Henry Husada Apresiasi Pemkot Bandung Libatkan UMKM dalam Destinasi Wisata Baru

destinasi wisata baru
Sistem transaksi menggunakan koin kayu sebagai simbol pelestarian destinasi baru Padaringan Leuweung Awi Cisurupan di kawasan Bukit Mbah Garut, Kelurahan Cisurupan, Kecamatan Cibiru. (Dok.Pemkot Bandung)

TURISIAN.com – Pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam pengembangan destinasi wisata baru dinilai menjadi langkah strategis Pemerintah Kota Bandung untuk memperkuat ekonomi masyarakat.

Kebijakan itu diyakini tidak hanya menciptakan ruang usaha baru, tetapi juga membangun optimisme para pelaku UMKM agar terus menghadirkan produk yang berkualitas dan berdaya saing.

Tokoh pariwisata sekaligus tokoh UMKM, Henry Husada, mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Bandung yang sejak awal melibatkan pelaku UMKM.

Khususnya, dalam pengembangan Padaringan Leuweung Awi Cisurupan di kawasan Bukit Mbah Garut, Kelurahan Cisurupan, Kecamatan Cibiru.

Destinasi wisata berbasis masyarakat tersebut diresmikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pada Minggu, 2 Agustus 2026.

“Saya pikir memang langkah yang tepat, ketika ada destinasi baru pemerintah kota juga mendorong agar pelaku UMKM ikut terlibat,” kata Henry saat dihubungi Turisian.com, Selasa, 4 Agustus 2026.

Menurut Henry, kehadiran UMKM di sebuah destinasi wisata tidak hanya memperkuat daya tarik kawasan. Tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

Ia menilai konsep pengembangan wisata berbasis komunitas akan berjalan lebih berkelanjutan. Tentu saja,  apabila masyarakat menjadi bagian utama dari rantai ekonomi yang tercipta.

“Kebijakan seperti ini akan menambah rasa optimisme pelaku UMKM untuk terus menghadirkan produk-produk yang berkualitas. Mereka merasa memiliki ruang untuk berkembang karena pemerintah memberikan kesempatan yang nyata,” ujarnya.

Memiliki identitas lokal

Henry menambahkan, keterlibatan UMKM sejak tahap awal pengembangan destinasi juga akan mendorong lahirnya produk-produk kreatif yang memiliki identitas lokal.

Kondisi tersebut pada akhirnya akan memperkuat citra destinasi sekaligus memberikan pengalaman yang lebih autentik bagi wisatawan.

Ia berharap pola kolaborasi seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung dapat diterapkan secara konsisten pada pengembangan destinasi wisata lainnya.

Henry Husada, Tokoh Pariwisata yang juga CEO Kagum Group. (Foto: Turisian.com/Adisas)

Dengan demikian, pertumbuhan sektor pariwisata akan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Padaringan Leuweung Awi Cisurupan sendiri menjadi salah satu contoh pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat.

Dimana, dalam konsepnya  menggabungkan potensi wisata alam, budaya, religi, dan ekonomi kreatif.

Kawasan tersebut dikelola langsung oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bersama masyarakat setempat.

Hasil Kolaborasi

Seangkan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan kawasan itu merupakan hasil kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan potensi ekonomi lokal.

“Ini adalah karya masyarakat. Karena itu menjadi kewajiban kita semua untuk menjaga setiap pohon dan kelestarian kawasan ini. Pepohonan membuat Kota Bandung tetap sejuk, menjaga sumber air, sekaligus menjadi daya tarik wisata yang dicari wisatawan,” kata Farhan.

Menurut Farhan, Padaringan Leuweung Awi Cisurupan tidak hanya dikembangkan sebagai destinasi wisata, tetapi juga menjadi ruang edukasi mengenai pentingnya hidup berdampingan dengan alam.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan Pokdarwis, seniman, pelaku UMKM, perangkat daerah, hingga masyarakat yang bergotong royong menghidupkan kawasan tersebut.

Farhan berharap kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata unggulan Kota Bandung yang dikelola secara berkelanjutan.

Pengembangan Daya Tarik

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menjelaskan aktivasi Padaringan Leuweung Awi Cisurupan merupakan bagian dari pengembangan daya tarik wisata berbasis masyarakat.

Menurut dia, destinasi yang berkelanjutan hanya dapat terwujud melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, dan pelaku usaha.

Sementara Ketua Pokdarwis Cisurupan Ari Irawan mengatakan kawasan tersebut mengusung konsep pasar tradisional berbasis alam dengan menghadirkan sekitar 20 pelaku UMKM lokal.

Termasuk, pertunjukan seni budaya, serta sistem transaksi menggunakan koin kayu sebagai simbol pelestarian budaya tempo dulu.

Selain menikmati kuliner tradisional khas Sunda, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan seni, menikmati suasana hutan bambu yang masih alami, hingga berziarah ke situs religi Mbah Garut.

Peresmian Padaringan Leuweung Awi Cisurupan ditandai dengan pemukulan gong oleh Wali Kota Bandung sebagai simbol dimulainya aktivasi destinasi wisata baru.

Destinasi wisata yang berbasis pelestarian alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. ***

Pos terkait