Cap Go Meh Singkawang 2026, Ritual Tatung dan Ambisi Menarik Satu Juta Wisatawan

Cap Go Meh Singkawang
Ilustrasi perayaan Cap Go Meh di Singkawang. (Generated by AI)

TURISIAN.com – Perayaan Cap Go Meh kembali menghidupkan Kota Singkawang, Kalimantan Barat, tahun ini. Ribuan warga dan wisatawan memadati kota yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya Tionghoa terbesar di Indonesia tersebut.

Mereka berbondong-bontong datang untuk menyaksikan puncak rangkaian Tahun Baru Imlek.

Cap Go Meh, atau Festival Yuanxiao, merupakan penutup perayaan Imlek yang jatuh pada hari ke-15 kalender lunar. Pada 2026, perayaan ini berlangsung pada 3 Maret.

Meski bukan hari libur nasional, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Singkawang kembali menjadi magnet utama perayaan Cap Go Meh di Indonesia.

Rangkaian Festival Cap Go Meh Singkawang digelar sejak 28 Februari hingga 4 Maret 2026. Selama periode itu, kota ini dipenuhi berbagai agenda budaya.

Mulai dari festival kuliner khas Singkawang, pawai lampion, hingga ritual keagamaan di sejumlah vihara.

Sorotan utama perayaan tetap tertuju pada tradisi tatung—ritual spiritual yang dipercaya sebagai simbol penolak bala sekaligus doa keselamatan.

Tradisi ini menjadi ciri khas Cap Go Meh Singkawang karena memadukan unsur budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang telah berlangsung turun-temurun.

Sehari sebelum puncak perayaan, Senin, 2 Maret 2026, ratusan tatung menjalani ritual tolak bala atau dikenal sebagai cuci jalan.

Penyucian Jalur

Prosesi ini dilakukan pada hari ke-14 setelah Imlek sebagai bentuk penyucian jalur yang akan dilalui pawai utama.

Sebanyak 727 tatung ambil bagian dalam Festival Cap Go Meh tahun ini.

Ketua Pelaksana Perayaan Imlek dan Cap Go Meh Singkawang, Bun Cin Thong, menyebut peserta terdiri atas 523 tatung bertandu.

Kemudian, 108 tanpa tandu, 75 miniatur, 15 jelangkung, tiga naga, dua barongsai, serta satu rombongan jalan kaki.

Pada hari puncak, Selasa pagi, pawai tatung bergerak dari Kantor Wali Kota Singkawang menuju Simpang Hotel Prapatan sejak pukul 07.00 WIB.

Sepanjang rute, ribuan warga berjejer menyaksikan atraksi para tatung yang menampilkan berbagai ritual ekstrem sebagai simbol kekuatan spiritual.

Selain pawai tatung, Festival Cap Go Meh juga diramaikan Pawai Lampion 2026. Masyarakat dan organisasi lokal menghias kendaraan dengan ornamen khas Imlek. Menciptakan suasana malam kota yang semarak warna dan cahaya.

Untuk menyaksikan puncak perayaan dari tribun resmi, pengunjung dapat membeli tiket dengan harga mulai Rp 250 ribu.

Acara berlangsung sejak pagi hingga malam hari.

Pemerintah Kota Singkawang memanfaatkan momentum budaya ini untuk mendorong sektor pariwisata.

Sementara itu, Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menargetkan satu juta kunjungan wisatawan selama Festival Cap Go Meh 2026.

Menurut dia, tren kunjungan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan peningkatan signifikan. Pada 2023 tercatat 606.663 kunjungan wisatawan.

Jumlah tersebut sempat turun menjadi 305.496 pada 2024 karena pelaksanaan mini Cap Go Meh bertepatan dengan Pemilu Presiden.

Kunjungan Melonjak

Namun, angka kunjungan kembali melonjak menjadi 702.056 wisatawan pada 2025.

Target satu juta kunjungan dinilai realistis seiring semakin kuatnya posisi Cap Go Meh Singkawang sebagai agenda budaya nasional.

“Targe­t ini bukan sekadar angka, tetapi strategi memperkuat Singkawang sebagai destinasi wisata unggulan berbasis budaya dan toleransi,” ujar Tjhai.

Begitu pun dampak ekonomi dari perayaan ini mulai terasa bagi masyarakat dan pelaku UMKM.

Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Singkawang, Mokhlis, mengatakan tingkat hunian hotel meningkat tajam menjelang puncak acara.

Dari 47 hotel yang tersedia di Singkawang, sejumlah penginapan dilaporkan telah penuh dipesan wisatawan, di antaranya Swiss-Belinn Singkawang.

Lalu ada Hotel Mahkota Singkawang, Hotel Sentosa Singkawang, Hotel Hongkong Inn Singkawang, Hotel Cyndhai Singkawang, Hotel City Room Singkawang, dan Bobo Inn Singkawang.

Bagi Singkawang, Cap Go Meh bukan sekadar perayaan budaya. Ia telah menjelma menjadi panggung pariwisata sekaligus simbol harmoni lintas budaya yang terus hidup dari tahun ke tahun. ***

Pos terkait