TURISIAN.com – Atraksi pergantian pasukan jaga di Istana Merdeka pelan tapi pasti menjelma tontonan publik. Sejak pertama kali digelar pada Februari 2026, prosesi Serah Terima Kawal Istana rutin menyedot perhatian warga.
Mereka memadati Jalan Medan Merdeka Utara setiap Minggu pagi, berbarengan dengan Car Free Day Jakarta.
Pagi itu, sebelum jarum jam menyentuh pukul tujuh, warga sudah beringsut memenuhi jalanan hingga ke kawasan Taman Pandang Istana.
Pengunjung datang dari berbagai penjuru, sebagian membawa keluarga, sebagian lain datang berkelompok.
Tak sedikit pula komunitas motor—dari Vespa, RX King, hingga PCX—yang ikut meramaikan suasana.
Rangkaian acara dimulai setengah jam lebih awal dari waktu utama. Dua motoris perempuan dari Pasukan Pengamanan Presiden membuka pertunjukan.
Mereka melesat cepat, meliuk-liuk dalam formasi zigzag yang presisi. Tepuk tangan pecah, bersahut-sahutan, memantul di antara pagar dan pepohonan.
Atraksi berlanjut. Enam motoris dari Batalyon Pengawal Protokoler Kenegaraan tampil dari dua arah berlawanan.
Memperagakan manuver kecepatan tinggi yang terukur. Seorang di antaranya bahkan berdiri di atas motor yang terus melaju. Sebuah adegan yang membuat penonton menahan napas sejenak sebelum kembali riuh.
Setelah deru mesin mereda, panggung beralih ke sekelompok prajurit perempuan.
Mereka menari, ringan namun kompak. Tanpa aba-aba panjang, pertunjukan itu berubah menjadi semacam flash mob.
Batalyon Kavaleri
Lagu “Gemu Fa Mi Re” mengalun, dan warga pun larut, menirukan gerakan dengan canggung namun penuh antusias.
Tepat pukul delapan, suasana mendadak berubah. Riuh perlahan surut, berganti hening yang tertib.
Sementara itu warga yang sejak tadi berdesakan, kini memberi ruang di tengah jalan. Prosesi inti dimulai.
Pasukan berkuda dari Batalyon Kavaleri Pasukan Pengamanan Presiden memasuki arena dengan langkah teratur.
Di belakangnya, barisan prajurit berseragam khusus mengikuti, lengkap dengan senjata di tangan.
Sedangkan upacara berlangsung dalam rangkaian yang rapi. Laporan kepada komandan kompleks, penghormatan antar pasukan lama dan baru, hingga serah terima Bendera Kawal Istana.
Sedangkan di sela prosesi, atraksi kuda dan formasi senapan menambah kesan seremonial yang kuat. Perpaduan disiplin militer dan pertunjukan publik yang terjaga ritmenya.
Usai upacara, pagar formalitas kembali dilonggarkan. Warga dipersilakan mendekat. Kamera ponsel terangkat serentak, mengabadikan momen bersama pasukan berkuda dan prajurit jaga.
Di latar, deretan Vespa berwarna-warni milik komunitas turut meramaikan komposisi visual. Sebuah penutup yang terasa cair bagi sebuah upacara yang baru saja berlangsung khidmat. ***





