TURISIAN.com – Udara dingin Lembang tak banyak membantu meredakan panas ribuan penonton Forestra 2026. Sabtu malam, 29 Agustus 2026, hutan pinus Orchid Forest Cikole berubah menjadi arena musik.
Sekitar pukul 20.37 WIB, Baskara Putra alias Hindia muncul di panggung. Rumah ke Rumah menjadi pembuka. Ribuan orang menyambutnya dengan nyanyian yang nyaris menenggelamkan suara sang penyanyi.
Hindia belum lama berada di panggung ketika suasana beralih. .Feast mengambil alih. Tarian Penghancur Raya menghantam dari pengeras suara.
Penonton bergerak mengikuti irama. Namun sebuah pesan di layar bawah panggung justru membuat perhatian mereka terpecah.
“VISUAL HARI INI TERTUTUP ASAP.”
Tak lama kemudian muncul kalimat lain: “RIP BAMBANG SETIAWAN 27 AGUSTUS 2026.”
Pesan itu diduga merujuk kepada Bambang Setiawan, pedagang kaca dan cermin di Pejompongan, Jakarta Pusat. Ia disebut menjadi korban dalam kericuhan seusai demonstrasi pada 27 Agustus 2026.
Di tengah pesta musik, kematian mendadak masuk ke dalam panggung.
Awan, vokalis .Feast, kemudian menyapa penonton. Ia mengucapkan terima kasih kepada Erwin Gutawa dan Jay Subyakto, dua nama yang menjadi bagian penting dari pertunjukan malam itu. Setelah itu, ia bicara tentang hutan.
Hutan yang terbakar
“Sebagaimana kita tahu, hutan Indonesia tengah terbakar, namun peradaban takkan pernah mati,” ujar Awan.
Kalimat itu tidak berhenti sebagai pernyataan. Ia menjadi pengantar menuju Peradaban.
Orkestra Erwin Gutawa mengisi ruang di antara denting dan hentakan musik .Feast. Suaranya terdengar besar di tengah pepohonan pinus.
Lampu panggung menembus kabut malam. Ribuan penonton menyanyikan bagian-bagian lagu yang mereka hafal.
Ada ironi yang sulit diabaikan. Konser berlangsung di tengah hutan, sementara dari panggung terdengar kabar tentang hutan yang terbakar.
Setelah Peradaban, .Feast melanjutkan pertunjukan dengan sejumlah lagu, antara lain Kami Belum Tentu. Penonton kembali larut.
Gitar dan distorsi
Lalu Mahalini muncul. Ia menjadi kolaborator dalam Nina.
Suasana sontak berubah menjadi lebih riuh. Suara Mahalini dan Baskara berpadu dengan orkestra. Penonton mengambil alih sebagian lagu. Ribuan suara bertumpuk menjadi satu.
Di tangan Erwin Gutawa Orchestra, musik .Feast memperoleh wajah lain. Gitar dan distorsi tidak hilang, tetapi diberi ruang oleh bunyi-bunyi orkestra.
Musik yang biasanya terdengar garang berubah menjadi lebih lebar dan dramatik.
Hindia kemudian kembali ke panggung. everything u are dimainkan dengan aransemen orkestra. Lagu itu terdengar berbeda dari versi yang biasa didengar melalui gawai. Lebih megah, lebih teatrikal.
Pertunjukan Musikal
Baskara berdiri di tengah panggung seperti aktor dalam sebuah pertunjukan musikal. Cahaya bergerak, orkestra mengalun, dan penonton mengikuti setiap bait.
Forestra malam itu memang menjual pertemuan musik orkestra dengan musisi populer. Tetapi di tengah pertunjukan, musik membawa cerita yang lebih luas dari sekadar hiburan.
Ada hutan yang terbakar. Ada kematian yang ditampilkan di layar. Ribuan orang yang bernyanyi di antara pepohonan.
Musik tetap berjalan. Peradaban, seperti kata Awan, belum mati.
Pertanyaannya justru: sampai kapan hutan tempat peradaban itu tumbuh mampu bertahan? ***





