Orang Tua di Era Digital, Bukan Sekadar Mengawasi Tapi Perlu Ikuti Perkembangan

era digital
Ilustrasi anak-anak tampak serius bermain gawai. Peran pengawasan orang tua di era digital sangat diperlukan. (Dok.Turisian.com)

TURISIAN.com – Psikolog klinis anak dan remaja Gisella Tani Pratiwi mengingatkan, peran orang tua di era digital tak bisa lagi sekadar menjadi pengawas dari kejauhan.

Mereka dituntut hadir, memahami, sekaligus terlibat dalam keseharian anak saat bersentuhan dengan layar.

Seperti dikutip dari Antaranews, Minggu 3 Mei 2026, lulusan Universitas Indonesia itu menuturkan, orang tua perlu mengikuti perkembangan aturan.

Termasuk ihwal batas usia penggunaan media sosial. Namun, pemahaman itu tak cukup berhenti di kepala orang tua.

Ia harus diterjemahkan menjadi percakapan yang pelan, terbuka, dan relevan dengan usia anak.

“Anak perlu tahu, kenapa ada pembatasan, apa alasannya. Itu mesti masuk dalam diskusi,” ujarnya.

Pemerintah, kata Gisella, telah mencoba masuk melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak.

Regulasi yang dikenal sebagai PP Tunas ini, menurut dia, memberi pijakan bagi orang tua untuk lebih percaya diri dalam mendampingi anak di ruang digital.

Meski demikian, regulasi tetaplah kerangka. Di dalam rumah, orang tua tetap aktor utama. Mereka bukan hanya menetapkan batas, tetapi juga membentuk kebiasaan.

Memilih Konten

Dari cara memegang gawai, memilih konten, hingga menimbang waktu layar. Semuanya menjadi contoh yang diam-diam direkam anak.

Dampak paparan digital, menurut Gisella, tak sederhana. Pada ranah kognitif, anak bisa tumbuh dengan kecenderungan serba cepat.

Yakni,  ingin hasil instan, kurang sabar menjalani proses, dan tidak terbiasa berpikir mendalam.

Sementara itu dalam keseharian, ini tampak dari kegelisahan saat menunggu atau mudah beralih perhatian.

Sedangkan  dari sisi emosi, paparan yang intens dapat membuat anak kesulitan membaca perasaannya sendiri.

Emosi menjadi naik-turun, tanpa cukup ruang untuk belajar mengelola. Media sosial, yang kerap menampilkan versi terbaik orang lain, juga berpotensi menggerus konsep diri.

Anak mudah membandingkan, lalu meragukan dirinya.

“Kalau tidak ada pendampingan, anak bisa kehilangan rujukan. Itu berpengaruh pada kepercayaan diri dan cara dia melihat dirinya,” kata Gisella.

Di titik ini, keluarga menjadi benteng pertama. Pengawasan penggunaan media sosial sesuai usia, keteladanan dalam berinternet.’

Disamping,  penyediaan aktivitas non-digital yang menyenangkan menjadi penyeimbang.

Sebab, ketika anak memiliki konsep diri yang kuat, riuhnya dunia di era digital hanya akan menjadi latar, bukan penentu arah. ***

Pos terkait