Tren Snackpacking, Menyusuri Jabodetabek Sambil Berburu Jajanan

Tren Snackpacking
Ilustrasi seorang wisatawan sedang berburu kuliner hingga gang-gang sempet. Tren ini disebut snackpacking yang sedang marak. (Dok.Turisian.com)

TURISIAN.com – Tren snackpacking. Inilah yang sekarang sedang marak. Dimana wisata tak selalu soal panorama. Kadang-kadang, kenikmatan perjalanan justru datang dari gang sempit. Pasar yang riuh, atau sepiring jajanan yang disantap sambil berdiri.

Di Jabodetabek, cara berwisata semacam itu menemukan bentuknya dalam tren snackpacking: berjalan menyusuri kawasan sembari mencicipi makanan yang ditemui sepanjang jalan.

Konsepnya sederhana. Tak ada kewajiban menghabiskan waktu berjam-jam di satu restoran.

Wisatawan berpindah dari satu penjaja makanan ke penjaja lain, mencicipi sedikit demi sedikit, sekaligus mengenali watak sebuah kawasan melalui makanannya.

Kementerian Pariwisata sebelumnya menyinggung tren snackpacking dalam keterangan resminya pada 15 Juli 2026.

Jajanan lokal ditempatkan bukan lagi sekadar pelengkap perjalanan, melainkan bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.

Di kawasan metropolitan yang nyaris tak pernah berhenti bergerak itu, sejumlah titik bisa menjadi rute berburu makanan. Pilihannya tersebar dari Jakarta hingga Depok.

Pasar Baru: Menyantap Jejak Lama Jakarta

Pasar Baru, Jakarta Pusat, bukan sekadar tempat orang berbelanja. Kawasan perdagangan yang telah berumur panjang itu menyimpan sejumlah kuliner yang juga melewati lintasan zaman.

Bakmi Gang Kelinci, Cakue Ko Atek, Bakmi Aboen, Bakso Metro, hingga Ketupat Gloria dapat menjadi titik pemberhentian dalam perjalanan snackpacking.

Jarak antarpenjual yang relatif berdekatan memungkinkan wisatawan mencicipi makanan sambil menyusuri kawasan.

Namun ada harga yang mesti dibayar: panas. Pepohonan di kawasan Pasar Baru tak banyak sehingga matahari siang mudah terasa menyengat.

Pam Pam menyarankan wisatawan datang pada pagi hari. Selain udara yang lebih bersahabat, sejumlah kuliner juga berpotensi habis lebih cepat ketika hari beranjak siang.

Jatinegara: Makan di Tengah Hiruk-pikuk

Jatinegara menawarkan lanskap yang berbeda. Kawasan perdagangan di Jakarta Timur ini lebih riuh, dengan pasar, toko, pedagang kaki lima, dan arus manusia yang terus bergerak.

Bagi penggemar snackpacking, keramaian justru menjadi bagian dari pengalaman. Tak perlu terpaku pada satu pasar. Kawasan Jatinegara secara keseluruhan dapat dijadikan rute untuk berjalan dan mencicipi makanan.

Bakmi Lorong dan Sate Keroncong bisa menjadi pilihan. Setelah itu, perjalanan dapat dilanjutkan dengan membeli roti di toko roti lawas Gelora.

Makanan di Jatinegara bukan sekadar tujuan akhir. Ia menjadi alasan untuk terus berjalan.

Pasar Lama Tangerang: Satu Jalur, Banyak Rasa

Bergeser ke Tangerang, Pasar Lama menawarkan pola snackpacking yang lebih mudah. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat kuliner Kota Tangerang.

Jajanan ringan, makanan berat, hingga kudapan yang cocok dibawa pulang berjejer dalam satu kawasan.

Beberapa pilihan yang bisa dicoba antara lain Sate Ayam Haji Ishak, Bakmi Kepiting Hokie, Bubur Ayam Ko Iyo, serta aneka sushi.

Waktu kedatangan turut menentukan pengalaman. Pagi hari lebih cocok untuk makan di tempat. Siang bisa menjadi waktu untuk membeli makanan dan membawanya pergi. Menjelang sore, dua pilihan itu sama-sama terbuka.

Di Pasar Lama, wisata kuliner tak membutuhkan peta yang rumit. Cukup berjalan mengikuti kerumunan dan aroma makanan.

Pasar Mayestik: Dari Kain ke Kudapan

Pasar Mayestik di Jakarta Selatan selama ini lebih dikenal sebagai tempat berburu kain dan kebutuhan tekstil. Namun di balik aktivitas perdagangan itu terdapat dunia kuliner yang tak kalah ramai.

Puluhan tempat makan dan penjaja jajanan tersebar di dalam pasar. Pilihannya beragam, dari kudapan tradisional, makanan rumahan, hingga makanan bercita rasa Barat.

Sebagian berada di lantai dasar. Pengunjung pun tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk berpindah dari satu penjual ke penjual lainnya.

Pasar Mayestik menunjukkan bahwa pengalaman snackpacking tak selalu membutuhkan kawasan yang sejak awal dirancang sebagai pusat kuliner. Pasar tradisional pun bisa menjadi arena berburu rasa.

Pondok Cina–Margonda: Dari Jajanan ke Kafe

Di Depok, perjalanan snackpacking dapat dimulai dari sekitar Stasiun Pondok Cina. Kawasan ini dipenuhi penjaja makanan dan camilan dengan pilihan harga yang relatif ramah kantong.

Dari sana, perjalanan dapat diteruskan menuju Margonda. Karakternya berubah. Jika Pondok Cina menawarkan jajanan yang lebih sederhana dan dekat dengan aktivitas warga, Margonda memberikan pilihan cafe hopping.

Kafe-kafe di sepanjang kawasan ini tak hanya menjual makanan dan minuman. Interior, suasana, dan tampilan tempat menjadi bagian dari pengalaman.

Wisatawan bisa berpindah dari satu kafe ke kafe lain sembari mencari makanan yang menarik.

Pada akhirnya, snackpacking menawarkan cara yang lebih santai untuk membaca sebuah kota. Tak perlu buru-buru mengejar destinasi utama.

Cukup berjalan, berhenti ketika mencium aroma makanan yang menggoda, mencicipi, lalu kembali melangkah.

Sebab, di kota sebesar Jabodetabek, cerita perjalanan kadang tidak ditemukan di tempat wisata. Ia bisa saja terselip di balik sepiring bakmi, sepotong cakue, semangkuk bubur, atau sepotong roti dari toko lama. ***

Pos terkait