Menunggu Senja Sambil Kulineran di Riverside Peneleh Surabaya

Peneleh
Salah seorang wisatawan asing sedang berdialog dengan pengrajin wayang di Kampung Heritage Peneleh, Surabaya, Jawa Timur. (Instagram/ @genteng.sby)

TURISIAN.com – Peneleh tidak selalu harus dituntaskan dengan berjalan kaki. Setelah menyusuri gang-gang sempit di kawasan heritage Surabaya itu, wisatawan bisa memilih berhenti sejenak di tepian Kalimas.

Ada makanan, minuman, dan bangku-bangku untuk melepas lelah. Menjelang petang, matahari pun ikut menjadi tontonan.

Tempat itu bernama Riverside Peneleh. Lokasinya di Jalan Achmad Jais Nomor 1, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur.

Letaknya tak jauh dari Kampung Heritage Peneleh, salah satu kawasan yang menyimpan jejak sejarah kota.

Riverside Peneleh menempati ruang di pinggir sungai yang sebelumnya bukan tujuan utama wisatawan. Kini, deretan lapak usaha mikro, kecil, dan menengah berdiri menghadap Kalimas.

Pengunjung bisa memilih makanan, memesan minuman, kemudian mencari tempat duduk sambil melihat lalu-lalang aktivitas di tepian sungai.

Gagasan itu bermula dari kebutuhan yang sederhana: tempat makan setelah wisatawan berkeliling Peneleh.

“Awalnya karena di Kampung Peneleh ini sudah ada tempat wisata yang disebut Kampung Heritage Peneleh. Setelah itu kalau sudah ada tempat wisata kan harusnya ada tempat kuliner,” kata pengelola Riverside Peneleh, Qori Lutfiani, seperti dikutip dari Kompas.com.

Pengelolaan kawasan kemudian melibatkan warga setempat. Riverside Peneleh tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga ruang bagi pelaku UMKM untuk menawarkan dagangan mereka.

Menu yang Tidak Seragam

Tidak ada satu menu yang menjadi penguasa di Riverside Peneleh. Para pedagang justru diarahkan untuk tidak menjual makanan utama yang sama.

Aturan itu membuat pilihan kuliner di kawasan tersebut cukup beragam. Ada nasi ayam geprek, ayam kremes, mie nyemek, seblak, penyetan, sate angkringan, hingga dimsum mentai.

Menu yang lebih dekat dengan selera Jawa Timur juga tersedia. Tahu tek, sego sambelan, rawon, nasi goreng Jawa, dan mie kluntung masuk dalam daftar pilihan.

“Untuk menu utama tidak boleh sama agar banyak pilihan. Selain itu harus olahan sendiri. Kalau yang lain seperti snack atau minuman sachet hanya pelengkap,” ujar Qori.

Harga menjadi salah satu daya tarik lain. Makanan dibanderol mulai Rp10 ribu, sedangkan minuman mulai Rp5 ribu.

Dengan kisaran itu, Riverside Peneleh tidak semata menjadi tempat tujuan ketika perut sudah keroncongan.

Wisatawan yang hanya ingin minum atau mencari camilan setelah berjalan-jalan pun bisa mampir.

Ketika Peneleh Berubah Jingga

Waktu memiliki peran penting di Riverside Peneleh. Menjelang sore, kawasan ini mulai menunjukkan wajah yang berbeda.

Matahari turun perlahan. Cahaya yang sebelumnya keras berubah lembut. Langit di atas Kalimas beralih menjadi jingga, sementara aktivitas di kawasan kuliner mulai meningkat.

Soraya Margaretha, wisatawan asal Malang, datang bersama empat kawannya setelah berkeliling Kampung Heritage Peneleh.

Mereka mendapat informasi tentang keberadaan tempat makan di tepi sungai itu.

“Dikasih tahu ada tempat makannya. Jadi kami mampir ke sini. Ya paket lengkap, habis jalan-jalan lapar ada tempat makan,” kata Soraya.

Menurut dia, suasana Riverside Peneleh menjadi bagian dari pengalaman berwisata. Pilihan makanan cukup banyak dan harganya terjangkau. Ada pula pemandangan matahari terbenam yang bisa menjadi latar foto.

“Lumayan juga tempatnya menarik, bisa buat bikin konten juga,” ujarnya.

Bagi Soraya, senja menjadi bonus.

“Terus dapat bonus sunset, lumayan bagus dapat warna oranyenya. Jadi cukup melengkapi,” katanya.

Dari Senja ke Malam

Riverside Peneleh tidak berhenti ketika matahari tenggelam. Justru setelah langit gelap, kawasan itu mulai menampilkan suasana lain.

Lampu-lampu menyala di sepanjang area tepian sungai. Dari seberang jalan, cahaya tersebut menjadi penanda yang cukup mencolok. Orang yang semula hanya lewat bisa dibuat penasaran.

Nandia, pengunjung asal Kapas Krampung, termasuk yang berhenti karena melihat cahaya dari kejauhan.

“Enggak sengaja lewat sini karena lampu-lampunya cukup menarik dari seberang jalan. Jadi ya mampir,” ujarnya.

Kebetulan ia belum makan. Riverside Peneleh pun menjadi tempat persinggahan.

Kawasan itu dilengkapi meja dan kursi untuk bersantap. Ada pula area makan yang memanfaatkan perahu sebagai tempat duduk. Wi-Fi dan colokan listrik tersedia. Toilet dan area beratap juga disediakan.

Fasilitas tersebut membuat pengunjung tidak harus segera beranjak setelah menghabiskan makanan.

Mereka bisa memperpanjang waktu dengan berbincang atau sekadar menikmati suasana tepian Kalimas.

Riverside Peneleh buka dari pukul 10.00 hingga 23.00. Ada delapan rombong yang berjualan di kawasan tersebut. Menurut Qori, pengunjung biasanya mulai ramai pada sore hingga malam hari.

Nandia menilai tempat itu cukup nyaman untuk makan santai.

“Lumayan, ada beberapa yang jual mulai makanan berat sampai jajan. Alhamdulillah enggak bikin kantong jebol dan rasanya juga lumayan,” katanya.

Di Peneleh, wisata akhirnya bukan hanya soal menelusuri bangunan lama dan gang-gang bersejarah.

Setelah kaki lelah, Kalimas menyediakan alasan untuk berhenti.

Makanan menjadi pengantar, sungai menjadi latar, sementara senja dan cahaya malam membuat perjalanan belum perlu segera disudahi. ***

Pos terkait