TURISIAN.com – Sektor pariwisata belum kehilangan tenaga meski perekonomian dunia dibayangi ketidakpastian. Sepanjang enam bulan pertama 2026, jumlah pelancong asing yang datang ke Indonesia justru bertambah. Belanja mereka pun meningkat.
Staf Khusus Kementerian Pariwisata Apni Jaya Putra mengatakan perkembangan itu menjadi salah satu penanda bahwa aktivitas ekonomi nasional masih bergerak.
“Data yang dirilis Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor pariwisata Indonesia tetap tumbuh solid di tengah berbagai tantangan global,” kata Apni dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.
Badan Pusat Statistik mencatat 7,45 juta kunjungan pelancong asingĀ sepanjang semester I 2026. Angka itu tumbuh 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari dalam negeri, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta, naik 2,71 persen secara tahunan.
Ada angka lain yang menarik perhatian: pengeluaran wisatawan asing. Rata-rata turis menghabiskan US$1.313 dalam sekali kunjungan, meningkat 6,36 persen dibandingkan semester I 2025.
Bagi industri pariwisata, kenaikan belanja sama pentingnya dengan pertumbuhan jumlah pelancong.
Pusat Hiburan
Uang wisatawan tidak berhenti di pintu masuk destinasi. Ia mengalir ke hotel, restoran, angkutan, pusat hiburan, usaha kreatif, hingga usaha mikro dan kecil di daerah.
“Semakin besar pengeluaran wisatawan, semakin besar pula multiplier effect yang dirasakan masyarakat, terutama pelaku UMKM dan industri pariwisata di daerah,” ujar Apni.
Hotel ikut menangkap geliat tersebut. Tingkat hunian kamar pada semester I 2026 mencapai 48,2 persen. Setahun sebelumnya angkanya masih 45,72 persen.
Kenaikan okupansi menjadi salah satu petunjuk bahwa perjalanan masyarakat kembali menggeliat.
Namun angka itu juga menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih terbuka: lebih dari separuh kapasitas kamar hotel belum terisi.
Pariwisata juga berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Perekonomian Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,29 persen.
Di Bali dan Nusa Tenggara, kawasan yang selama ini bergantung kuat pada aktivitas wisata. Pertumbuhan ekonomi mencapai 6,1 persen berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Sektor Pendukung
Bagi pemerintah, angka-angka itu memperkuat posisi pariwisata sebagai sektor yang tidak sekadar mengisi waktu luang masyarakat.
Industri ini menciptakan permintaan terhadap transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, perdagangan, serta berbagai jasa lain.
“Capaian ini menunjukkan bahwa pariwisata bukan hanya menjadi sektor pendukung, tetapi telah menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Apni.
Pemerintah kini menghadapi pekerjaan berikutnya: menjaga pertumbuhan itu agar tidak berhenti sebagai statistik semesteran.
Daya saing destinasi, konektivitas, kualitas layanan, serta kemampuan pelaku usaha lokal menangkap belanja wisatawan akan menentukan seberapa besar manfaat pariwisata mengalir ke masyarakat.
Apni berharap pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, serta masyarakat memperkuat kerja sama.
Tujuannya bukan hanya mendatangkan lebih banyak wisatawan, melainkan membuat mereka tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang di destinasi.
“Momentum positif ini harus terus dijaga,” ujar Apni.
Ia berharap pariwisata semakin berdaya saing dan menjadi salah satu pilar menuju Indonesia Emas 2045. ***





