TURISIAN.com – Savana Fulan Fehan di Kabupaten Belu berubah wajah pada Sabtu, 27 Juni 2026. Hamparan padang rumput yang biasanya lengang dipenuhi ribuan penari Tari Likurai.
Irama tifa bersahut-sahutan, langkah kaki bergerak serempak. Sementara Gunung Lakaan berdiri menjadi latar panggung alam yang nyaris tak membutuhkan dekorasi.
Bagi Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena, peristiwa itu melampaui sebuah festival.
Ia melihat Fulan Fehan menjelma menjadi ruang yang mempertemukan budaya, diplomasi, dan geliat ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste.
“Kemarin saya menyaksikan sendiri bagaimana Savana Fulan Fehan berubah menjadi lautan manusia, budaya, dan persahabatan,” ujar Melki dalam keterangan yang diterima di Kupang, Minggu 28 Juni 2026.
“Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi pesan bahwa budaya mampu menyatukan kita,” sambungnya.
Festival bertajuk Dance for Friendship itu turut dihadiri Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Muhammad Tito Karnavian.
Sementara itu, kehadiran delegasi dari Timor Leste dan Australia mempertegas pesan yang ingin disampaikan penyelenggara. Yakni, budaya dapat menjadi jembatan yang melampaui batas-batas negara.
Puncak acara ditandai dengan penampilan Tari Likurai Kolosal yang dibawakan ribuan penari.
Tarian perang yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Pulau Timor itu tampil bukan hanya sebagai atraksi wisata, melainkan penutur sejarah.
Di balik setiap hentakan kaki dan denting tifa, tersimpan kisah tentang identitas, keberanian, dan persaudaraan yang diwariskan lintas generasi.
Melki menilai kekuatan Nusa Tenggara Timur tidak semata bertumpu pada lanskap alamnya yang memikat.
Menurut dia, daya tarik daerah itu justru lahir dari kebudayaan yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Memperkenalkan NTT
Tradisi, kata dia, menjadi modal yang mampu memperkenalkan NTT kepada dunia sekaligus mempererat hubungan antarbangsa.
Seiring berkembangnya penyelenggaraan, Festival Fulan Fehan juga mulai memikul peran lain.
Kawasan perbatasan yang selama ini identik sebagai wilayah terluar kini diposisikan sebagai beranda Indonesia.
Festival menjadi panggung untuk mempertemukan berbagai budaya sekaligus membuka ruang kerja sama dengan negara tetangga.
Di sisi lain, denyut ekonomi masyarakat ikut bergerak. Lapak-lapak UMKM yang menjajakan tenun ikat, kuliner khas, kerajinan tangan, hingga beragam produk lokal menikmati lonjakan pengunjung selama festival berlangsung.
Sedangkan bagi warga Belu, keramaian itu bukan hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga peluang menambah penghasilan.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur pun bertekad menjadikan Festival Fulan Fehan sebagai agenda internasional yang digelar secara berkelanjutan.
Melki mengaku telah menyampaikan komitmen tersebut kepada Menteri Dalam Negeri.
Harapannya, festival ini terus tumbuh sebagai pintu masuk wisatawan sekaligus penggerak ekonomi kawasan perbatasan.
Jika selama ini perbatasan kerap dipandang sebagai garis pemisah, Festival Fulan Fehan menawarkan tafsir yang berbeda.
Di hamparan savana Belu, batas negara justru menjadi ruang bertemunya budaya, persahabatan, dan harapan akan kesejahteraan masyarakat. ***





