TURISIAN.com — Langit malam di atas Museum Benteng Vredeburg menjadi panggung bagi pertemuan dua tradisi besar. Aria-aria opera Italia mengalun dari bibir para penyanyi yang justru tampil mengenakan busana tradisional Jawa.
Perpaduan itu menciptakan lanskap pertunjukan yang tak lazim. Sekaligus memikat sekitar seribu penonton yang memadati kawasan bersejarah tersebut pada Sabtu malam, 18 Juli 2026.
Konser bertajuk Bel Canto: The Italian Voice merupakan hasil kolaborasi Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) di bawah naungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Kedutaan Besar Italia di Indonesia. Serta Istituto Italiano di Cultura Jakarta (IIC).
Digelar terbuka tanpa tiket masuk, pertunjukan ini menjadi bagian dari diplomasi budaya antara Indonesia dan Italia.
Sementara itu sejumlah tamu kehormatan hadir menyaksikan konser tersebut. Di antaranya putri sulung Raja Keraton Yogyakarta GKR Mangkubumi, Duta Besar Italia untuk Indonesia Roberto Colaminè.
Kemudian, Kepala Bakamla RI Laksdya TNI Irvansyah, Direktur Istituto Italiano di Cultura Jakarta Michele Cavallaro, serta Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie.
Konser dipimpin konduktor asal Italia, Aurelio Canonici, yang membawa penonton menelusuri tradisi bel canto. Gaya bernyanyi klasik Italia yang mengutamakan keindahan melodi.
Termasuk, teknik vokal yang presisi, dan ekspresi musikal yang kaya.
Pertunjukan dibuka melalui L’Italiana in Algeri: Overture karya Gioachino Rossini, kemudian berlanjut dengan repertoar karya Rossini, Vincenzo Bellini, dan Gaetano Donizetti.
Sedangkan tiga penyanyi opera Italia, Eva Polimeni (soprano), Daniele Falcone (tenor), dan Matteo Mancini (bariton), bergantian membawakan aria-aria klasik. Diiringi Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir.
Meski berasal dari tradisi musik Eropa, penampilan mereka terasa menyatu dengan atmosfer Jawa melalui balutan busana tradisional yang dikenakan sepanjang pertunjukan.
Usai konser, Stella Christie mengaku terkesan oleh tingginya antusiasme penonton, terutama kalangan muda.
Menurut dia, pemandangan tersebut berbeda dengan pengalaman menyaksikan opera di Italia yang umumnya didominasi penonton berusia lanjut.
Menghadirkan identitas baru
“Kolaborasinya luar biasa. Saya memang senang opera. Senang sekali hari ini bisa nonton opera di Jogja. Biasanya kalau menonton opera di Italia, penontonnya didominasi orang-orang tua. Tetapi malam ini saya melihat banyak anak muda yang hadir. Itulah istimewanya Jogja,” kata Stella.
Ia juga menilai pemilihan Benteng Vredeburg sebagai panggung terbuka memberi pengalaman yang mengingatkannya pada pertunjukan opera di Siena, Italia.
Menurut Stella, suasana bersejarah benteng berpadu dengan busana tradisional Jawa menghadirkan identitas baru bagi pertunjukan opera tanpa mengurangi nilai artistiknya.
Besarnya animo masyarakat, kata Stella, menunjukkan bahwa seni klasik masih memiliki ruang di tengah publik Indonesia.
Ia berharap kolaborasi seni lintas budaya seperti ini terus dikembangkan karena setiap pertemuan budaya melahirkan makna baru bagi para pelaku maupun penikmatnya.
Di balik kelancaran pertunjukan itu, terdapat proses latihan yang berlangsung intensif selama sepekan.
Anggota Yogyakarta Royal Choir, Revana Daaviolina, mengatakan seluruh penampil menjalani latihan di bawah arahan Aurelio Canonici yang dikenal sangat teliti terhadap setiap detail musikal.
“Latihannya seminggu intens banget. Beliau ngajarnya keren, teliti, detail. Hasilnya bisa kita lihat malam ini,” ujar Revana.
Bagi Revana, penuhnya area pertunjukan oleh penonton muda menjadi sinyal bahwa opera dan seni pertunjukan klasik masih memiliki masa depan di Yogyakarta.
Ia berharap kerja sama Yogyakarta Royal Orchestra dengan berbagai mitra internasional terus berlanjut sebagai ruang pertukaran budaya yang tetap berpijak pada identitas Indonesia. ***





