Kemenpar Ingatkan Pendaki Gunung Berapi, Cek Status Aktivitas Sebelum Berangkat

Gunung Berapi
Ilustrasi para pendaki menapaki jalan terjal menuju puncak gunung. (Foto: Turisian.com/Dok)

TURISIAN.com – Kementerian Pariwisata mengingatkan wisatawan dan pendaki agar tidak mengabaikan aspek keselamatan saat melakukan pendakian, khususnya ke gunung berapi aktif.

Salah satu langkah yang ditekankan adalah memastikan status aktivitas gunung sebelum memulai perjalanan.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan pada Jumat, 5 Juni 2026, kementerian menyebutkan bahwa informasi mengenai aktivitas gunung berapi dapat diakses melalui aplikasi MAGMA Indonesia.

Aplikasi yang dikelola oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Data tersebut menjadi acuan penting bagi pendaki untuk menentukan apakah sebuah gunung aman didaki atau tidak.

Kementerian menegaskan, jika status aktivitas gunung menunjukkan kondisi yang tidak aman, wisatawan sebaiknya membatalkan rencana pendakian.

Adapun jika aktivitas vulkanik masih berada dalam batas aman, pendaki tetap diminta mematuhi ketentuan mengenai zona aman dan zona berbahaya yang telah ditetapkan otoritas terkait.

Menurut Kementerian Pariwisata, pendaki juga dianjurkan menggunakan jasa pemandu lokal bersertifikat.

Pemandu dinilai memiliki pengetahuan mengenai kondisi lapangan. Termasuk titik-titik yang aman dilalui dan waktu yang tepat untuk menghentikan pendakian apabila situasi berubah.

Selain memperhatikan kondisi gunung, kementerian mengingatkan pentingnya kesiapan fisik dan perlengkapan.

Pendaki disarankan membawa peralatan yang sesuai. Mulai dari tas dan sepatu pendakian hingga masker respirator untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik maupun gas beracun yang sewaktu-waktu dapat muncul.

Kementerian juga meminta wisatawan menaati seluruh aturan yang diberlakukan oleh PVMBG maupun pengelola kawasan pendakian.

Pendaki diminta mengikuti arahan petugas di lapangan dan tidak memaksakan diri mencapai puncak.

Atau kawah ketika kondisi cuaca maupun aktivitas vulkanik tidak memungkinkan.

“Menjadi pendaki yang hebat bukan berarti berani mati, tapi tahu kapan harus berhenti demi keselamatan diri dan orang lain,” demikian pernyataan Kementerian Pariwisata.

Di tengah meningkatnya minat wisata pendakian dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah menilai kesadaran terhadap keselamatan harus berjalan seiring dengan semangat berpetualang.

Kementerian juga mengingatkan para pendaki untuk menghormati alam serta menjaga kelestarian lingkungan selama berada di kawasan pegunungan. ***

Pos terkait