TURISIAN.com – Bayang-bayang konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai menghantam industri pariwisata seperti bisnis hotel di UEA (Uni Emirat Arab).
Salah satu dampak yang paling terlihat adalah merosotnya tarif kamar hotel di Dubai dan Abu Dhabi.
Analisis kantor berita RIA Novosti menunjukkan harga kamar hotel di dua kota utama UEA itu turun tajam menjelang awal April 2026.
Penurunan terjadi hampir di seluruh segmen, mulai dari hotel berbintang empat hingga hotel mewah berbintang lima.
Di Abu Dhabi, tarif hotel bintang empat rata-rata menyusut hingga 75 persen dibandingkan awal tahun.
Hotel Mercure, misalnya, kini menawarkan kamar sekitar 54 dolar Amerika Serikat per malam.
Pada Januari hingga Februari lalu, harga kamar di kelas yang sama masih berada di kisaran 200 hingga 250 dolar AS per malam.
Koreksi harga juga terjadi pada hotel-hotel premium. Rixos Marina menawarkan kamar mulai 225 dolar AS per malam.
Tarif di Ritz-Carlton turun menjadi sekitar 231 dolar AS, sementara Shangri-La dipasarkan pada kisaran 201 dolar AS.
Adapun Radisson menjual kamar mulai 125 dolar AS per malam.
Fenomena serupa terlihat di Dubai. Hotel berbintang empat kini mematok harga sekitar 50 hingga 60 dolar AS per malam.
Sementara itu hotel berbintang lima turut memangkas tarif untuk menjaga tingkat hunian.
Dusit Thani menawarkan kamar mulai 95 dolar AS per malam, Pullman Jumeirah sekitar 90 dolar AS, dan Hilton Jumeirah sekitar 155 dolar AS.
Penurunan harga tersebut mencerminkan melemahnya permintaan wisatawan internasional di tengah meningkatnya ketidakpastian keamanan kawasan.
Eskalasi Konflik
Kekhawatiran terhadap eskalasi konflik membuat sebagian wisatawan menunda perjalanan ke Timur Tengah
Termasuk ke UEA yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata dan bisnis utama di kawasan Teluk.
Menghadapi situasi itu, pelaku industri perhotelan memilih strategi agresif dengan memangkas tarif secara signifikan.
Langkah tersebut ditempuh untuk mempertahankan tingkat okupansi bisnis hotel di UEA.
Sekaligus menarik wisatawan yang masih mempertimbangkan berkunjung ke Dubai maupun Abu Dhabi.
Khususnya, saat menghadapi di tengah gejolak geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. ***





