TURISIAN.com – Tak seperti biasanya, Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung, Jumat pagi, 14 Agustus 2026, cukup ramai.
Sebuah pesawat Boeing 737-800 milik Garuda Indonesia kembali menyentuh landasan bandara yang sempat kehilangan lalu lintas pesawat jet komersial.
Pesawat itu datang dari Denpasar, Bali. Setelah mendarat di Bandung, pesawat kembali terbang menuju Denpasar.
Penerbangan perdana rute Denpasar–Bandung–Denpasar tersebut menjadi penanda baru reaktivasi penerbangan komersial di bandara internasional Husein Sastranegara.
Sebelumnya, sejak 6 Agustus, penerbangan komersial telah dibuka kembali secara bertahap.
Sejumlah maskapai menggunakan pesawat propeller untuk melayani rute. Seperti Lampung dan Palembang. Kembalinya Garuda dengan pesawat jet menjadi babak berikutnya.
Sementara itu Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyambut perkembangan tersebut.
Menurut dia, penggunaan kembali pesawat jet menunjukkan peningkatan status operasional bandara secara bertahap.
Tingkat keterisian penerbangan Garuda pada hari pertama juga disebut tinggi.
Bagi Farhan, angka itu merupakan sinyal bahwa kebutuhan masyarakat terhadap penerbangan langsung dari Bandung masih besar.
“Pokoknya kita mesti siap dulu dengan 3.000 penumpang per hari,” kata Farhan.
Kapasitas itu, menurut dia, menjadi patokan awal bagi pemerintah kota untuk memastikan bandara dan layanan pendukungnya siap.
Pemerintah Kota Bandung belum menetapkan target jumlah penumpang tahunan.
Farhan memilih memastikan terlebih dahulu bahwa rantai pelayanan penumpang mampu menangani lonjakan aktivitas.
Ia bahkan menguji layanan bandara dengan pendekatan customer experience.
Sejumlah orang diminta menjalani seluruh proses perjalanan layaknya penumpang biasa: datang ke bandara, turun di titik drop off.
Kemudian, melakukan check-in, naik pesawat, kembali ke Bandung, mengambil bagasi, hingga memperoleh kendaraan lanjutan.
Kota Pendidikan
Dari simulasi itu, pemerintah kota akan memetakan bagian-bagian yang harus dibenahi.
“Ini tugas Angkasa Pura, ini tugas Pemkot, ini tugas siapa, ini tugas siapa,” ujar Farhan.
Persoalannya bukan semata membuat pesawat kembali mendarat di Bandung. Farhan ingin arus penumpang juga bergerak ke arah sebaliknya.
Bandung, kata dia, jangan hanya menjadi kota asal orang bepergian, melainkan juga tujuan perjalanan.
Salah satu pasar yang hendak digarap adalah sektor pendidikan. Bandung akan didorong sebagai kota pendidikan.
Sehingga mahasiswa dan calon mahasiswa dari berbagai daerah dapat memanfaatkan konektivitas udara langsung menuju kota ini.
“Tantangan buat kita adalah bagaimana caranya tidak hanya orang Bandung yang terbang bolak-balik. Tetapi juga kita akan mengundang orang lain dari kota lain untuk datang ke Kota Bandung,” katanya.
Selain Garuda, kelompok Lion telah mengoperasikan penerbangan dari Husein sejak 6 Agustus.
Beberapa rute yang dibuka antara lain Lampung, Balikpapan, dan Palembang. Farhan menyebut tingkat peminatnya telah berada di atas 50 persen.
Ke depan, daftar kota yang dibidik lebih panjang: Medan, Pekanbaru, Padang, Palembang, Batam, Lampung, Balikpapan, Pontianak, Makassar, Denpasar, hingga Surabaya.
Bandara Diuji Ulang
Sedangkan Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi mengatakan pengoperasian kembali Husein Sastranegara bukan keputusan yang diambil hanya berdasarkan kesiapan visual bandara.
Selama hampir dua bulan, berbagai fasilitas dan sarana-prasarana diuji. Setelah pemeriksaan internal oleh Angkasa Pura Indonesia, hasilnya dilaporkan kepada Kementerian Perhubungan untuk menjalani pemeriksaan dan verifikasi.
“Bukan sekadar visual, tetapi seluruhnya diuji sesuai kelayakan dengan pola dan standar yang memenuhi standar airport internasional,” ujar Rizal.
Menurut dia, seluruh fasilitas tidak cukup hanya tersedia. Peralatan tersebut harus dipastikan berfungsi sesuai standar keselamatan dan pelayanan penerbangan.
Setelah proses verifikasi, Kementerian Perhubungan memberikan sertifikasi bahwa Husein Sastranegara kembali layak digunakan untuk penerbangan komersial.
Kini, perhatian mulai diarahkan ke pasar yang lebih besar: penerbangan internasional.
Rizal mengatakan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan terus dilakukan untuk membuka kembali konektivitas internasional dari Bandung.
Penerbangan internasional ditargetkan mulai tersedia pada Oktober 2026.
“Mudah-mudahan akan bisa tidak hanya di Oktober tapi berkelanjutan,” kata dia.
Husein bukan pendatang baru dalam penerbangan internasional. Bandara ini pernah melayani rute menuju Singapura dan Kuala Lumpur.
Dengan kembali aktifnya bandara, peluang penambahan maskapai dan rute terbuka.
Untuk penerbangan domestik, Husein disiapkan melayani konektivitas antarpulau, terutama menuju sejumlah kota di Sumatera dan Bali.
“Tidak tertutup hanya rute-rute yang existing dan bahkan ini terus berkembang,” ujar Rizal.
Garuda Empat Kali Sepekan
Kembalinya Garuda menjadi salah satu penanda penting dalam proses tersebut.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Letjen (Purn) Glenny H. Kairupan mengatakan penerbangan Denpasar–Bandung–Denpasar merupakan bagian dari percepatan pembukaan kembali Husein Sastranegara.
Menurut Glenny, pembukaan kembali bandara tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Republik Indonesia.
Ia menyebut prosesnya berlangsung cepat. Kurang dari tiga bulan setelah arahan diberikan, penerbangan komersial kembali beroperasi.
“Dalam waktu tiga bulan kurang lima hari hari ini kita bersama-sama bisa menyaksikan bahwa Husein Sastranegara dibuka kembali dan Garuda pertama penerbangan Bali ke Bandung, dari Bandung ke Bali,” kata Glenny.
Untuk sementara, Garuda akan melayani rute tersebut empat kali dalam sepekan. Citilink juga disiapkan mengoperasikan penerbangan dari Husein.
Respons pasar terlihat sejak penerbangan pertama. Glenny mengatakan penerbangan hari pertama hingga hari ketiga telah terisi penuh.
Bahkan, calon penumpang mulai masuk daftar tunggu ketika terjadi pembatalan.
“Bahkan ada yang menunggu kalau ada yang cancel, waiting list,” ujarnya.
Kembalinya pesawat jet Garuda dengan demikian bukan sekadar soal pesawat yang kembali menggunakan landasan Husein Sastranegara.
Bagi Bandung, ia menjadi ujian baru: apakah bandara lama itu mampu kembali menjadi pintu masuk wisatawan.
Termasuk, pelaku bisnis, mahasiswa, dan penumpang dari berbagai penjuru Indonesia—bahkan dari luar negeri.
Jika rencana penerbangan internasional pada Oktober berjalan, babak reaktivasi Husein Sastranegara akan memasuki tahap yang lebih menentukan. ***





