TURISIAN.com – Malioboro tak pernah sekadar jalan. Setiap hari, wisatawan datang dan pergi. Sementara pedagang, seniman, pelaku usaha, komunitas, dan warga menjalankan kehidupan mereka di ruang yang sama.
Keramaian itu membuat Malioboro tampak seperti panggung yang tak pernah menutup tirai.
Tetapi yang terlihat hanyalah permukaannya.
Di balik lalu-lalang manusia, Malioboro menyimpan pertemuan panjang antara sejarah, perdagangan, seni, kuliner, kreativitas, dan kebudayaan.
Identitas Yogyakarta tumbuh di ruang kota itu, bukan hanya melalui bangunan dan jalan, melainkan juga lewat orang-orang yang menghidupinya.
Malioboro juga berada dalam bentang Sumbu Kosmologis Yogyakarta yang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia UNESCO pada 2023.
Keraton Yogyakarta
Sumbu ini membujur dari Gunung Merapi di utara, melintasi Keraton Yogyakarta, hingga Laut Selatan.
Di dalamnya tersimpan gagasan mengenai hubungan manusia, alam, dan kehidupan yang diwariskan lintas generasi.
Masalahnya, kota tak pernah berhenti berubah.
Teknologi mengubah cara orang mencari informasi. Media sosial mengubah cara wisatawan mengenali sebuah tempat.
Destinasi pun dituntut tampil lebih cepat, lebih menarik, dan lebih mudah dibagikan.
Dalam perubahan seperti itu, menjaga Malioboro bukan hanya soal mempertahankan jumlah wisatawan.
Ada pekerjaan yang lebih sunyi: menjaga ceritanya agar tidak hilang.
Ketika Kawasan Budaya Hanya Menjadi Latar Foto
Sementara itu wisatawan bisa datang ke Malioboro tanpa pernah mengetahui siapa yang membuat kawasan itu hidup.
Mereka dapat berjalan di trotoar, berbelanja, menikmati kuliner, menyaksikan pertunjukan, lalu pulang membawa foto.
Tetapi cerita tentang pedagang yang bertahun-tahun menggantungkan hidup di sana, seniman yang mempertahankan kesenian.’
Atau bangunan yang menyimpan sejarah bisa saja tak pernah sampai kepada mereka.
Di sinilah informasi memperoleh peran penting.
Cerita tentang Malioboro perlu terus dicari, diperiksa, dan disampaikan. Bukan sekadar untuk memenuhi ruang pemberitaan.
Melainkan untuk menjaga hubungan antara sebuah kawasan dengan ingatan masyarakatnya.
Kekuatan KIM
Sedangkan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kota Yogyakarta berada di salah satu titik penting dalam proses itu.
Ketua KIM Kota Yogyakarta Totok Yudianto mengatakan kekuatan KIM terletak pada kedekatannya dengan masyarakat.
Dari lingkungan itulah berbagai cerita dapat ditemukan: perjalanan pedagang, aktivitas UMKM, kehidupan seniman.
Termasuk, komunitas budaya, sejarah bangunan, kuliner, hingga perubahan wajah Malioboro.
Cerita tersebut mungkin kecil jika dilihat sendiri-sendiri. Namun jika dikumpulkan, ia menjadi semacam arsip sosial tentang sebuah kota.
Malioboro tidak hanya dibentuk oleh gedung dan jalan. Karakternya juga lahir dari manusia yang setiap hari mengisinya.
Informasi sebagai Penyangga Pariwisata
Ketahanan pariwisata kerap diukur melalui angka kunjungan, tingkat hunian hotel, lama tinggal wisatawan, atau perputaran ekonomi.
Ukuran itu penting, tetapi bukan satu-satunya.
Ada ketahanan lain yang lebih sulit dihitung: kemampuan sebuah destinasi mempertahankan identitas ketika zaman berubah.
Malioboro menghadapi persoalan tersebut.
Sebagai bagian dari ruang budaya Yogyakarta, kawasan ini memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada tren wisata yang datang silih berganti.
Karena itu, wisatawan membutuhkan lebih dari sekadar informasi mengenai tempat makan, pusat belanja, atau lokasi berfoto.
Mereka juga perlu mengetahui mengapa kawasan itu penting.
KIM dapat mengisi ruang tersebut melalui tulisan, foto, video, wawancara, dan dokumentasi.
Cerita mengenai pedagang kecil, seniman, kerajinan lokal, makanan tradisional, sejarah kawasan. Sampai etika menggunakan ruang publik dapat dikemas dalam bahasa yang dekat dengan masyarakat.
Dengan begitu, pengalaman wisata tidak berhenti pada melihat. Wisatawan diajak memahami.
Menjadi Penghubung
KIM juga memiliki fungsi lain: menjadi penghubung antara masyarakat dan pemangku kepentingan.
Dari masyarakat, KIM dapat menyerap cerita, kebutuhan, aspirasi, dan persoalan yang muncul di lapangan.
Pedagang, warga, pelaku UMKM, komunitas budaya, dan kelompok masyarakat lainnya memiliki pengalaman yang berbeda mengenai Malioboro.
Cerita itu penting bagi pengelola kawasan.
Sebaliknya, berbagai program pemerintah, kegiatan budaya, layanan pariwisata. Serta perubahan kebijakan perlu diterjemahkan ke dalam informasi yang mudah dipahami masyarakat.
Komunikasi tidak lagi berjalan satu arah.
KIM dapat menjadi semacam jembatan informasi antara kebijakan dan kehidupan sehari-hari warga.
Jangan Sampai Ingatan Kalah oleh Perubahan
Sumbu Kosmologis Yogyakarta bukan hanya garis yang menghubungkan sejumlah tempat.
Di dalamnya terdapat simbol, gagasan, tradisi, dan nilai kehidupan yang membentuk cara masyarakat Yogyakarta memandang ruang dan lingkungannya.
Perubahan kota tentu tidak bisa dihentikan.
Yang dapat dilakukan adalah memastikan perubahan tidak memutus ingatan.
Dokumentasi menjadi salah satu caranya. Cerita masyarakat, kegiatan budaya, perubahan kawasan, hingga berbagai peristiwa yang berlangsung di Malioboro dapat direkam dan disimpan sebagai jejak bagi generasi berikutnya.
Sebab ingatan budaya bisa hilang bukan hanya karena bangunan diruntuhkan. Ia juga dapat lenyap ketika cerita tentangnya berhenti disampaikan.
Malioboro pada akhirnya adalah ruang belajar yang terbuka.
Di sana tradisi bertemu ekonomi, kreativitas bertemu kehidupan sehari-hari, dan wisatawan bertemu masyarakat.
Pengakuan UNESCO
Setiap kegiatan budaya membawa cerita. Informasi sebelum acara, dokumentasi ketika kegiatan berlangsung.
Dan cerita setelahnya merupakan bagian dari upaya menjaga cerita itu tetap hidup.
Pengakuan UNESCO terhadap Sumbu Kosmologis Yogyakarta membawa kebanggaan sekaligus tanggung jawab.
Malioboro tetap harus berkembang sebagai ruang ekonomi dan destinasi wisata.
Namun pertumbuhan itu tidak semestinya membuat akar budayanya tertutup oleh gemerlap kawasan.
KIM dapat mengambil bagian melalui literasi budaya. Yakni, menyajikan informasi yang akurat, mudah diakses, kreatif, dan berpijak pada kehidupan masyarakat.
Pekerjaan menjaga Malioboro memang bukan milik satu pihak.
Pemerintah memiliki kebijakan. Pelaku wisata menggerakkan ekonomi. Komunitas merawat kebudayaan. UMKM menghidupkan perdagangan.
Media menyebarkan informasi. Masyarakat menjaga ruang hidupnya.
Tetap Dirawat
Di antara semua itu, cerita menjadi pengikatnya.
Totok Yudianto menekankan pentingnya suara masyarakat dalam membicarakan masa depan Malioboro.
Sebab kawasan itu bukan hanya milik mereka yang datang sebagai wisatawan, tetapi juga milik mereka yang setiap hari hidup di dalam denyutnya.
Malioboro boleh berubah. Teknologinya boleh berganti. Wajah kotanya boleh diperbarui. Pola kunjungan wisatawan pun bisa berubah.
Tetapi selama cerita masyarakat tetap dirawat, perubahan itu tidak harus berarti kehilangan identitas.
Sebab yang membuat Malioboro bertahan bukan semata-mata jumlah kaki yang melintasi jalannya.
Melainkan cerita yang tetap hidup di antara langkah-langkah datang dan pergi. ***





