Raisa Perdana Bawakan Cahaya Hati, Lagu yang Menjadi Napas Hikayat Srikandi Nusantara

Cahaya Hati
(Instagram/@raisa6690)

TURISIAN.com – Suara Raisa akan mengalun untuk pertama kalinya membawakan Cahaya Hati di hadapan publik dalam Pagelaran Sabang Merauke bertajuk Hikayat Srikandi Nusantara.

Lagu itu akan diperkenalkan bersamaan dengan pementasan kolosal yang digelar pada 21-23 Agustus 2026.

Bagi Raisa, Cahaya Hati bukan sekadar lagu tema. Ia menyebut karya tersebut sebagai ruh yang menghidupkan perjalanan para Srikandi di atas panggung.

“Aku ngerasa lagu Cahaya Hati ini memang core-nya Srikandi, tempatnya dia membagikan semangat ke pasukannya maupun semangat ke para penonton,” kata Raisa dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa 4 Agustus 2026.

Lagu itu lahir dari kolaborasi sejumlah nama di industri musik dan pertunjukan.

Liriknya ditulis Vice President Director & Deputy CEO iForte Silvi Liswanda, sementara komposisinya digarap gitaris Sheila on 7, Eross Candra.

Aransemen musik kemudian dikembangkan oleh Elwin Hendrijanto, yang memadukan orkestra, paduan suara, musik pop, dan instrumen tradisional Indonesia menjadi satu lanskap musikal.

Menurut Eross, proses penciptaan Cahaya Hati berbeda dari membuat sebuah lagu tunggal.

Sejak awal, musik dirancang tumbuh bersama alur cerita, mengikuti perkembangan emosi dan karakter yang hadir di atas panggung.

“‘Cahaya Hati’ bukan dibuat setelah cerita selesai. Sejak awal kami berdiskusi bersama tim kreatif mengenai karakter, emosi, dan perjalanan yang ingin dibangun di atas panggung,” ujar Erros

Proses Kreatif

“Karena itu, musiknya ikut bertumbuh bersama cerita,” sambungnya.

Tantangan itu, menurut dia, justru membuat proses kreatif lagu tersebut memiliki pengalaman yang berbeda dibandingkan ketika menciptakan sebuah single.

Silvi Liswanda mengatakan lirik Cahaya Hati berangkat dari upaya menerjemahkan nilai-nilai yang diusung Hikayat Srikandi Nusantara menjadi karya yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Keberanian, keteguhan hati, pengorbanan, dan harapan menjadi benang merah yang ingin dihadirkan tanpa kehilangan relevansinya dengan kehidupan masa kini.

“Kami tidak ingin Cahaya Hati hanya menjadi lagu untuk sebuah pertunjukan. Lagu ini lahir dari semangat keberanian, keteguhan hati. Pengorbanan, dan harapan yang diwakili sosok Srikandi, tetapi kami ingin nilai-nilai tersebut tetap terasa dekat dengan kehidupan saat ini,” katanya.

Sementara itu pagelaran Sabang Merauke tahun ini mengangkat kisah Hikayat Srikandi Nusantara.

Sebuah pertunjukan seni kolosal yang merangkai cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah melalui sudut pandang perempuan.

Sedangkan produksinya melibatkan sekitar 1.700 pelaku seni dan tim kreatif. Mereka terdiri atas 15 penyanyi, satu grup band, 387 penari.

Kemudian 119 anggota paduan suara, 60 musisi orkestra, serta musisi tradisional yang memainkan 50 alat musik Nusantara.

Skala pertunjukan itu juga tercermin dari keterlibatan 11 tim koreografer, 16 perancang kostum, 103 koreografi. Dan 28 lagu yang akan mengiringi perjalanan kisah para Srikandi di atas panggung. ***

 

Pos terkait