Rebutan Gunungan di Acara Grebeg Syawal, Sempat Terhenti 3 Tahun

Grebeg Syawal
Sejumlah abdi dalem mengusung gunungan lanang dalam acara Grebeg Besar yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Gunungan yang dikawal oleh prajurit keraton tersebut dibawa keluar dari keraton menuju halaman Masjid Gedhe Kauman untuk didoakan dan selanjutnya diperebutkan warga. Foto: Dok. IStock

TURISIAN.com – Sudah menjadi agenda tahunan, Gerebek atau Grebeg Syawal kembali berlangsung di Masjid Gedhe Kauman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pada pelaksanaan yang digelar, Sabtu 22 April 2023 mendapatkan apresiasi yang cukup tinggi dari masyarakat.

Maklum, tradisi ini sempat terhenti tiga tahun akibat pandemi Covid-19, namun kemudian bisa kembali dilaksanakan.

“Grebeg ini pertama kali digelar setelah tiga tahun lebih tidak diselenggarakan upacara Grebeg di Keraton Yogyakarta, tahun ini pertama setelah pandemi,” ujar Penghageng II Kawedanan Rekso Suyoso Keraton Yogyakarta Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Kusumanegara, seperti dikutip Turisian.com dari Antaranews, hari ini.

BACA JUGA: Taman Pintar Yogyakarta Siap Sambut Wisatawan di Libur Lebaran

Adapun sejak pukul 09.00 WIB pagi, ratusan warga terlihat telah datang ke halaman masjid. 

Dalam Grebeg Syawal kali ini, mereka pun sudah diperbolehkan ikut rayahan gunungan.

Untuk diketahui, rayahan berarti berebut isi gunungan yang sudah disusun sedemikian rupa berbentuk kerucut seperti gunung.

Masjid Gedhe Kauman

Prosesi gunungan diawali dengan pasukan berseragam merah yang masuk ke halaman Masjid Gedhe Kauman, diiringi dengan suara terompet dan tabuhan snare drum. Beberap pasukan silih berganti memsuki halaman Masjid Gedhe Kauman, dan berbaris sesuai bagiannya.

Di sisi utara dan selatan halaman Masjid Gedhe Kauman, terdapat pasukan yang membawa senapan panjang.

BACA JUGA: Jembatan Kretek II Yogyakarta Jadi Jalur Alternatif Mudik Lebaran 2023

Saat gunungan akan masuk halaman Masjid Gedhe Kauman, pasukan ini diberi aba-aba untuk kemudian menembakkan senjatanya ke atas.

Setelah gunungan masuk ke halaman Masjid Gedhe Kauman, prosesi selanjutnya adalah pembacaan doa oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Usai sesi doa, warga dengan cepat langsung berebut isi gunungan. Bahkan, beberapa dari mereka naik ke puncak gunungan untuk merayah isi gunungan di bagian atas.

Salah satu warga merayah adalah Salfa dari Banguntapan, Bantul. Ia datang bersama suami dan anaknya, namun hanya dirinya yang ikut merayah.

BACA JUGA: Menikmati Kota Yogyakarta Dari Sisi Lain, Berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg Yuk..

“Menunggunya tidak terlalu lama, karena baru datang jam 11.00 (WIB), sama suami anak tapi suami sama anak enggak ikut ngerayah,” kata Salfa.

Ia pun baru pertama kali mengikuti sekaligus melakukan rayahan saat Grebeg Syawal ini karena ingin mengalami bagaimana rasanya ikut Grebeg Syawal bersama warga lainnya.

Setelah merayah gunungan, ia pun mendapat cabai dan kacang panjang.

“Mungkin ini sayurannya bisa dimasak, cabai buat jadi bumbu” katanya.

Dengan hasil rayahan tersebut, ia berharap agar keluarganya tetap rukun dan sejahtera, serta memperoleh rezeki melimpah sekaligus bisa bermanfaat bagi masyarakat.

“Kalau keluarga kan kendalanya tahun ini enggak mudik, namanya berkeluarga pasti ada saja. Saya enggak dapat pucuknya,” katanya. ****

 

Pos terkait