Tradisi Garebeg Syawal, Masjid Gedhe Kauaman Dipadati Pengunjung “Ngalah Berkah”

Garebeg Syawal
Ilustrasi tradisi tahunan menyambut Syawal atau Idul Fitri 1447 H dengan menggelar tradisi Garebeg Syawal. (Generated by AI)

TURISIAN.com – Sejak pagi buta, halaman Masjid Gedhe Kauman telah dipadati warga. Mereka menunggu satu peristiwa yang datang setahun sekali yakni Garebeg Syawal.

Tradisi ini digelar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai penanda syukur atas datangnya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Kerumunan tak sekadar menonton. Mereka menanti. Iring-iringan bregada prajurit yang turun dari dalam keraton menjadi penanda dimulainya prosesi.

Sementara barisan itu bergerak perlahan, mengiringi gunungan. Simbol kemakmuran dan berkah raja kepada rakyat.

Begitu rombongan mendekat ke halaman masjid, warga merapat. Sebagian mengangkat telepon genggam, mengabadikan momen.

Sebagian lain bersiap lebih dekat, menunggu saat yang paling dinanti: pembagian ubo rampe gunungan.

Ketika abdi dalem mulai membagikan hasil bumi itu, suasana berubah riuh. Tangan-tangan terulur. Wajah-wajah sumringah.

Ubo rampe yang didapat tak sekadar hasil rebutan, melainkan simbol berkah yang diyakini membawa kebaikan.

Di tengah kerumunan, Endang, warga Tambun, Bekasi, berdiri bersama anaknya. Ia bukan kali pertama datang.

“Sejak anak saya masih kecil,” ujarnya, “sekarang sudah lulus kuliah.”

Sementara itu perjalanan mudik ke Yogyakarta tahun ini ia lengkapi dengan satu ritual lama. Seusai salat Id, ia langsung menuju keraton.

Bagi Endang, Garebeg bukan sekadar tontonan, melainkan tradisi yang terus ingin ia wariskan.

Bagian Gunungan

Ia dan anaknya berhasil mendapatkan bagian gunungan. Keduanya lalu berfoto, memegang hasil bumi yang baru saja diterima.

“Buat kenang-kenangan saja,” katanya, “mumpung tahun ini masih bisa ke Yogya.”

Prosesi sendiri telah dimulai sejak pukul enam pagi. Dari kompleks dalam keraton, para prajurit disiapkan.

Gunungan ditata di Bangsal Pancaniti, lalu dibawa keluar melewati jalur tradisional menuju masjid.

Sedanbgkan tak kurang dari 14 bregada prajurit terlibat dalam iring-iringan itu. Mereka mengawal lima jenis gunungan.

Mulai dari kakung, estri, gepak, dharat, dan pawuhan. Masing-masing memiliki tujuan dan makna tersendiri.

Sebagian gunungan didoakan di masjid sebelum dibagikan. Sebagian lain dikirim ke Pura Pakualaman, Kepatihan, hingga Ndalem Mangkubumen.

Distribusi itu menegaskan satu hal: berkah raja tak berhenti di pusat kekuasaan, melainkan mengalir ke berbagai penjuru.

Dalam tradisi keraton, gunungan adalah lambang kemakmuran. Ia adalah representasi hubungan simbolik antara raja dan rakyat. Tentang memberi, menerima, dan merawat keseimbangan.

Garebeg Syawal, pada akhirnya, bukan sekadar perayaan. Ia adalah cara lama untuk mengatakan syukur yang hingga kini tetap dipertahankan, di tengah zaman yang terus berubah. ***

Pos terkait