TURISIAN.com – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, menatap sepotong kayu jati bekas yang telah disulap menjadi meja berdesain bersih.
Sesekali ia mengelilingi beberapa etalase di bengkel kerja Seken Living di Yogyakarta, Selasa, 14 April 2026.
Di ruang yang dipenuhi aroma kayu dan suara perkakas itu, ia melihat sesuatu yang lebih dari sekadar furnitur. Sebuah model bisnis yang merangkai kreativitas dengan keberlanjutan.
“Seken Living adalah contoh nyata bagaimana limbah kayu bisa mendapat napas baru menjadi produk kriya kelas dunia,” kata Irene.
Ia menyebut konsistensi jenama tersebut tidak hanya pada estetika, tetapi juga pada upaya menjaga ekosistem lingkungan dan memberdayakan perajin lokal.
Didirikan pada 2014, Seken Living mengolah kayu bekas—terutama jati—menjadi produk yang tak hanya fungsionalTetapi juga memiliki nilai artistik.
Sementara itu dalam perjalanannya, usaha ini berkembang menjadi ekosistem kreatif terpadu.
Mereka menggabungkan keterampilan tradisional dengan manajemen modern, menyasar pasar yang kian sadar lingkungan.
Pemerintah, menurut Irene, hendak mengambil peran sebagai akselerator. Dukungan tak berhenti pada apresiasi, tetapi juga pada pembiayaan dan perluasan pasar.
Pasar Internasional
Salah satunya melalui fasilitasi pendanaan ekspor dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, yang telah diakses Seken Living.
“Sinergi kreativitas dan dukungan finansial menjadi kunci menembus pasar internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, produk dengan narasi keberlanjutan kini justru menjadi incaran global.
Seken Living mengembangkan lima lini usaha yang saling terhubung showroom furnitur berbahan kayu daur ulang .
Dimana, showroom terintegrasi dengan kafe Nest Coffee & Donuts, konsep mindful eating di Sabin Cafe, penginapan berbasis bangunan daur ulang Uma Accommodation.
Kurasi dekorasi rustic melalui toko daring, hingga ruang resto-bar privat Stairs at Prawirotaman.
Kombinasi ini membentuk gaya hidup yang menautkan desain, konsumsi, dan kesadaran lingkungan.
Di luar negeri, nama Seken Living sudah sempat hadir dalam sejumlah pameran desain bergengsi seperti Maison & Objet di Prancis, Salone del Mobile di Milan.
Serta Shoppe Object di Amerika Serikat. Namun, akses untuk tampil di panggung internasional kini dirasakan semakin terbatas.
Pendiri Seken Living, Ferryal, menyebut kunjungan Irene sebagai suntikan semangat.
“Kami berharap dukungan pemerintah, terutama dalam akses pasar dan promosi digital, bisa terus diperkuat,” ujarnya.
Kementerian Ekonomi Kreatif menegaskan, inovasi berbasis kearifan lokal dan kelestarian alam akan terus didorong sebagai mesin pertumbuhan baru.
Dari bengkel-bengkel kecil di daerah, pemerintah berharap lahir produk-produk yang tak hanya bernilai ekonomi. Tetapi juga membawa cerita tentang keberlanjutan Indonesia ke pasar dunia. ***





