Dieng Culture Festival 2026 Siap Digelar, Pengunjung Diminta Menyiapkan Perjalanan Sejak Dini

Dieng Culture Festival
(Instagram/@festival_dieng)

TURISIAN.com – Kabut tipis, udara pegunungan yang menusuk. Denting musik jazz, hingga ribuan lampion yang perlahan terbang menghiasi langit malam akan kembali menjadi penanda hadirnya Dieng Culture Festival (DCF).

Perhelatan tahunan di Dataran Tinggi Dieng itu dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, pada 28-30 Agustus 2026.

Sejumlah agenda yang selama ini menjadi ikon festival dipastikan kembali digelar.

Jazz Atas Awan tetap menjadi magnet utama, disusul ritual cukur rambut gimbal yang sarat makna budaya.

Serta penerbangan lampion yang setiap tahun menutup malam festival dengan pemandangan spektakuler.

Meski penjualan tiket partisipan belum dibuka hingga 6 Juli 2026, panitia mulai mengingatkan calon pengunjung untuk mempersiapkan perjalanan lebih awal.

Penginapan di sekitar kawasan Dieng diperkirakan kembali menjadi buruan seiring tingginya minat wisatawan.

Pilihan akomodasi, mulai dari homestay, vila, hingga rumah warga, tersebar dalam radius sekitar satu hingga enam kilometer dari Kompleks Candi Arjuna.

Selama festival berlangsung, pengunjung dianjurkan berjalan kaki menuju lokasi acara.

Area Festival

Rekayasa lalu lintas satu arah yang diterapkan panitia berpotensi menyebabkan kemacetan di jalur menuju area festival.

Panitia juga mengeluarkan sejumlah panduan bagi penonton Jazz Atas Awan.

Pengunjung diminta datang sebelum gerbang dibuka pada pukul 15.00 WIB dan memastikan gelang akses tetap terpasang selama acara berlangsung.

Karena seluruh penonton menikmati pertunjukan dengan duduk lesehan, membawa alas duduk menjadi salah satu perlengkapan yang disarankan.

Suhu malam Dieng yang dapat turun hingga belasan derajat Celsius membuat pakaian hangat, jaket tebal, sarung tangan, dan penutup kepala menjadi kebutuhan, bukan sekadar pelengkap.

Jas hujan juga disarankan mengingat cuaca pegunungan dapat berubah dalam waktu singkat.

Sementar itu, panitia mengingatkan peserta hanya merokok di area yang telah disediakan dan melarang penerbangan drone tanpa izin resmi.

Prosesi penerbangan lampion yang menjadi penutup konser juga memiliki aturan tersendiri.

Peserta diminta menunggu aba-aba pembawa acara, membuka lampion secara perlahan.

Memastikan bahan bakar parafin terpasang dengan benar serta mengisi lampion dengan udara hingga mengembang sempurna sebelum dilepaskan.

Ritual Rambut Gimbal

Panitia menyarankan lampion diterbangkan bersama teman atau pasangan agar prosesnya lebih aman.

Ritual cukur rambut gimbal, yang menjadi inti perayaan budaya Dieng, hanya dapat diikuti peserta yang telah mendaftar untuk kirab budaya.

Selama prosesi berlangsung, peserta diwajibkan mengenakan pakaian adat, memakai selendang dan caping yang disediakan panitia.

Kemudian tidak menggunakan payung, tidak merokok di area ritual serta mengikuti seluruh rangkaian acara dengan tertib dan khidmat.

Selain agenda utama yang memerlukan tiket partisipan, masyarakat tetap dapat menikmati sejumlah kegiatan tanpa gelang akses.

Panggung Seni Tradisi di sisi timur Kompleks Candi Arjuna, Jazz Atas Awan Showcase di Taman Candi Gatotkaca.

Serta Festival Kopi Dieng dan area UMKM akan terbuka bagi pengunjung.

Melalui rangkaian kegiatan itu, DCF tidak hanya menawarkan pertunjukan budaya. Tetapi juga menjadi ruang promosi bagi seni tradisi dan produk-produk lokal masyarakat Dieng. ***

Pos terkait