TURISIAN.com – Puluhan gim yang belum selesai justru mendapat panggung di Balai Kota Bandung. Selama dua hari, 7–8 Agustus 2026, pengunjung dapat memainkan 32 gim demo buatan pengembang lokal dalam Bandung Game Demo Day.
Gim-gim itu belum semuanya siap masuk pasar. Justru karena itulah pengunjung diberi kesempatan mencobanya.
Respons pemain menjadi bagian dari proses pengembangan sebelum para pembuatnya memutuskan sebuah gim layak dirilis.
Pemerintah Kota Bandung menggelar acara itu sebagai ruang temu antara pengembang, komunitas, akademisi, industri, dan pemerintah.
Di balik layar gim yang dimainkan, ada persoalan yang lebih besar: bagaimana melahirkan talenta sekaligus membangun ekosistem industri gim dari daerah.
Sementara itu Direktur Game Kementerian Ekonomi Kreatif Luat Sihombing mengatakan talenta industri gim tidak harus lahir dari kota-kota yang selama ini menjadi pusat industri kreatif.
Daerah, termasuk Bandung, memiliki potensi yang sama untuk melahirkannya.
“Talenta itu dimulai dari daerah,” kata Luat, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menurut dia, komunitas dan pemerintah kota memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem tersebut.
Ajang Pamer Karya
Jika dikelola secara berkelanjutan, kegiatan seperti Bandung Game Demo Day bukan sekadar ajang pamer karya.
Ia dapat menjadi pintu masuk bagi investasi, pembukaan lapangan kerja, hingga ekspor produk gim Indonesia.
Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa mengatakan para pengembang membutuhkan ruang untuk menunjukkan karya sekaligus menguji gagasan mereka di hadapan publik.
“Lewat forum seperti ini mereka bisa saling belajar dan mempersiapkan game yang akan segera dirilis,” ujar Adi.
Bagi pengembang yang belum memiliki produk jadi, bertemu langsung dengan pemain bisa menjadi kesempatan yang mahal nilainya.
Mereka dapat mengetahui bagian permainan yang menarik, membingungkan. Atau bahkan membuat pemain berhenti bermain.
Ketua Game Developer Bandung Michael Martin mengatakan sebanyak 32 gim yang dipamerkan masih berada dalam tahap demo.
Karena belum dirilis, para pembuatnya masih memiliki ruang untuk memperbaiki permainan berdasarkan masukan yang diterima.
“Harapannya, gim-gim ini bisa terus dikembangkan hingga rilis, melahirkan studio yang sukses, dan menambah talenta baru di Kota Bandung,” kata Michael.
Pembuat gim rumahan
Industri gim bukan hanya perkara membuat permainan yang bisa dimainkan. Ada rantai panjang yang harus dibangun: pengembang, studio, komunitas, kampus, investor, penerbit, hingga pasar.
Tanpa ekosistem itu, talenta mudah berhenti sebagai pembuat gim rumahan dan karya sulit berubah menjadi produk industri.
Bandung Game Demo Day mencoba mengisi celah tersebut. Pemerintah menyediakan ruang, komunitas menjadi penghubung.
Lalu, akademisi memasok pengetahuan, sedangkan pengembang membawa produk yang akan diuji publik.
Dari 32 gim demo itu, belum tentu semuanya menjadi produk sukses. Namun, di tengah persaingan industri gim global, kesempatan untuk mencoba, gagal, menerima kritik, lalu memperbaiki karya justru menjadi modal awal yang penting.
Bandung kini tidak sekadar ingin dikenal sebagai kota kreatif. Kota ini juga sedang menguji kemungkinan menjadi tempat lahirnya studio. Dan talenta gim yang mampu keluar dari pasar lokal dan bermain di panggung global. ***





