Kultura Persib, Saat Sejarah dan Kenangan Bobotoh Menjelma Karya Seni

Kultura Persib
Grey Art Gallery di Jalan Braga Nomor 47, Kota Bandung menampilkan sejarah panjang perjalanan Persib Bandung. (Foto: Dok.Pemkot Bandung)

TURISIAN.com – Di sebuah bangunan tua di kawasan Braga, Bandung, kisah panjang Kultura Persib menemukan medium baru untuk diceritakan.

Bukan melalui sorak-sorai stadion atau statistik pertandingan, melainkan lewat kanvas, mural, arsip, hingga instalasi seni yang merekam perjalanan klub kebanggaan Jawa Barat itu.

Grey Art Gallery menghadirkan pameran bertajuk Kultura Persib. Sebuah perhelatan yang mencoba memotret Persib sebagai fenomena budaya.

Pameran ini dibuka untuk publik mulai 9 Juni hingga 10 September 2026 di Jalan Braga Nomor 47, Kota Bandung.

Sementara itu kurator Grey Art Gallery, Angga Aditya Atmadilaga, mengatakan gagasan pameran berangkat dari keresahan para seniman yang selama ini menjadikan Persib sebagai sumber inspirasi.

Namun belum memiliki ruang khusus untuk menampilkan karya-karya mereka.

“Persib menjadi denyut nadi yang memberikan banyak inspirasi dalam karya para seniman. Tetapi selama ini belum ada ruang yang secara khusus mewadahi ekspresi visual tentang Persib,” kata Angga, Kamis, 4 Juni 2026.

Menurut dia, pemilihan Grey Art Gallery bukan sekadar soal lokasi. Galeri yang berada di jantung Kota Bandung itu dinilai mudah dijangkau masyarakat dan beroperasi setiap hari. Sehingga ini memungkinkan publik mengakses pameran dalam rentang waktu yang lebih panjang.

Namun pameran ini tidak berhenti pada karya seni semata. Kultura Persib mencoba membaca Persib sebagai bagian dari kebudayaan urban Bandung yang tumbuh dan diwariskan lintas generasi.

Karena itu, penyelenggara memilih kata “kultura” untuk menggambarkan beragam ekspresi visual yang lahir dari hubungan masyarakat dengan klub tersebut.

Kontributornya datang dari berbagai latar belakang. Tidak hanya seniman, tetapi juga warga yang menyimpan kenangan pribadi bersama Persib.

Domentasi Foto

Ada yang mengirim arsip lama, dokumentasi foto, hingga kisah-kisah yang kemudian diterjemahkan ke dalam karya visual.

Proses kurasi dilakukan melalui mekanisme open call. Di saat yang sama, sejumlah fotografer, kolektor arsip, dan sejarawan yang memiliki dokumentasi terkait Persib turut diundang untuk berpartisipasi.

Hasilnya, sebanyak 70 kontributor ambil bagian dengan menghadirkan 95 objek pameran.

Isinya beragam, mulai dari karya seni rupa, mural, instalasi, dokumentasi fotografi, arsip sejarah, hingga koleksi buku yang merekam perjalanan Persib dari masa ke masa.

Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah rangkaian patung karya seniman Iwong.

Patung-patung tersebut dibuat sebagai penghormatan kepada tokoh-tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah Persib. Yakni Indra Thohir, H. Umuh Muchtar, Jajang Nurjaman, dan Bojan Hodak.

Pameran dibagi ke dalam lima area. Di bagian depan galeri, pengunjung disambut infografis yang merangkum perjalanan sejarah Persib beserta berbagai gelar yang pernah diraih.

Ruang-ruang lain menampilkan arsip, karya seni, serta dokumentasi yang mengajak pengunjung menelusuri jejak klub yang berdiri sejak 1933 itu.

Personal Bobotoh

Bagi Angga, justru karya-karya yang lahir dari pengalaman personal Bobotoh menjadi bagian paling menarik dalam pameran ini.

Salah satunya mural tentang kecintaan terhadap Persib yang diwariskan dari orang tua kepada anak.

Ada pula karya yang menggambarkan suasana era 1990-an ketika para pendukung rela memanjat pohon demi menyaksikan pertandingan karena keterbatasan akses ke stadion.

Cerita-cerita semacam itu, menurut Angga, menunjukkan bahwa Persib bukan sekadar klub sepak bola. Ia telah menjadi bagian dari memori kolektif warga Bandung.

Melalui Kultura Persib, Grey Art Gallery berupaya menghadirkan sudut pandang lain tentang Persib sebagai warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Tumbuh bersama kota, dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pameran ini dapat dikunjungi dengan tiket Rp25 ribu pada hari kerja dan Rp35 ribu pada akhir pekan.

Pengunjung diperbolehkan memotret karya yang dipamerkan. Namun diminta tidak menyentuh arsip, jersey koleksi, maupun objek pameran lainnya demi menjaga kelestariannya. ***

Pos terkait