Hunian Hotel Puncak-Cianjur Naik Saat Libur Panjang, Tarif Kamar Ditahan

Cianjur-Puncak
Suasana lengang Jalan Raya Puncak Ciloto, Cipanas, Cianjur usai libur panjang akhir Mei 2026.(Foto: Turisian.com/Adisas)

TURISIAN.com – Libur panjang akhir Mei 2026 membawa angin segar bagi pelaku usaha perhotelan di kawasan Puncak-Cianjur, Jawa Barat.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Cianjur mencatat tingkat hunian hotel rata-rata mencapai 58 persen selama periode liburan tersebut.

Humas PHRI Cianjur, Rizal, mengatakan peningkatan okupansi mulai terlihat sejak Rabu, 27 Mei 2026.

Sementara itu puncak kedatangan wisatawan terjadi pada akhir pekan. Terutama Sabtu dan Minggu, dengan mayoritas tamu berasal dari wilayah Jabodetabek.

Menurut dia, sejumlah hotel di kawasan Puncak-Cipanas bahkan melaporkan tingkat hunian hingga 70 persen dalam tiga hari terakhir masa liburan.

“Secara rata-rata okupansi hotel anggota PHRI mencapai 58 persen. Namun ada beberapa hotel, terutama di kawasan Puncak-Cipanas, yang mencatat tingkat hunian sekitar 70 persen,” ujar Rizal, Senin, 1 Juni 2026.

Kenaikan jumlah tamu itu menunjukkan kawasan wisata Puncak-Cianjur masih menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan dari Jabodetabek, Bandung, Sukabumi, hingga masyarakat lokal.

Arus kunjungan tersebut menjadi penopang bisnis perhotelan di tengah tekanan biaya operasional yang meningkat.

Rizal mengakui pelaku usaha hotel saat ini menghadapi dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Sedangkan sejumlah kebutuhan operasional dan bahan baku mengalami kenaikan harga.

Namun sebagian besar pengelola hotel memilih melakukan efisiensi dibanding menaikkan tarif kamar.

Langkah itu ditempuh untuk menjaga daya tarik destinasi sekaligus mempertahankan daya beli wisatawan.

Tarif kamar yang tetap kompetitif dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya tingkat kunjungan selama libur panjang.

PHRI Cianjur berharap tren positif tersebut berlanjut pada musim libur sekolah yang dimulai Juni 2026.

Para pelaku usaha hotel juga menyiapkan berbagai program promosi guna menjaga tingkat okupansi tetap tinggi.

“Pengelola hotel berupaya mempertahankan angka kunjungan dengan tidak menaikkan harga kamar serta menawarkan berbagai program promosi. Meski tekanan biaya akibat penguatan dolar cukup terasa, upaya menjaga daya saing tetap menjadi prioritas,” kata Rizal. ***

Pos terkait