Layaknya Rumah Dongeng, Ini Sensasi Bermalam di Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo
Rumah penduduk Desa Wae Rebo yang unik. (Indonesia.travel / @Indonesia.travel)

TURISIAN.com – Struktur rumahnya yang unik merupakan alasan mengapa rumah di Desa Wae Rebo Nusa Tenggara Timur (NTT) ini kerap disebut sebagai rumah dongeng.

Hampir setiap wisatawan yang berkunjung ke desa ini selalu mendapatkan nuansa masa lalu yang penuh cerita.

Lokasinya Desa Wae Rebo yang berada diatas ketinggian juga menjadi alasan bagi bagi para wisatawan yang ingin menikmati sensasi seakan bermalam di negeri atas awan.

Rumah adat yang tampak seperti dongeng ini disebut dengan Mbaru Niang, rumah bagi para penghuni desa Wae Rebo di NTT.

Dikutip TURISIAN.com- dari Indonesia.travel pada Rabu, 6 April 2022, Desa Wae Rebo dihuni oleh sekitar 1.200 jiwa penduduk yang siap menyambutmu dengan senyum ramah khas Indonesia.

Mari membenamkan diri sejenak dengan menyelami ragam keindahan serta kearifan lokal dari Desa Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur.

BACA JUGA: Benteng Ranu Hitu, Situs Peperangan Tradisional dan Perjuangan Masyarakat NTT

Bertahan Lebih dari 19 Generasi

1. Bermalam di Rumah Adat Mbaru Niang

Rumah ini telah bertahan selama lebih dari 19 generasi, dan masih menggunakan struktur bangunan yang sama sejak saat itu.

Terdiri dari lima lantai yang biasa dihuni oleh enam hingga delapan keluarga.

Strukturnya kerucut dan tinggi, mirip seperti rumah-rumah yang ada di dongeng dengan bagian lantai berbentuk lingkaran serta bagian atapnya yang lebih banyak, seluruhnya tertutup ilalang lontar.

Bagi para wisatawan yang ingin menengok bagian dalam dari Mbaru Niang, tak perlu khawatir, karena setiap tamu yang datang akan secara khusus mendapatkan jamuan. Tempatnya, di dalam satu Mbaru Niang.

Menginap di sini pun tentu bisa. Uniknya tamu yang menginap di Mbaru Niang ini akan tidur dengan membentuk posisi melingkari Mbaru Niang layaknya tidur di asrama.

BACA JUGA: Biar Wisatawan Nyaman, Kursi Pesawat Tujuan Labuan Bajo Ditambah

Untuk merasakan sensasi di rumah adat setempat, sobat turisian akan dikenakan biaya sebesar Rp 325.000 per orang.

2. Melebur dengan Sekitar Melalui Interaksi Langsung

Keseharian dari masyarakat Desa Wae Rebo yang merupakan keturunan Minang Sumatra Barat ini juga sangat menarik untuk diketahui.

Nenek moyang masyarakat setempat disebut dengan empo maro atau nenek moyang Wae Rebo yang berasal dari Minangkabau, kemudian merantau hingga ke tanah Flores.

Dalam perantauan tersebut, empo maro sempat berpindah-pindah tempat hingga akhirnya memutuskan untuk menetap di kawasan yang kini disebut sebagai Desa Wae Rebo.

BACA JUGA: 5 Kuliner Tradisional Betawi yang Melegenda dan Masih Bisa Dinikmati di Jakarta

Kondisi iklim yang baik membuat sebagian besar masyarakat setempat berprofesi sebagai petani. Sedangkan untuk para wanita membuat tenun.

Nah, kalian tidak perlu merasa malu jika ingin belajar menenun dari para wanita di Desa Wae Rebo ini. Karena mereka sangat terkenal karena keramahannya.

Sebagai welcome drink, para pengunjung juga akan disuguhi secangkir kopi khas Flores yang dipetik langsung dari kebun kopi.

Destinasi Wisata Andalan Flores

3. Upacara Adat Penti, Bentuk Rasa Syukur Warga Flores

Jika sobat turisian datang ke Desa Wae Rebo di bulan November, maka akan bisa menyaksikan Upacara Adat Penti, yakni upacara yang dilakukan oleh warga setempat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang didapatkan selama satu tahun terakhir.

Upacara ini juga sekaligus sebagai wadah bagi warga desa untuk memohon keharmonisan serta perlindungan kepada Tuhan.

BACA JUGA: Ampiang Dadiah, Kuliner Tradisional yang Dikenal Sebagai Yogurtnya Orang Minang

Ketika Upacara Adat Penti berlangsung, para penduduk akan mengenakan pakaian adat lengkap dengan aksesorisnya yang menawan.

Kemudian melakukan serangkaian atraksi yang sarat akan nilai sejarah dan budaya, dan segala keunikan tersebut menjadikan desa tersebut sebagai salah satu destinasi wisata andalan Flores.

4. Persiapan Dirimu Secara Matang!

Menurut sejumlah review dari pengunjung yang pernah singgah ke Desa Wae Rebo. Kebanyakan dari mereka menyarankan agar para pengunjung terlebih dahulu memiliki persiapan yang matang.

Terutama menyiapkan kondisi fisik yang prima. Sebab, disini berada di atas gunung di Roteng. Dan karena untuk menuju kesana hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki melalui pendakian, inilah mengapa selama perjalanan nanti sobat Turisian dituntut untuk memiliki kondisi fisik yang cukup prima.

Lamanya pendakian sendiri bisa memakan waktu sekitar 4 hingga 5 jam perjalanan, pengunjung disarankan berangkat dari pos 1, yakni tempat parkir menuju Desa Wae Rebo. ***

 

Pos terkait