Menikmati Semangkuk Soto Bandung Lejen, Menjaga Rasa Sejak 1953

Semangkuk Soto
Soto Lejen di Jalan Pandu Nomor 14, Pamoyanan, Kota Bandung ini memiliki citra rasa yang tinggi. (Dok.Pemkot Bandung)

TURISIAN.com – Semangkuk soto tampak sederhana: kuah bening, irisan lobak, potongan daging, daun bawang, dan seledri.

Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan perjalanan panjang resep yang telah bertahan lebih dari tujuh dekade.

Di Jalan Pandu Nomor 14, Pamoyanan, Kota Bandung, aroma kuah soto yang gurih menyambut pengunjung sejak pagi.

Di tempat inilah Soto Bandung Lejen mempertahankan resep Soto Bandung yang disebut telah diwariskan sejak 1953.

Bagi pemilik Soto Bandung Lejen, Sony Jaka Yusuf, menjaga cita rasa bukan sekadar mempertahankan menu. Ia tengah merawat warisan keluarga yang telah melewati tiga generasi.

“Dari pemilihan material, pemilihan bumbu, pemilihan daging, sampai pengolahannya, dari dulu sampai sekarang itu sama,” ujar Sony saat ditemui di kedai Soto Bandung Lejen, baru-baru ini.

Perubahan zaman memang tak terhindarkan. Dulu, soto dimasak menggunakan kayu bakar. Kini gas menjadi pilihan yang lebih praktis.

Menurut Sony, pergantian bahan bakar sedikit mengubah aroma masakan. Namun, karakter rasa yang menjadi identitas Soto Bandung tetap dipertahankan.

“Dulu aromanya lebih tradisional karena pakai kayu bakar. Kalau sekarang sudah pakai gas, pasti ada beda aroma. Tapi cita rasanya tetap ada,” katanya.

Warisan Tiga Generasi

Jejak Soto Lejen bermula dari generasi pertama keluarga Sony. Salah satu sosok yang disebut berperan penting dalam sejarahnya adalah M. Tarya, kakek Sony.

Sony menyebut M. Tarya sebagai salah satu pelopor Soto Bandung berbahan lobak. Pada era 1950-an, keluarganya telah berjualan soto di kawasan Jalan Tamim, yang kala itu dikenal sebagai Jalan Raya Barat.

Sejarah keluarga tersebut juga bersinggungan dengan Soto Ojolali di Jalan Cibadak.

Menurut Sony, M. Tarya dan pengelola Soto Ojolali merupakan saudara.

“Kalau tahun 1970-an, yang saya tahu Soto Bandung itu hanya ada dua, Soto Ojolali dan Soto M. Tarya. Mereka adik kakak,” tuturnya.

Tradisi itu kemudian diteruskan ke generasi berikutnya. Setelah sempat berhenti berjualan, ibu Sony kembali membuka usaha Soto Bandung pada 1989 di Jalan Muhammad Ramdan Nomor 85.

Dari sana, usaha keluarga tersebut terus berkembang hingga kini menetap di Jalan Pandu Nomor 14. Sony menjadi generasi ketiga yang meneruskan usaha tersebut.

Dalam pengelolaan sehari-hari, ia dibantu sang istri, sementara Sony menangani manajemen dan pengembangan usaha.

Nama “Lejen” lahir pada generasi berikutnya. Menurut Sony, nama itu dibuat oleh anaknya, terinspirasi dari kata “legenda”.

Nama tersebut menjadi simbol keyakinan keluarga bahwa Soto Bandung yang mereka sajikan merupakan bagian dari perjalanan panjang kuliner Bandung.

Dari Soto hingga Nasi Bejek

Di Soto Bandung Lejen, pelanggan dapat memilih sejumlah varian. Salah satu cirinya adalah penggunaan daging tanpa lemak.

Namun, mengikuti perubahan selera pelanggan, Soto Lejen kini juga menawarkan Soto Bandung Iga yang memiliki tekstur dan sensasi lemak berbeda.

“Kalau dulu dagingnya non-fat, tidak ada lemaknya. Sekarang kami juga menyediakan Soto Bandung Iga,” ujar Sony.

Pelengkapnya tetap mempertahankan karakter Soto Bandung. Ada usus, paru, babat, gepuk atau empal, hingga perkedel.

“Kalau soto Bandung itu pakemnya memang jeroan seperti usus, babat, paru, kemudian gepuk. Ada juga perkedel atau tahu tempe,” katanya.

Menu lain yang cukup khas adalah nasi bejek. Nasi dicampur sambal, lalu disajikan bersama pilihan lauk seperti ayam, usus, babat, paru, atau gepuk.

Ada pula “jeroan party”, campuran usus, paru, dan babat.

Meski pilihan menunya beragam, soto tetap menjadi hidangan yang paling banyak dipesan. Dari sekitar 10 porsi yang terjual, rata-rata tujuh merupakan soto, sementara tiga lainnya nasi bejek.

Harganya berkisar dari Rp25 ribu untuk paket hemat hingga sekitar Rp47 ribu untuk Soto Iga.

Pelanggan yang Datang Bersama Ingatan

Ada bagian lain yang menarik dari perjalanan Soto Lejen: pelanggan yang datang bukan sekadar untuk makan.

Sebagian telah menjadikan soto sebagai bagian dari tradisi keluarga.

Sony menyebut sekitar 80 persen pelanggan lama Soto Lejen merupakan masyarakat keturunan Tionghoa.

Sebagian datang secara turun-temurun, dari generasi kakek, orang tua, hingga cucu.

“Dari dulu kami itu sekitar 80 persen konsumennya Tionghoa. Mereka turun-temurun, dari kakeknya sampai cucunya,” ungkapnya.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ia melihat perubahan. Anak-anak muda mulai semakin akrab dengan Soto Bandung.

Jika dulu soto cenderung kurang menjadi pilihan generasi muda, kini makanan tradisional itu mulai kembali digemari.

Soto Lejen buka setiap hari, pukul 09.00 WIB hingga makanan habis. Pemilik tidak menetapkan target penjualan harian yang kaku.

Jika seluruh porsi yang disiapkan habis lebih cepat, kedai pun tutup.

“Kalau targetnya misalkan 100 porsi dan jam 5 sudah habis, ya sudah tutup,” kata Sony.

Kedai itu juga menerima kegiatan seperti gathering dan meeting. Lokasinya yang relatif mudah diakses dari jalan tol membuat Soto Lejen menjadi salah satu tujuan kuliner bagi wisatawan dari luar Bandung.

Pada akhir pekan, sekitar 80 persen pelanggan disebut berasal dari luar kota. Jakarta menjadi salah satu daerah asal pelanggan yang cukup dominan.

Sebagian menemukan Soto Lejen melalui mesin pencarian dan ulasan di internet. Sebagian lainnya datang kembali sebagai pelanggan lama.

Dari Belanda hingga Bandung

Soto Lejen rupanya juga menarik wisatawan mancanegara.

Keberadaan kawasan Kerkhof atau pemakaman Belanda di sekitar lokasi ikut mempertemukan kedai tersebut dengan wisatawan asing.

Sony mengatakan rombongan asal Belanda cukup rutin datang.

“Belanda itu rutin. Sebulan bisa tiga kali ada grup ke sini,” ujarnya.

Wisatawan dari Prancis, Italia, dan negara lainnya juga pernah mencicipi semangkuk Soto Bandung di tempat tersebut.

Bagi Sony, pengalaman itu menjadi cerita tersendiri. Ia pernah tinggal di Belanda dan mengetahui bahwa pada masa lalu sebagian orang asing cenderung kurang tertarik pada makanan dengan karakter cita rasa Tionghoa.

Namun, selera berubah. Kini wisatawan mancanegara justru menjadikan Soto Bandung sebagai bagian dari pengalaman kuliner ketika berkunjung ke Bandung.

Seorang YouTuber bernama Giovanni juga disebut pernah datang dan membuat konten mengenai Soto Bandung.

Dari Bandung untuk Dunia

Lebih dari 70 tahun perjalanan Soto Lejen membuat Sony melihat peluang yang lebih besar. Baginya, kuliner lokal bisa menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan Bandung kepada dunia.

“Kalau saya pikir bisa mendunia. Tinggal bagaimana cita rasa yang diutamakan,” ujarnya.

Ia melihat masyarakat Tionghoa sebagai salah satu pasar potensial karena memiliki perhatian kuat terhadap rasa dan kualitas makanan.

“Kalau orang Tionghoa itu dengan rasa sangat sensitif. Mereka kalau ke sini betul-betul mau makan dan menikmati,” katanya.

Bagi Sony, kuliner bukan sekadar perkara mengisi perut. Di dalam semangkuk soto terdapat sejarah, perjumpaan budaya, perjalanan keluarga, sekaligus identitas sebuah kota.

Soto Bandung sendiri memiliki karakter yang berbeda dari banyak jenis soto di Indonesia. Kuahnya ringan, berpadu dengan lobak dan daging.

Di Soto Bandung Lejen, resep yang disebut diwariskan sejak 1953 itu terus dijaga. Kayu bakar telah berganti gas. Generasi berganti. Selera pelanggan ikut berubah.

Namun, satu hal tetap dipertahankan: rasa yang menjadi warisan keluarga yang ada di semangkuk soto Lejen Bandung. ***

Pos terkait