Bandung Great Sale 2026, Ketika Laswi Heritage Menjadi Etalase Kreativitas

Laswi Heritage
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat proses pengguntingan pita menandai dibukanya kegiatan Bandung Great Sale (BGS) 2026 di kawasan Laswi Heritage, Jumat, 21 Agustus 2026. (Dok.Pemkot Bandung)

TURISIAN.com – Bandung Great Sale 2026 tak lagi berurusan dengan mal semata. Pemerintah Kota Bandung memilih Laswi Heritage sebagai panggung perhelatan pesta belanja yang dibuka Jumat, 21 Agustus 2026.

Bangunan tua milik PT Kereta Api Indonesia itu menjadi latar bagi ratusan pelaku usaha, komunitas, dan produk kreatif Kota Bandung.

Pemilihan Laswi Heritage sekaligus memberi wajah baru bagi gelaran yang dua tahun sebelumnya berlangsung di pusat perbelanjaan modern.

Di tempat ini, transaksi ekonomi dipertemukan dengan jejak sejarah. Bangunan heritage menjadi semacam etalase bagi kreativitas yang terus tumbuh di Kota Bandung.

Sementara itu Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut pilihan lokasi itu sebagai gambaran karakter Bandung,  masa lalu tidak harus disingkirkan untuk memberi ruang bagi masa kini.

“Ini karakteristik Kota Bandung yang menunjukkan peninggalan masa lalu bisa berkolaborasi dengan kreativitas masa kini. Ini keren pisan,” ujar Farhan.

Farhan mengatakan Laswi Heritage bukan tempat baru bagi kegiatan ekonomi kreatif. Pada 2017, kawasan tersebut pernah digunakan untuk kegiatan serupa.

Ruang Publik

Hampir satu dekade berlalu, kawasan itu kini berkembang menjadi ruang publik dengan aktivitas yang lebih beragam.

Menurut dia, kreativitas Bandung tak lagi hanya berkisar pada fesyen dan kuliner. Komunitas dan modifikasi otomotif ikut meramaikan ruang kreatif tersebut.

“Sekarang kita masih bisa bikin event bahkan lebih dahsyat lagi. Kreativitasnya sudah macam-macam,” katanya.

Di tengah pesta belanja itu, pemerintah kota juga mendorong penggunaan transaksi digital. QRIS yang didukung Bank bjb disediakan bagi pengunjung dan pelaku usaha.

Cara pembayaran ini diharapkan membuat transaksi lebih praktis sekaligus mengurangi ketergantungan pada uang tunai.

Bagi Farhan, BGS bukan sekadar agenda diskon tahunan. Ia ingin kegiatan tersebut mempertegas posisi Bandung sebagai kota tujuan wisata belanja. Namun, yang dijual bukan hanya barang.

“Kita harus secara konsisten menunjukkan kepada dunia luar bahwa Bandung adalah kota tujuan belanja yang punya nilai tambah. Nilai tambahnya adalah komunitas dan kreativitas,” ujarnya.

Bulan Belanja Bandung

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung Ronny Ahmad Nurudin mengatakan BGS merupakan puncak rangkaian Bulan Belanja Bandung.

Program tersebut sebelumnya diisi Pasar Kreatif Bandung yang berlangsung dari 8 Juni hingga 9 Agustus 2026.

Di Laswi Heritage, 171 pelaku usaha ikut ambil bagian. Mereka berasal dari sektor fesyen, kuliner, kerajinan, serta komunitas.

Produk yang dipamerkan telah melalui proses kurasi untuk memastikan kualitas dan daya tariknya.

“Puncaknya adalah Bandung Great Sale dan di Laswi Heritage ada 171 pelaku usaha,” kata Ronny.

Pemerintah menargetkan perhelatan ini tidak berhenti pada transaksi. Perputaran uang dan arus wisatawan diharapkan ikut meningkat.

Sejumlah mitra transportasi pun dilibatkan untuk memudahkan orang datang ke Bandung.

PT KAI dan KCIC memberikan potongan harga perjalanan menuju Bandung. Gojek menyiapkan promosi bagi pengguna layanan transportasi daring.

12 unit Bus Bandros

Pemerintah Kota Bandung juga mengerahkan 12 unit Bus Bandros yang singgah di Laswi Heritage. Pengunjung yang menggunakan Bandros menuju lokasi mendapat potongan harga hingga 50 persen.

BGS berlangsung hingga 23 Agustus 2026. Diskon ditawarkan oleh tenant ritel, restoran, kafe, dan hotel. Sebagian bahkan memangkas harga hingga 80 persen.

Ada pula flash sale yang digelar pukul 19.00 WIB selama 21 menit 6 detik. Durasi itu disesuaikan dengan momentum Hari Jadi ke-216 Kota Bandung.

Laswi Heritage, untuk beberapa hari, bukan sekadar bangunan tua yang menyimpan cerita tentang perjalanan kereta api.

Ia berubah menjadi ruang transaksi, tempat komunitas bertemu, dan panggung bagi produk lokal.

Di sana, sejarah dipakai bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk memberi nilai tambah pada ekonomi kreatif Bandung. ***

Pos terkait