Wisata Sejarah di Museum KAA Terus Diminati Pelajar dan Wisatawan

Pelajar dan Wisatawan
Pengunjung sedang mengamati salah satu foto dokumenter Konferensi Asia-Afrika di Gedung Merdeka, Kota Bandung.(Dok.Pemkot Bandung)

TURISIAN.com – Di sudut Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, sebuah bangunan tua masih menjadi tujuan ribuan orang, baik pelajar dan wisatawan.

Pengunjung yang datang karena mereka ingin menelusuri salah satu bab penting dalam sejarah dunia.

Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA), yang menempati kompleks Gedung Merdeka, terus menarik minat pelajar. Bahkan, wisatawan domestik, hingga tamu dari berbagai negara.

Museum ini tak hanya menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga merawat ingatan tentang lahirnya solidaritas negara-negara Asia dan Afrika.

Peningkatan jumlah pengunjung menjadi salah satu indikator besarnya ketertarikan masyarakat terhadap museum tersebut.

Selama Januari hingga Juni 2026, Museum KAA menerima lebih dari 35 ribu pengunjung domestik.

Mayoritas merupakan rombongan pelajar yang memanfaatkan kunjungan sebagai bagian dari pembelajaran sejarah.

Pada periode yang sama, lebih dari 3.500 wisatawan mancanegara juga tercatat datang berkunjung.

Sementara itu Kepala Seksi Publikasi dan Nilai-nilai KAA, Christoforus Katon, mengatakan keberadaan museum berawal dari gagasan Menteri Luar Negeri RI saat itu, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja.

Menurut dia, ide tersebut muncul setelah semakin banyak kepala negara dan tamu asing yang ingin melihat langsung Gedung Merdeka..

Tempat atau  lokasi penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada 1955.

Usulan pendirian museum disampaikan bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia-Afrika pada 1980 dan memperoleh dukungan Presiden Soeharto.

Film Dokumenter

Museum kemudian diresmikan pada 24 April 1980, bertepatan dengan seperempat abad penyelenggaraan konferensi yang mempertemukan 29 negara Asia dan Afrika tersebut.

Di dalam museum, pengunjung diajak menyusuri perjalanan sejarah melalui diorama Sidang Pembukaan Konferensi Asia-Afrika.

Termasuk, koleksi peralatan jurnalistik, arsip foto dan dokumen asli, hingga film dokumenter yang merekam jalannya konferensi. Beserta pengaruhnya terhadap perkembangan politik internasional.

Museum juga mengisahkan perjalanan Gedung Merdeka yang menjadi panggung lahirnya semangat kerja sama negara-negara berkembang.

Sedangkan untuk memperkaya pengalaman belajar, Museum KAA menyediakan layanan edukator bagi rombongan yang telah melakukan reservasi.

Pendampingan tersedia dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin sehingga dapat melayani pengunjung dari berbagai negara.

Seluruh layanan museum diberikan tanpa dipungut biaya. Pengunjung individu maupun rombongan dapat melakukan reservasi melalui laman resmi museum.

Khusus rombongan, proses pendaftaran diawali dengan konfirmasi kepada pengelola sebelum mengisi formulir kunjungan.

Museum melayani kunjungan setiap Rabu hingga Sabtu pukul 09.00-15.00 WIB dengan jeda istirahat pukul 12.00-13.00 WIB.

Pada hari Jumat, jadwal disesuaikan dengan waktu salat Jumat. Pengelola juga membatasi jumlah rombongan. Yakni, maksimal 250 orang pada sesi pagi dan 200 orang pada sesi siang, agar kualitas layanan tetap terjaga.

Pentingnya Solidaritas

Menurut Christoforus, Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada 18-24 April 1955 menjadi tonggak penting lahirnya semangat solidaritas negara-negara berkembang.

Utamanya, dalam memperjuangkan kemerdekaan, persamaan derajat, serta perdamaian dunia. Nilai-nilai itulah yang, menurut dia, perlu terus diwariskan kepada generasi muda.

“Peristiwa Konferensi Asia-Afrika 1955 mengajarkan pentingnya solidaritas dan kerja sama antarindividu maupun antarbangsa dalam menjaga persatuan serta perdamaian dunia,” kata Christoforus.

Enam dasawarsa lebih setelah konferensi bersejarah itu digelar, Museum Konferensi Asia-Afrika tetap menjalankan perannya. Yakni, sebagai ruang penyimpan memori kolektif sekaligus laboratorium sejarah.

Di tengah derasnya arus zaman, museum ini mengingatkan bahwa diplomasi, persaudaraan, dan dialog tetap menjadi fondasi penting dalam membangun perdamaian dunia. ***

Pos terkait