TURISIAN.com – Arus wisatawan mancanegara ke Indonesia menunjukkan pergeseran menarik. Jika sebelumnya mengandalkan pasar Eropa dan Timur Tengah, kini pelancong dari Asia justru tampil sebagai motor pertumbuhan kunjungan ke berbagai destinasi di Tanah Air.
Kementerian Pariwisata mencatat wisatawan dari Korea Selatan, Tiongkok, Singapura, dan Malaysia semakin banyak memilih Indonesia sebagai tujuan liburan.
Bukan semata karena kedekatan geografis, melainkan juga karena ragam pengalaman yang ditawarkan. Mulai dari wisata alam, petualangan, hingga belanja.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menilai Indonesia memiliki daya tarik yang sulit ditemukan di negara lain.
Selain menawarkan kenyamanan, wisatawan juga merasa leluasa berbelanja dan membawa pulang beragam buah tangan.
Wisatawan Malaysia, misalnya, masih menjadikan Jakarta dan Bandung sebagai destinasi favorit untuk berbelanja. Mereka juga banyak mengunjungi kawasan wisata populer seperti Bali, Bintan, dan Batam.
Sementara itu, wisatawan Singapura dan Tiongkok datang dengan motivasi berbeda. Mereka mencari lanskap alam yang tak dimiliki negara asalnya.
Pegunungan tropis Indonesia menjadi magnet tersendiri. Pemandangan matahari terbit, bentang kaldera, hingga jalur pendakian menjadi daya tarik yang terus dipromosikan melalui media sosial dan agen perjalanan.
Nama Gunung Bromo dan Kawah Ijen kini termasuk destinasi yang paling sering muncul dalam daftar perjalanan wisatawan asal Tiongkok.
Keduanya menawarkan panorama vulkanik yang berbeda dengan lanskap yang lazim ditemukan di negara-negara Asia Timur.
Kementerian Pariwisata juga mencatat munculnya destinasi-destinasi baru yang semakin dikenal wisatawan asing.
Manado menjadi salah satunya setelah dibukanya rute penerbangan langsung menuju Guangzhou.
Membuka Peluang
Konektivitas yang lebih baik membuka peluang bagi daerah tersebut untuk menarik lebih banyak pelancong dari Tiongkok.
Di luar itu, popularitas Labuan Bajo, Lombok, dan kawasan Gili Islands terus meningkat. Tren ini menunjukkan bahwa tujuan wisata asing tidak lagi terpusat di Bali.
Wisatawan mulai menjelajahi destinasi alternatif yang menawarkan pengalaman berbeda.
Meski demikian, tidak semua pasar menunjukkan tren positif. Pada awal 2026, jumlah kunjungan wisatawan dari Timur Tengah dan Eropa tercatat menurun.
Sebaliknya, pasar Asia Tenggara, kawasan Asia lainnya, Oseania, dan Afrika mengalami pertumbuhan.
Menghadapi perubahan arus wisatawan tersebut, pemerintah berupaya memperluas promosi melalui kerja sama dengan agen perjalanan. Termasuk, maskapai penerbangan, serta kampanye digital.
Strategi itu diarahkan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan wisatawan Asia yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu penopang utama industri pariwisata Indonesia. ***





