TURISIAN.com – Liburan musim panas di China tak lagi sekadar jeda dari rutinitas sekolah. Musim ini menjelma menjadi mesin penggerak ekonomi yang mengalirkan jutaan orang ke berbagai destinasi wisata.
Dari pegunungan berselimut hutan hingga gurun di Xinjiang.
Fenomena yang dikenal sebagai Shuyun—gelombang perjalanan musim panas—kini menjadi penanda baru tingginya mobilitas masyarakat Negeri Tirai Bambu.
Di kaki Gunung Changbai, Provinsi Jilin, sekelompok siswa sekolah menengah dari Beijing menyusuri hutan yang sejuk dengan suhu sekitar 22 derajat Celsius.
Di tengah rimbunnya pepohonan, mereka menguji kualitas air sungai dan mengumpulkan spesimen tanaman.
Apa yang selama ini hanya mereka baca di buku pelajaran berubah menjadi pengalaman langsung di alam terbuka.
“Semua yang kami pelajari di kelas terasa hidup di sini,” ujar Zhao Siheng, siswa Sekolah Menengah Universitas Tsinghua Beijing seperti dari Xinhua, Juamt 24 Juli 2026.
Gunung Changbai memang sedang menikmati masa keemasannya sebagai destinasi wisata edukasi.
Hutan yang masih terjaga, udara pegunungan yang dingin, serta beragam program studi lapangan membuat kawasan ini dibanjiri rombongan pelajar. Termasuk, keluarga yang ingin menggabungkan rekreasi dengan pembelajaran.
Sementara itu libur sekolah yang berlangsung sejak awal Juli membawa China memasuki puncak perjalanan musim panas selama dua bulan.
Berbeda dengan Chunyun, tradisi mudik Festival Musim Semi yang dikenal sebagai migrasi manusia terbesar di dunia.
Shuyun didorong oleh kebutuhan masyarakat mencari udara sejuk, pengalaman baru, sekaligus aktivitas keluarga selama liburan.
China State Railway Group memperkirakan sebanyak 1,01 miliar perjalanan penumpang akan terjadi selama periode libur musim panas hingga 31 Agustus 2026.
Mobilitas Domestik
Rata-rata mencapai 16,29 juta perjalanan setiap hari, angka yang mencerminkan besarnya mobilitas domestik selama liburan musim panas.
Sedangkan data Tongcheng Travel menunjukkan keluarga dan pelajar menjadi tulang punggung perjalanan musim panas tahun ini.
Wisata keluarga menyumbang sekitar 38 persen penumpang penerbangan domestik, sementara pelajar mencapai 29 persen.
Artinya, lebih dari 60 persen perjalanan udara nasional didominasi dua kelompok tersebut.
Kecenderungan wisata edukasi pun terus meningkat. Permintaan pencarian paket perjalanan bertema sastra klasik dan puisi China kuno melonjak lebih dari 130 persen. Paling tidak jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perjalanan tidak lagi dipandang sekadar hiburan, melainkan bagian dari proses belajar.
Di Provinsi Hainan, Kota Wenchang memanfaatkan momentum tersebut dengan menawarkan wisata antariksa.
Kota yang menjadi lokasi satu-satunya pusat peluncuran roket pesisir China menghadirkan berbagai aktivitas interaktif, mulai dari merakit roket air hingga mengenal proses peluncuran satelit.
Selama musim panas, jumlah pengunjung meningkat tiga hingga empat kali lipat dibandingkan hari biasa.
Kelompok lanjut usia juga menjadi pasar penting. Li Yixiang, fotografer berusia 62 tahun asal Provinsi Zhejiang, memilih menghabiskan lima hari di Gunung Changbai bersama teman-temannya.
“Udara di sini sangat segar dan pemandangannya luar biasa. Saya bisa memotret berjam-jam tanpa terganggu panas,” katanya soal liburan musim panas tersebut.
Lonjakan wisatawan membuat Bandara Gunung Changbai membuka sejumlah rute baru dan menambah frekuensi penerbangan dari Beijing, Shanghai, Jinan, hingga Wuhan.
Kereta wisata Y913
Selama musim panas, volume penerbangan diperkirakan meningkat lebih dari 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sedanglan di Xinjiang juga menikmati berkah serupa. Wilayah di barat laut China tersebut diproyeksikan melayani 12,7 juta perjalanan kereta api sepanjang Juli hingga Agustus.
Operator kereta menghadirkan layanan wisata khusus yang memadukan transportasi dengan pengalaman berlibur.
Salah satunya adalah kereta wisata Y913 yang dijuluki New Oriental Express China. Kereta mewah ini mengajak wisatawan menikmati panorama Kanas, Danau Sayram.
Ada juga Padang Rumput Narat, Bayanbulak hingga Pegunungan Pamir dalam perjalanan selama 11 hari.
Selain fasilitas akomodasi, kereta dilengkapi restoran, lounge, pub, ruang hiburan, kursi pijat hingga ruang karaoke.
Selama perjalanan, penumpang juga mengikuti ceramah mengenai sejarah Xinjiang, budaya etnis, hingga kesehatan.
Konsep ini menjadi bagian dari strategi pemerintah mengintegrasikan sektor transportasi dengan industri budaya dan pariwisata.
Tak hanya wisatawan domestik, China juga mulai menikmati lonjakan kunjungan internasional.
Agen perjalanan di Xinjiang mencatat meningkatnya minat wisatawan dari Vietnam dan Thailand terhadap destinasi budaya di Xinjiang selatan.
Di kaki Pegunungan Changbai, Desa Toushan bahkan menerima lebih dari 200 remaja asal Rusia yang mengikuti program wisata edukasi dan petualangan.
Pertumbuhan tersebut ditopang kebijakan bebas visa yang terus diperluas pemerintah China.
Selain memperpanjang masa tinggal wisatawan asing, pemerintah juga menghadirkan berbagai kemudahan. Termasuk layanan pengembalian pajak secara instan.
Administrasi Imigrasi Nasional mencatat, sepanjang semester pertama 2026, jumlah kedatangan wisatawan asing tanpa visa melonjak 30,6 persen menjadi lebih dari 17,8 juta orang.
Sementara sepanjang 2025, China menerima lebih dari 150 juta kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat lebih dari 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Hainan University
Guru Besar Ekonomi Universitas Jilin, Sun Zhe, menilai pola perjalanan masyarakat China sedang mengalami perubahan mendasar.
Wisata tidak lagi sebatas menikmati panorama, melainkan mencari pengalaman hidup melalui tur edukasi, wisata kesehatan, olahraga, hingga kebudayaan.
Pengamat pariwisata dari Hainan University, Tong Yun, melihat ledakan perjalanan musim panas mencerminkan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Pertumbuhan pendapatan, sistem cuti berbayar yang semakin baik, serta jaringan transportasi modern membuat masyarakat semakin mudah bepergian.
Selama Rencana Lima Tahun ke-14, China memperluas jaringan transportasi secara masif. Hingga akhir 2025, panjang jalur kereta api mencapai 165 ribu kilometer.
Jaringan jalan raya membentang sekitar 5,58 juta kilometer, sementara jumlah bandara sipil bertambah menjadi 270 unit.
Bagi China, Shuyun kini bukan sekadar musim liburan. Ia telah berubah menjadi mesin ekonomi yang menggerakkan konsumsi domestik.
Memperkuat industri pariwisata, sekaligus memperlihatkan bagaimana jaringan transportasi modern mampu menghubungkan ratusan juta orang dengan pengalaman perjalanan yang semakin beragam. ***





