TURISIAN.com – Objek Gunung Bromo kembali menerima wisatawan sejak Kamis, 20 Agustus 2026, pukul 00.01 WIB. Kawasan wisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru itu sebelumnya ditutup akibat kebakaran hutan dan lahan.
Pembukaan dilakukan setelah Balai Besar TNBTS mengevaluasi kondisi kawasan dan memastikan proses penanganan kebakaran telah dilalui.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyambut pembukaan tersebut. Bagi dia, kembalinya wisatawan ke Bromo bukan sekadar soal destinasi yang kembali beroperasi.
Ada roda ekonomi masyarakat yang ikut diputar.
“Pariwisata mempunyai mata rantai ekonomi yang panjang,” kata Widiyanti.
Penutupan Bromo selama masa darurat berdampak kepada banyak pihak. Seperti pemandu wisata, pengemudi jip, pengelola homestay dan hotel.
Termasuk, pemilik rumah makan, pedagang, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Karena itu, dibukanya kembali kawasan diharapkan mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat di sekitar Bromo.
Kebakaran ditangani melalui operasi terpadu selama 13 hari. Setelah api dikendalikan, petugas melakukan pendinginan, penyisiran, dan pemantauan kawasan.
Sementara itu, Kementerian Pariwisata mengapresiasi keterlibatan Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat.
Namun pembukaan pintu wisata bukan tanda bahwa persoalan selesai. Musim kemarau masih berlangsung. Risiko kebakaran pun tetap mengintai.
Menikmati Tanpa Membakar
Widiyanti meminta wisatawan tidak menganggap kawasan Bromo sebagai ruang bebas aturan.
Petugas di lapangan mesti diikuti. Puntung rokok tidak boleh dibuang sembarangan.
Api unggun dan aktivitas lain yang berpotensi menjadi sumber kebakaran harus dihindari.
“Menikmati objek Gunung Bromo berarti ikut menjaga Bromo,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi relevan bagi kawasan yang baru saja melewati masa genting.
Satu kelalaian kecil dapat berubah menjadi persoalan besar ketika vegetasi mengering dan angin membawa api ke wilayah yang lebih luas.
Pemerintah mempertahankan kuota kunjungan Bromo sebanyak 2.752 wisatawan per hari.
Pengunjung juga diminta memesan tiket melalui kanal resmi serta memantau pengumuman Balai Besar TNBTS sebelum berangkat.
Bromo bukan hanya latar bagi foto matahari terbit. Di balik bentang pasir, kawah, dan lerengnya terdapat ekosistem alam sekaligus ruang hidup masyarakat Tengger.
Karena itu, pemulihan kegiatan wisata tidak dapat dipisahkan dari pemulihan lingkungan.
“Pemulihan pariwisata harus berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan,” kata Widiyanti.
Bromo kini kembali terbuka. Pengemudi jip dapat kembali mengantar pelancong, penginapan mulai menerima tamu, warung kembali menunggu pembeli. Ekonomi lokal perlahan bergerak.
Tetapi api meninggalkan pelajaran yang belum selesai. Wisatawan datang untuk menikmati alam.
Tanggung jawab mereka adalah memastikan alam itu tidak menjadi korban dari kunjungan mereka sendiri.





