TURISIAN.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta mencatat jejak kelalaian penumpang dalam angka yang tak kecil.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, sebanyak 1.516 barang tertinggal di kereta maupun area stasiun. Nilainya ditaksir mencapai Rp1,64 miliar.
Di balik angka itu, terselip ragam benda yang terlupa: mulai dari 106 item makanan, 977 barang umum, hingga 433 barang berharga.
Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menyebutkan sebagian besar barang telah kembali ke tangan pemilik.
“Sebanyak 914 item sudah dikembalikan, sementara 591 lainnya masih dalam proses penanganan,” ujar dia, Rabu 22 April 2026.
Kecenderungan ini bukan hal baru. Dalam dua tahun terakhir, jumlah barang tertinggal terus menanjak. Pada 2024 tercatat 2.864 item, lalu meningkat menjadi 3.888 pada 2025.
Dari sisi nilai, lonjakan juga terlihat—dari Rp4,43 miliar pada 2024 menjadi Rp5,69 miliar setahun kemudian
. Meski demikian, tingkat pengembalian masih relatif tinggi, yakni 97,28 persen pada 2024 dan 91,36 persen pada 2025.
KAI mengandalkan layanan lost and found untuk menelusuri barang-barang yang tercecer. Setiap temuan didata, dilabeli, lalu dimasukkan ke dalam sistem terintegrasi nasional.
BACA JUGA: KAI Finalisasi Kereta Api Tambahan, Penjualan Tiket Mudik Lebaran 2026 Tembus 496 Ribu
Prosedur ini memungkinkan pelacakan lintas stasiun, meski tanggung jawab atas kelalaian tetap berada di tangan penumpang.
Bagi mereka yang merasa kehilangan, laporan dapat segera disampaikan kepada kondektur, petugas Polsuska, atau melalui Contact Center KAI 121.
Barang yang ditemukan dapat diambil di sejumlah stasiun utama seperti Pasar Senen, Gambir, Bekasi, Jatinegara, Cikarang, Karawang, hingga Cikampek, dengan menunjukkan identitas resmi dan bukti kepemilikan.
Namun, tidak semua barang menunggu lama. Untuk makanan, waktu penyimpanan dibatasi hanya 1×24 jam. Selebihnya, akan dimusnahkan. Sebuah pengingat sederhana: dalam perjalanan, yang tertinggal bukan hanya barang—tetapi juga kewaspadaan.





