Di Tengah Ketidakpastian Global, Kemenpar Terus Melakukan Terobosan, Apa Saja?

Ketidakpastian Global
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menyampaikan sambutannya dalam forum The Iconomics CEO Forum & Awards yang bertajuk "Resilient Leadership in the Age of Disruption" di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis 23 April 2026. (Dok.Kemenpar)

TURISIAN.com – Kementerian Pariwisata tak menunggu badai reda. Di tengah ketidakpastian global dari konflik geopolitik hingga lonjakan harga tiket arah pemasaran digeser, diam-diam namun tegas.

Dalam forum The Iconomics CEO Forum & Awards bertajuk Resilient Leadership in the Age of Disruption di Jakarta, Kamis, 23 April lalu hal itu menjadi pembahasan serius.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Republik Indonesia Ni Made Ayu Marthini memaparkan beberapa langkah yang ditempuh.

Pariwisata, kata dia, adalah industri yang paling peka terhadap guncangan. Sedikit saja riak di panggung global, dampaknya bisa langsung terasa hingga ke destinasi.

Karena itu, Kemenpar melakukan pivot. Pasar Eropa dan Amerika—yang selama ini menjadi tumpuan—tak lagi menjadi fokus utama.

Arah perhatian digeser ke Asia. Pertimbangannya sederhana yakni jarak lebih dekat, akses lebih mudah. Dan tidak bergantung pada jalur transit yang bersinggungan dengan wilayah konflik seperti Timur Tengah.

Menawarkan daya tarik

“Pasar-pasar ini relatif lebih stabil dan tidak terdampak signifikan oleh kenaikan harga tiket,” ujar Made.

Namun pergeseran itu bukan tanpa konsekuensi. Asia adalah medan yang padat pemain. Negara-negara di kawasan ini berlomba menawarkan daya tarik serupa.

Persaingan menjadi kian ketat, menuntut pendekatan yang lebih kreatif.

Kemenpar mencoba menjawabnya lewat kolaborasi. Program co-branding partners digulirkan. Mengawinkan promosi pariwisata dengan berbagai merek, baik lokal maupun global.

Tujuannya bukan sekadar memperluas jangkauan, melainkan juga menambah nilai pada pengalaman wisata itu sendiri. Event-event di daerah pun didorong menjadi etalase baru promosi.

Di forum yang sama, Founder dan CEO The Iconomics Bram S. Putro melihat langkah ini sebagai cermin kepemimpinan adaptif.

Dalam situasi yang tak menentu, kemampuan berbelok cepat menjadi kunci bertahan.

“Strategi ini menunjukkan optimisme sekaligus ketangguhan dalam menghadapi disrupsi,” kata Bram.

Kemenpar kini menaruh harapan pada pasar Asia: negara-negara ASEAN—terutama Malaysia dan Singapura—disusul Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Tujuh pasar ini dinilai paling rasional, yakni dekat secara geografis, memiliki penerbangan langsung, dan relatif aman dari efek domino konflik global.

Di tengah lanskap yang berubah, Kemenpar memilih bergerak. Bukan menunggu kepastian, melainkan menciptakan peluang di celah ketidakpastian itu.

Pos terkait