Henry Husada dan Adhitia Yudisthira Bicara Kawasan Industri Pariwisata Kota Cimahi

Kawasan Industri
Gedung Sudirman merupakan salah satu bangunan yang masih ada. Di bangun saat pendudukan Hindia Belanda pada 4 September 1896. (Dok.Pemkot Cimahi)

TURISIAN.com — Kota Cimahi selama ini lebih dikenal sebagai kawasan industri dan kota penyangga Bandung. Namun, citra itu hendak diperluas.

Pariwisata, ekonomi kreatif, dan usaha mikro, kecil, dan menengah mulai dilirik sebagai mesin baru untuk menggerakkan ekonomi kota.

Gagasan itu mengemuka dalam diskusi hangat antara tokoh pariwisata Jawa Barat, Henry Husada, dan Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira, baru-baru ini.

Keduanya membicarakan berbagai kemungkinan untuk menjadikan Cimahi sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Barat.

Bukan dengan meniru kota lain, melainkan dengan mengolah potensi yang sudah dimiliki Cimahi.

Bagi Henry, keterbatasan wilayah bukan alasan untuk mengubur ambisi tersebut. Justru dari keterbatasan itu, pemerintah kota dituntut menemukan konsep destinasi yang kreatif dan mampu memberi ruang bagi masyarakat.

“Pak Adhitia memiliki pandangan yang sangat luas, bagaimana menghadirkan sentra ekonomi dengan memanfaatkan potensi industri kreatif yang saat ini dimiliki Cimahi,” kata Henry.

Menurut dia, pengembangan destinasi wisata semestinya tidak berhenti pada pembangunan objek atau kawasan wisata.

Yang lebih penting adalah menciptakan pergerakan ekonomi di sekitarnya. Pelaku UMKM, pekerja kreatif, pengusaha kuliner, hingga komunitas lokal harus menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Dengan begitu, wisatawan tidak hanya datang, berfoto, lalu pulang. Mereka juga membelanjakan uangnya untuk produk lokal.

Termasuk, menikmati kuliner, menggunakan jasa masyarakat, dan membawa pulang produk ekonomi kreatif Cimahi.

Henry menilai kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk mempercepat transformasi tersebut.

“Kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk mempercepat Kota Cimahi sebagai salah satu tujuan wisata favorit,” ujarnya.

Tokoh Pariwisata Henry Husada bersama Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira foto bersama usai melakukan diskusi pariwisata, baru-baru ini. (Foto: Ist)

Mengolah Keterbatasan Menjadi Kekuatan

Sementara itu Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia melihat persoalan Cimahi dari sudut yang berbeda. Kota dengan luas wilayah yang relatif terbatas tidak mungkin mengembangkan pariwisata dengan pola konvensional.

Dimana hanya  mengandalkan hamparan kawasan wisata. Karena itu, kreativitas menjadi modal penting.

Ia menekankan bahwa keterbatasan ruang justru harus mendorong Cimahi mengembangkan pariwisata yang inovatif, berbasis kolaborasi. Serta terintegrasi dengan potensi ekonomi kreatif masyarakat.

Adhitia juga telah merumuskan roadmap lima tahun untuk mengoptimalkan sektor pariwisata Cimahi.

“Rencana tersebut bertumpu pada pengembangan tiga koridor strategis yang diarahkan untuk menghubungkan potensi wisata. Termasuk, ekonomi kreatif, pusat aktivitas masyarakat. Serta sentra ekonomi di Kota Cimahi,” paparnya.

Konsep itu membuka peluang bagi Cimahi untuk tidak sekadar menjadi kawasan industri  yang dilewati wisatawan menuju Bandung atau kawasan wisata di Bandung Barat.

Cimahi justru dapat menjadi bagian dari perjalanan wisata itu sendiri.

Tantangannya adalah bagaimana membuat wisatawan memiliki alasan untuk berhenti.

Di sinilah industri kreatif, kuliner, UMKM, ruang publik, kegiatan komunitas, hingga agenda seni dan budaya dapat memainkan peran.

Sedangkan berbagai potensi tersebut bisa dirangkai menjadi pengalaman wisata yang khas. Dan tidak mudah ditemukan di daerah lain.

Bagi Henry, gagasan tersebut perlu diterjemahkan dalam bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat.

Cimahi tidak harus memiliki gunung, pantai, atau kawasan wisata alam yang luas untuk menjadi tujuan wisata.

Kota ini bisa menjual sesuatu yang berbeda: kreativitas warganya.

Jika konsep itu berjalan, pariwisata tidak lagi berdiri sebagai sektor yang terpisah.

Ia menjadi kendaraan untuk menggerakkan UMKM, industri kreatif, kuliner, jasa, dan berbagai usaha masyarakat secara bersamaan.

Cimahi pun berpeluang mengubah wajahnya: dari sekadar kota industri menjadi kota dengan denyut ekonomi kreatif dan pariwisata yang hidup. ***

Pos terkait