TURISIAN.com – Pagi itu, Bumi Sangkuriang di Jalan Kiputih, Ciumbuleuit, Bandung, tak seperti biasanya. Sebuah event Jambore Gempita sedang digelar.
Anak-anak sekolah dasar memenuhi kawasan tersebut. Ada yang sibuk mewarnai, bermain, membaca buku, hingga mencoba permainan berbasis teknologi.
Suasana lebih menyerupai arena bermain ketimbang ruang belajar.
Di tengah keramaian itu, 216 anak membentangkan kuas di atas kain sepanjang 21,6 meter.
Mereka mewarnainya bersama-sama sebagai bagian dari Jambore Gempita 2026, Jumat, 18 September 2026.
Kegiatan yang digelar Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung itu menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Bandung ke-216.
Tema “Baca, Berkarya, Berdaya” coba diterjemahkan melalui aktivitas yang membuat literasi terasa lebih dekat dengan dunia anak.
Selain mewarnai, ada lomba bertutur dan resensi buku. Termasuk, bedah buku, bazar buku, permainan interaktif, perpustakaan keliling, hingga peluncuran Titik Baca.
Telkom University ikut membawa BERAKSI Digital Safety Corner. Anak-anak diajak mengenal keamanan digital melalui permainan berbasis virtual reality dan kecerdasan buatan.
Guru dan orang tua juga mendapat ruang konsultasi bersama psikolog.
Sementara itu Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Bandung Asep Cucu Cahyadi mengatakan literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis.
Membedakan fakta dari kebohongan
Di tengah derasnya informasi, masyarakat perlu mampu memahami informasi, berpikir kritis, dan membedakan fakta dari kebohongan.
“Dari membaca lahir pengetahuan, dari pengetahuan lahir karya yang berdaya dan memberi manfaat bagi sesama,” kata Asep.
Sedangkan Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari mengatakan Jambore Gempita menjadi ruang bagi anak dan pelajar menunjukkan kemampuan.
Serta kreativitas melalui berbagai perlombaan sejak Juli 2026.
Pemkot Bandung juga memperluas akses bacaan melalui Titik Baca di Posyandu dan ruang pelayanan publik, serta MACA untuk mengakses buku secara digital.
Hari itu, perpustakaan tidak hadir sebagai ruang sunyi yang dipenuhi rak.
Di Bumi Sangkuriang, literasi dibuat lebih ramai. Dibaca, dimainkan, digambar, diperdebatkan, lalu diubah menjadi karya. ***





