebudayaan yang menarik, kita akan mengembangkan Labuan Bajo sebagai destinasi yang berkualitas dan berkelanjutan” ungkap Shana.

BACA JUGA: Penguatan Pariwisata Maluku Tengah, Kemenparekraf Gulirkan Program Vaksinasi Covid-19

Shana juga menceritakan bahwa sejak awal proses pembangunan Waterfront selalu melibatkan masyarakat.

“Ketika Waterfront pertama kali didesain, masyarakat setempat turut diikutsertakan sehingga muncullah desain seperti yang saat ini sudah jadi dan bagian dari aspirasi mereka” jelas Shana.

Selain itu, Dirut BPOLBF juga menegaskan bahwa kawasan yang dibangun untuk kebangkitan ekonomi masyarakat adalah bangunan yang dibangun untuk masyarakat dan digunakan untuk masyarakat.

“Waterfront ini dibangun untuk publik, jadi jangan malu-malu untuk menggunakannya dengan maksimal, namun tentunya harus tetap mengikuti peraturan yang ada, menjaga kebersihan, dan tentunya merawat fasilitas yang sudah dibangun bersama ini” jelasnya.

BACA JUGA: Kemenparekraf Perkuat Amenitas Desa Wisata Senaru

Kesempatan terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, Pius Baut, SE mengapresiasi pemerintah pusat yang telah membangun infrastruktur di Labuan bajo, salah satunya Waterfront.

Ia berharap waterfront segera diserahkan kepada Pemkab Manggarai Barat untuk selanjutnya dikelelola dengan melibatkan masyarakat lokal.

Menyambut Event G20

Pius Baut juga mengajak semua pihak termasuk BPOLBF dan semua stakeholder untuk bergandengan tangan menyambut G20 serta memanfaatkan moment G20 ini untuk meningkatkan perekonomian masyarakat

Sementara Ketua ASTINDO Labuan Bajo, Ignas Suradin juga mengapresiasi Presiden Jokowi, yang punya perhatian luar biasa terhadap Labuan Bajo.

BACA JUGA: Turis Timor Leste, Pilih NTT Menjadi Tujuan Wisata

“Apresiasi kita yang tinggi kepada Pak Jokowi dan juga kepada kementerian PUPR dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo,”papar Ignas Suradin.

Menurut Ignas, Waterfront tentu menambah ruang publik untuk warga Labuan Bajo dan wisatawan sehingga seluruh warga punya kewajiban untuk menjaga dan merawatnya.

“Jangan pernah dikasih ruang untuk vandalisme, ataupun pedagang kaki lima di area tersebut apalagi mengubah fungsinya menjadi tempat jemur pakaian,” ingat Ignas.

Labuan Bajo garap Waterfront tentu menambah spot wisata terutama untuk market wisatawan domestik baik untuk foto-foto maupun wisata sejarah Kampung Bajo.

***

Pos terkait