TURISIAN.com – Kunjungan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana ke kawasan Danau Toba pekan lalu bukan sekadar agenda seremonial.
Di destinasi yang masuk kategori super prioritas itu, pemerintah pusat seperti sedang menguji kesiapan lapangan. Yakni, sejauh mana infrastruktur, fasilitas, dan pengelolaan budaya benar-benar siap menyambut lonjakan wisatawan.
Rangkaian kunjungan dimulai dari Geosite Sipinsur. Sebuah titik pandang yang kerap disebut sebagai salah satu panorama terbaik Danau Toba.
Di sana, Widiyanti menyusuri area geosite, menyapa pengunjung, sekaligus mendengar langsung keluhan dan harapan pemerintah daerah.
Sementara itu, Bupati Humbang Hasundutan, Oloan Paniaran Nababan, tak menutup-nutupi persoalan.
Ia menyinggung kebutuhan pendampingan teknis untuk penataan kawasan agar mampu bersaing di level global.
“Geosite ini bukan sekadar indah, tapi bagian dari sejarah geologi dunia,” kata Widiyanti, Kamis, 16 April 2026.
Dari Sipinsur, rombongan bergerak menuju Kabupaten Samosir melalui Pelabuhan Muara di Tapanuli Utara.
Di titik ini, Wakil Bupati Deni Parlindungan Lumbantoruan mengajukan satu agenda yang kian populer yaitu sport tourism.
Perairan Terbuka
Ia berharap dukungan kementerian untuk penyelenggaraan lomba renang perairan terbuka (open water swimming) di kawasan Danau Toba.
Di Samosir, sorotan bergeser ke destinasi religi dan waterfront.
Widiyanti meninjau Patung Yesus Kristus Sibeabea dan kawasan Waterfront City Pangururan.
Lanskapnya memukau, tetapi persoalan dasar belum sepenuhnya tuntas.
Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom, secara lugas menyampaikan kebutuhan mendesak, mulai dari air bersih hingga promosi destinasi.
“Kami butuh percepatan, terutama untuk infrastruktur dasar,” ujarnya.
Sedangkan kunjungan ditutup di Desa Wisata Huta Siallagan. Sebuah ruang hidup yang merawat ingatan masa lalu.
Saat tiba di desa ini, rumah adat Batak berdiri tegak di antara batu persidangan yang dahulu menjadi pusat hukum tradisional.
Begitu pun ketika bertemu para pelaku wisata lokal, Widiyanti mendengarkan penjelasan tentang praktik budaya yang masih bertahan. Sekaligus menengok denyut ekonomi kecil: toko suvenir dan usaha kreatif warga.
Di titik inilah pesan pemerintah terasa lebih konkret: pariwisata tak hanya soal pemandangan. Tetapi juga tentang bagaimana masyarakat setempat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang tumbuh.
Kunjungan ini, pada akhirnya, menjadi cermin bahwa ambisi menjadikan Danau Toba sebagai destinasi kelas dunia masih menyisakan pekerjaan rumah yang tak sedikit. ***





