TURISIAN.com – Suara alat berat mulai memecah suasana di kawasan Gasibu, Kota Bandung. Bangunan Perpustakaan Gasibu yang selama ini menjadi salah satu penanda ruang publik di depan Gedung Sate perlahan dibongkar.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyebut langkah itu sebagai bagian dari penataan kawasan, bukan sekadar menghilangkan sebuah bangunan.
Perpustakaan tersebut akan bertransformasi menjadi layanan literasi digital. Sementara ruang yang selama ini ditempatinya akan disesuaikan dengan rancangan lanskap baru.
Dimana, bangunannya nanti akan menyatukan halaman Gedung Sate dan Lapangan Gasibu dalam satu kawasan publik yang lebih terbuka.
Sementara itu Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan pembongkaran bangunan telah melewati seluruh prosedur hukum dan administrasi.
Pemerintah, kata dia, terlebih dahulu menuntaskan proses penghapusan aset melalui mekanisme Barang Milik Daerah (BMD) sebelum pekerjaan fisik dimulai.
“Bangunan Perpustakaan Gasibu diadaptasikan dengan desain lanskap penataan Gasibu yang terintegrasi dengan halaman Gedung Sate,” kata Herman di Bandung, Selasa 14 Juli 2026.
“Hal tersebut dilakukan dalam rangka harmonisasi antara elemen alam dan elemen buatan di kawasan Gasibu agar lebih fungsional, rapi, dan indah,” sambungnya.
Penataan itu menjadi bagian dari rencana besar Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengubah koridor Gedung Sate–Gasibu menjadi ruang publik yang lebih lapang, tertata, sekaligus mampu menampung beragam aktivitas masyarakat.
Kegiatan Kenegaraan
Kawasan yang selama ini menjadi pusat olahraga, rekreasi, hingga kegiatan kenegaraan itu diharapkan memiliki wajah baru tanpa kehilangan fungsi sosial dan budayanya.
Hilangnya bangunan perpustakaan bukan berarti layanan literasi ikut lenyap. Pemerintah justru menggeser konsepnya ke platform digital.
Herman mengatakan masyarakat nantinya dapat mengakses koleksi dan layanan perpustakaan secara lebih mudah melalui sistem berbasis digital.
“Perpustakaan Gasibu akan bertransformasi menjadi perpustakaan digital sehingga masyarakat dapat mengakses layanan literasi secara lebih mudah dan modern,” katanya.
Sedangkan bagi warga yang masih membutuhkan buku dalam bentuk cetak, pemerintah menyiapkan alternatif.
Armada perpustakaan keliling akan ditempatkan di sekitar kawasan Gasibu pada hari-hari tertentu agar layanan membaca tetap dapat dinikmati masyarakat.
Menurut Herman, pendekatan itu merupakan upaya menyesuaikan layanan publik dengan perkembangan teknologi tanpa menghilangkan akses bagi masyarakat yang masih mengandalkan koleksi fisik.
Pemprov Jawa Barat menargetkan penataan koridor Gedung Sate–Gasibu mampu menghadirkan ikon baru ruang publik di Jawa Barat.
Kawasan tersebut dirancang menjadi ruang yang lebih aman, nyaman, inklusif, dan representatif. Sekaligus tetap mempertahankan fungsi edukasi, olahraga, budaya, serta interaksi sosial yang selama ini melekat pada Gasibu. ***





