Benjang, Gulat dari Ujungberung yang Bertahan Lebih dari Seabad

Ujungberung
Benjang, kesenian tradisional yang berkembang sejak akhir abad ke-19, kini masih eksis di Kota Bandung. (Dok.Pemkot Bandung)

TURISIAN.com – Suara kendang dan terompet memecah suasana kampung di Ujungberung, Bandung Timur. Di tengah kerumunan, dua lelaki bersiap berhadapan.

Tubuh mereka nyaris tanpa pelindung. Hanya celana pendek yang dikenakan. Mereka saling mengukur tenaga, mencari celah untuk menjatuhkan lawan.

Adegan itu bukan smackdown. Bukan pula pertunjukan gulat ala televisi. Ini benjang, kesenian tradisional yang tumbuh dan bertahan di kawasan Ujungberung, Bandung.

Benjang adalah percampuran yang ganjil sekaligus menarik: bela diri, musik, tari, dan tradisi masyarakat.

Usianya pun tak pendek. Kesenian ini dipercaya telah berkembang sejak akhir abad ke-19 di kawasan kaki Gunung Manglayang.

Asal-usul namanya masih berupa cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu versi menyebut benjang berasal dari istilah sasamben budak bujang.

Artinya kurang lebih tempat berkumpul para pemuda—bujang—di atas amben atau bale-bale.

Dari tempat berkumpul itulah kegiatan para pemuda berkembang. Gerak tubuh, latihan ketangkasan, dan hiburan kemudian berkelindan menjadi pertunjukan yang memiliki aturan sendiri.

Benjang juga menyimpan jejak sejarah yang lebih rumit. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, latihan pencak silat dibatasi. Masyarakat kemudian menyelipkan unsur seni dan musik dalam aktivitas mereka.

Bentuknya menjadi hiburan rakyat, tetapi latihan fisik tetap berlangsung di dalamnya.

Dengan cara itu, benjang bukan sekadar tontonan. Ia pernah menjadi ruang untuk menjaga kemampuan bela diri sekaligus merawat kebersamaan masyarakat.

Dari Gelut hingga Topeng

Sementara itu dalam perkembangannya, benjang memiliki tiga bentuk utama. Ketiganya dapat muncul dalam satu rangkaian pertunjukan.

Yang paling dikenal adalah benjang gelut. Kata gelut berarti bergulat. Di sinilah unsur pertarungan menjadi pusat pertunjukan.

Sebelum pertandingan dimulai, para pebenjang melepaskan pakaian bagian atas dan hanya mengenakan celana pendek.

Selain menjadi bagian dari tata cara pertunjukan, hal itu menegaskan bahwa mereka tidak membawa senjata.

Pertarungan berlangsung dengan aturan tertentu. Tujuannya bukan semata-mata menjatuhkan lawan, melainkan menunjukkan kekuatan, ketangkasan, keberanian, dan sportivitas.

Yang membedakan benjang gelut dari pertandingan gulat modern adalah musik pengiringnya. Terebang, kendang, kecrek, dan terompet mengiringi gerakan para pebenjang.

Pengeras Suara

Ketegangan pertarungan bercampur dengan riuh bunyi-bunyian tradisional.

Jika benjang gelut adalah inti pertarungan, benjang helaran menjadi pembukanya.

Helaran berupa arak-arakan keliling kampung yang umumnya digelar pada siang hari. Fungsinya antara lain memberi tahu warga bahwa pada malam hari akan berlangsung benjang gelut.

Dulu, pemberitahuan semacam itu tidak membutuhkan pengeras suara, poster, apalagi media sosial.

Sedangkan bunyi musik dan rombongan yang bergerak dari kampung ke kampung sudah cukup menjadi pengumuman.

Adapun benjang topeng muncul belakangan. Bentuk ini berkembang sekitar 1941 dan memasukkan unsur tari serta penggunaan topeng.

Gerak tubuh yang semula dominan dalam konteks bela diri kemudian mendapatkan dimensi artistik yang lebih kuat.

Tiga bentuk tersebut membuat benjang sulit ditempatkan hanya sebagai olahraga, seni pertunjukan, atau hiburan rakyat. Ia berada di antara semuanya.

Tradisi di Tengah Hajatan

Bagi sebagian masyarakat Ujungberung dan kawasan sekitarnya, benjang tidak berdiri sebagai pertunjukan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari.

Kesenian itu lekat dengan hajatan, terutama pesta khitanan. Gelaran benjang menjadi bagian dari ungkapan syukur sekaligus kesempatan mempertemukan warga.

Di sana, pertunjukan bukan hanya milik pemain. Penonton, keluarga yang punya hajat, tetangga, dan warga kampung ikut menjadi bagian dari peristiwa tersebut.

Benjang akhirnya menjalankan fungsi sosial yang lebih besar daripada sekadar hiburan. Ia menjadi ruang perjumpaan. Anak-anak menonton.

Orang tua berbincang. Para pemuda bermain. Musik mengikat semuanya dalam satu keramaian.

Tradisi semacam ini kini menghadapi persoalan yang sama dengan banyak kesenian lokal lain: perubahan zaman.

Hiburan berpindah ke layar telepon. Anak-anak lebih mengenal tokoh gulat dari televisi dan internet ketimbang nama pebenjang di kampungnya sendiri.

Ruang pertunjukan tradisional pun harus bersaing dengan berbagai bentuk hiburan yang datang tanpa mengenal batas geografis.

Namun benjang belum menyerah.

Bertahan di Era TikTok

Perubahan teknologi justru mulai dimanfaatkan untuk memperkenalkan benjang kepada khalayak yang lebih luas. Potongan pertandingan, musik pengiring, hingga gerakan tari beredar melalui media sosial.

Di tangan generasi baru, benjang tidak lagi hanya dimainkan di halaman rumah atau panggung hajatan. Ia masuk ke ruang digital.

Upaya pelestarian juga dilakukan melalui organisasi. Persatuan Benjang Indonesia Jawa Barat menjadi salah satu wadah yang menaungi pelaku dan pemerhati benjang.

Anggotanya tersebar di sejumlah daerah, termasuk Cimahi dan Sumedang.

Tantangannya tetap sama: bagaimana membuat generasi muda tidak hanya mengenal benjang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi melihatnya sebagai bagian dari kebudayaan yang masih hidup.

Sebab benjang bukan benda museum.

Ia bergerak. Ia dipertandingkan. Musiknya dimainkan. Tubuh para pebenjang masih beradu di tengah lingkaran penonton.

Dan setiap kali kendang serta terompet berbunyi di kampung-kampung Bandung Timur, sebuah tradisi yang berusia lebih dari seabad kembali menemukan panggungnya.

Bandung selama ini dikenal lewat kafe, kuliner, dan tempat wisata yang mudah ditemukan di media sosial. Tetapi di balik itu ada Ujungberung dengan cerita yang jauh lebih tua.

Benjang mengingatkan bahwa identitas sebuah kota tidak selalu lahir dari sesuatu yang baru.

Kadang-kadang, ia justru bertahan karena masyarakatnya belum bersedia melupakan sesuatu yang lama. ***

Pos terkait