Alun-alun Wates Kembali Bergairah Lewat Alwa GERR Nostalgia

Alun-alun Wates
Suasana warga sedang menikmati petang hari di Alun-alun Wates. (Turisian.com/AI)

TURISIAN.com – Alun-alun Wates pernah menjadi ruang yang kembali hidup setiap Sabtu malam. Di tengah panggung hiburan warga berkumpul menikmati suasana yang sempat lama menghilang.

Ada pertunjukan seni, olahraga, hingga deretan lapak UMKM yang membuat denyut itu hendak dihidupkan kembali.

Ya, Dinas Pariwisata (Dispar) Kulon Progo berencana mengaktifkan lagi Alwa GERR (Gelaran Ruang Rupa-rupa) Nostalgia yang beberapa waktu terakhir vakum.

Program tersebut tidak sekadar dimaksudkan menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Tetapi juga menjadi bagian dari perubahan arah kebijakan pariwisata Kulon Progo.

Dimana, saat ini mulai meninggalkan orientasi mengejar jumlah wisatawan menuju pariwisata berkualitas atau quality tourism.

Sementaara itu Kepala Dispar Kulon Progo Sutarman mengatakan, penyelenggaraan Alwa GERR Nostalgia akan dilakukan melalui kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) Kulon Progo.

Berbagai kegiatan hiburan dijadwalkan kembali hadir setiap malam Minggu di Alun-alun Wates.

Menurut Sutarman, berhentinya penyelenggaraan Alwa GERR bukan semata karena satu faktor.

Cuaca yang kurang bersahabat, terutama saat musim hujan, serta padatnya agenda kegiatan pemerintah daerah membuat pelaksanaan acara harus ditunda.

“Banyaknya kegiatan yang dilaksanakan membuat harus ada penyesuaian,” ujar Sutarman.

Alwa GERR Nostalgia pertama kali digelar pada Juni 2025 atas gagasan Bupati Kulon Progo Agung Setyawan ketika Dinas Pariwisata masih dipimpin Joko Mursito.

Konsepnya sederhana, menghidupkan kembali ruang publik melalui pertunjukan budaya, kegiatan olahraga. Serta memberi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menjajakan produknya.

BACA JUGA: FlyJaya Mengudara, Menyambung Nusantara dari Halim ke Bandara Adisutjipto

Pasar Klithikan

Hasilnya cukup terasa. Alun-alun Wates yang biasanya lengang pada malam akhir pekan berubah menjadi titik keramaian baru.

Aktivitas masyarakat meningkat, sementara pedagang kecil menikmati bertambahnya pembeli.

“UMKM di sekitar Alun-alun Wates juga menjadi lebih laris sejak adanya kegiatan tersebut,” kata Sutarman.

Dispar juga menyiapkan sejumlah agenda pendukung agar kawasan itu semakin hidup. Pasar Klithikan akan kembali digelar.

Sementara Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) tingkat kabupaten akan dilibatkan untuk menyelenggarakan berbagai kompetisi olahraga, termasuk bola voli dan bola basket.

Bupati Kulon Progo Agung Setyawan mengatakan vakumnya Alwa GERR Nostalgia tidak lepas dari kendala musim hujan yang membuat kegiatan di ruang terbuka sulit dilaksanakan.

Kini, ia telah meminta Dispar kembali menghidupkan program tersebut agar ruang publik kembali menjadi tempat berkumpul masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi warga.

“Kegiatan ini terutama terbuka bagi pelaku UMKM agar bisa memberikan kesejahteraan bagi mereka,” ujar Agung.

Di balik rencana menghidupkan kembali Alwa GERR, Dispar Kulon Progo tengah menyiapkan perubahan yang lebih mendasar dalam pembangunan sektor pariwisata.

Menuju quality tourism

Pemerintah daerah mulai menggeser orientasi dari pariwisata massal menuju quality tourism. Yakni pengembangan destinasi yang mengutamakan kualitas pengalaman wisatawan tanpa mengorbankan daya dukung lingkungan.

Menurut Sutarman, pendekatan tersebut sejalan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang menjadi pedoman pengembangan destinasi di Kulon Progo.

Pemerintah tidak ingin kawasan-kawasan sensitif, terutama pesisir selatan, dibebani aktivitas wisata dalam skala besar.

Sebagai gantinya, pengembangan akan diarahkan ke kawasan Pegunungan Menoreh yang dinilai memiliki potensi sebagai destinasi wellness tourism dan education tourism.

Kawasan itu dianggap lebih sesuai untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih berkualitas sekaligus menjaga kelestarian alam.

Melalui strategi tersebut, Dispar berharap pariwisata tidak lagi hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang.

Aktivasi ruang publik seperti Alwa GERR Nostalgia dan pengembangan destinasi berbasis keberlanjutan diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata.

Khususnya, bagi masyarakat lokal tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. ***

Pos terkait