TURISIAN.com – Penumpang kereta api yang melintasi Banyuwangi kini dapat menikmati beragam kuliner.
Banyak pilihan makanan khas daerah ujung timur Pulau Jawa itu tanpa harus turun dari perjalanan.
Ini setelah anak usaha PT Kereta Api Indonesia (Persero), KAI Services, menggandeng pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
Mereka diajak untuk menghadirkan sajian khas Banyuwangi di gerbong restorasi sejumlah kereta api.
KAI Services bekerja sama dengan dua pelaku UMKM kuliner, yakni Warung Mbok Wah dan Srengenge Wetan.
Kolaborasi ini menjadi upaya memperluas pasar produk kuliner lokal. Sekaligus memperkenalkan kekayaan gastronomi Banyuwangi kepada penumpang kereta dari berbagai daerah.
“Seluruh kuliner ini bisa dinikmati di kereta api yang berelasi dengan stasiun Banyuwangi,” ujar Manajer Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita, dalam keterangan tertulis yang diterima di Banyuwangi, Sabtu 30 Mei 2026.
Warung Mbok Wah dikenal lewat nasi tempong, salah satu ikon kuliner Banyuwangi.
Hidangan tersebut terdiri atas nasi, lalapan, dan sambal bercita rasa pedas yang khas.
Berbeda dengan sambal pada umumnya, sambal tempong menggunakan tomat ranti sebagai salah satu bahan utama.
Dari dapur Warung Mbok Wah, KAI Services menghadirkan tiga varian menu, yakni nasi tempong ayam, nasi tempong udang, dan nasi tempong telur.
Srengenge Wetan
Adapun Srengenge Wetan menyuplai sejumlah menu andalan lainnya. Seperti ayam lodoh, nasi bakar, plecing ayam, serta nasi tempong ayam.
Seluruh makanan dimasak langsung oleh mitra UMKM sebelum dikirim ke stasiun untuk kemudian dijual di kereta.
Menu-menu tersebut tersedia di sejumlah kereta api yang melayani rute menuju dan dari Banyuwangi.
Di antaranya KA Sangkuriang relasi Bandung–Ketapang, KA Blambangan Ekspres relasi Pasar Senen–Ketapang.
Kemudian ada juga di KA Wijaya Kusuma relasi Cilacap–Ketapang, serta KA Logawa relasi Purwokerto–Banyuwangi.
Region Head Regional 9 Jember KAI Services, Yullyandra Mursyal, mengatakan sajian kuliner khas Banyuwangi mulai hadir di layanan restorasi kereta sejak Mei 2026.
Meski baru diperkenalkan, respons penumpang disebut cukup positif.
Menurut Yullyandra, rata-rata 10 hingga 20 porsi menu khas Banyuwangi terjual dalam setiap keberangkatan kereta.
“Menu ini dimasak langsung oleh mitra kami, jadi dari segi rasa tidak perlu diragukan,” katanya.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya KAI Services mendukung pemberdayaan UMKM. Sekaligus memperluas promosi kuliner daerah melalui moda transportasi kereta api.
Bagi Banyuwangi, langkah ini membuka peluang agar cita rasa lokal semakin dikenal oleh masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia. ***





