TURISIAN.com – Bandara Internasional Husein Sastranegara kembali menggeliat. Pesawat datang dan pergi, membawa penumpang dari berbagai kota.
Bagi Pemerintah Kota Bandung, denyut baru bandara itu bukan sekadar soal penerbangan. Husein hendak dijadikan pintu masuk untuk menjual wajah Bandung.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pemerintah kota tengah bekerja sama dengan Angkasa Pura untuk memanfaatkan sejumlah ruang di kawasan bandara sebagai media promosi kota.
Videotron dan area tunggu akan menjadi bagian dari etalase tersebut.
Farhan menyebut seni, budaya, dan kuliner sebagai identitas yang hendak ditampilkan.
Pemerintah kota juga menjajaki dukungan anggaran dan sponsor untuk menghadirkan kesenian tradisional serta display produk kuliner lokal.
“Angkasa Pura menyediakan space untuk melakukan branding kota dan kita bekerja sama dengan salah satu pengusaha reklame di Kota Bandung,” kata Farhan saat mengunjungi Bandara Husein Sastranegara, Kamis, 27 Agustus 2026.
Ia menyebut promosi itu sebagai upaya mengenalkan “rasa” Bandung kepada penumpang. Rasa, kata Farhan, tak selalu berkaitan dengan lidah.
“Branding Kota Bandung ini kita akan mulai dari masalah rasa. Mau rasa di hati, rasa di lidah atau rasa di pikiran masing-masing selama ada di Kota Bandung,” ujarnya.
Terminal Keberangkatan
Pemerintah kota juga ingin membawa promosi itu ke terminal keberangkatan. Sebuah ruangan tengah dijajaki untuk disewa sebagai outlet penjualan produk khas Bandung.
Dengan begitu, penumpang yang hendak meninggalkan kota dapat membawa pulang sebagian kecil dari Bandung.
“Ini deal terpisah. Kami sedang menjajaki kerja sama di terminal keberangkatan untuk menyewa sebuah ruangan untuk outlet penjualan produk-produk khas Kota Bandung,” ujar Farhan.
Bandara yang kembali aktif juga menuntut kesiapan kota. Pemerintah Bandung telah membenahi jalan dan penerangan jalan umum di sekitar bandara.
Berikutnya, akses ke arah utara akan diperbaiki hingga tersambung dengan kawasan lampu merah dan gerbang Tol Pasteur.
Farhan tak ingin pertumbuhan jumlah penerbangan justru membuat akses menuju bandara menjadi persoalan baru.
Infrastruktur, menurut dia, harus bergerak lebih cepat atau setidaknya seirama dengan aktivitas penerbangan.
Untuk sementara, Husein belum menghadapi lonjakan penumpang. Jumlahnya sekitar 1.000 orang per hari, masih di bawah target awal 3.000 penumpang.
Pergerakan Penumpang
Angka itu bahkan belum mendekati ambisi jangka panjang pemerintah kota, yakni mengembalikan jumlah penumpang ke sekitar 2,7 juta orang per tahun.
“Kalau 3.000 penumpang kita mulai merasakan bebannya bertambah. Sedangkan target besarnya kita ingin mendapatkan kembali 2,7 juta. Kalau 2,7 juta itu berarti sekitar 9.000 penumpang per hari. Ini akan lain sekali rasanya,” kata Farhan.
Saat ini pelayanan bandara masih relatif longgar. Jumlah penerbangan yang belum banyak membuat pergerakan penumpang belum menimbulkan beban berarti.
“Sejauh ini karena memang jumlah penerbangan masih belum banyak semuanya baik-baik saja, everybody happy,” ujarnya.
Persoalan lain adalah harga tiket. Farhan mengatakan pemerintah kota masih menghitung elastisitas harga terhadap permintaan penerbangan dari dan menuju Bandung.
Sementara itu data yang diterima dari Garuda Group menunjukkan tingkat keterisian pesawat masih di atas 90 persen.
Tingginya tingkat keterisian itu, menurut Farhan, antara lain karena frekuensi penerbangan masih terbatas.
Pemerintah berharap maskapai menambah jumlah penerbangan seiring meningkatnya permintaan.
“Karena jumlah penerbangannya masih sedikit. Kita akan mencoba nanti, tentu saja pihak maskapai penerbangan akan mencoba untuk menambah jumlah penerbangan,” katanya.
Destinasi penerbangan
Husein juga disiapkan menjadi bagian dari strategi pendidikan Bandung. Pemerintah kota berencana mempromosikan perguruan tinggi di Bandung ke daerah-daerah yang memiliki konektivitas penerbangan langsung dengan Husein Sastranegara.
Program tersebut ditargetkan mulai didorong menjelang semester pertama 2027. Logikanya sederhana: semakin mudah akses menuju Bandung, semakin besar pula peluang kota ini menarik mahasiswa dari luar daerah.
“Kita akan mendorong promosi perguruan tinggi Bandung di luar Kota Bandung yang memiliki destinasi penerbangan dengan Husein Sastranegara,” ujar Farhan.
Bandung selama ini dikenal sebagai salah satu kota pendidikan. Dengan kembali beroperasinya Husein, pemerintah kota melihat peluang untuk memperkuat posisi tersebut.
“Kalau demikian, kita mempromosikan kemudahan akses melalui penerbangan. Bagaimanapun juga untuk pendidikan kita akan investasi besar,” tutur Farhan.
Bandara, dalam kalkulasi pemerintah kota, akhirnya bukan hanya tempat pesawat mendarat dan lepas landas.
Ia menjadi halaman depan Bandung yakni tempat wisatawan pertama kali mengenal kota.
Tempat produk lokal dipajang, dan kelak menjadi salah satu jalan bagi calon mahasiswa untuk memilih Bandung sebagai tujuan pendidikan.***





