TURISIAN.com – Dua sepeda motor (riders) meninggalkan Kota Bandung pada Sabtu pagi, 1 Agustus 2026. Di balik perjalanan yang akan membentang sejauh 1.945 kilometer hingga Nusa Tenggara Timur, tersimpan misi yang lebih besar daripada sekadar menaklukkan jalanan lintas pulau.
Kedua pengendara itu membawa 17 Bendera Merah Putih dan paket perlengkapan sekolah yang akan diserahkan kepada siswa di 17 sekolah dasar yang mereka singgahi.
Perjalanan bertajuk Lintangnusa itu melintasi delapan provinsi, mulai dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.
Setiap pemberhentian dirancang bukan hanya sebagai titik istirahat. Melainkan ruang untuk menyampaikan pesan bahwa semangat kemerdekaan dapat hadir melalui tindakan sederhana yang memberi manfaat bagi orang lain.
Di balik gagasan itu, Founder Respiro, Arif Utomo, menyimpan kegelisahan yang telah lama dipendam.
Ia melihat semakin banyak anak muda memandang masa depan dengan rasa cemas. Survei Litbang Kompas pada 2025 yang menunjukkan 53,9 persen generasi muda pesimistis terhadap kondisi politik dan ekonomi menjadi salah satu pemicunya.
Ketidakpastian lapangan kerja, tekanan ekonomi, hingga dinamika politik dianggap membentuk suasana yang membuat optimisme perlahan memudar.
Anak Muda Indonesia
“Saya bertanya pada diri sendiri, apa yang bisa saya lakukan agar memberikan dampak positif dan meningkatkan optimisme anak muda Indonesia,” kata Arif saat melepas keberangkatan dua riders di Bandung.
Pertanyaan itu kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan. Selama hampir setahun, konsep Lintangnusa dipersiapkan sebelum akhirnya diwujudkan sebagai perjalanan lintas daerah.
Dimana pada event iniĀ menggabungkan semangat berkendara, kepedulian sosial, dan kampanye optimisme.
Simbol-simbol yang dibawa pun bukan tanpa makna. Jarak tempuh 1.945 kilometer dipilih sebagai pengingat tahun kelahiran Republik Indonesia.
Sementara itu 17 bendera yang akan dibagikan merepresentasikan tanggal kemerdekaan. Bagi Respiro, angka-angka itu bukan sekadar identitas perjalanan. Melainkan cara sederhana menghubungkan semangat nasionalisme dengan aksi nyata.
Bukan Sekedar Simbol
Sedangkan Head of Business Respiro Indonesia, Ayi Sunandar, mengatakan Lintangnusa lahir dari keinginan untuk menghadirkan optimisme yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Lintangnusa lahir dari kerinduan untuk melihat Indonesia terus melangkah maju dengan kepala tegak. Angka 1.945 kilometer dan 17 bendera di delapan provinsi bukan sekadar simbol. Melainkan representasi komitmen kami untuk merajut optimisme dari barat hingga timur Indonesia,” ujarnya.
Selain menyerahkan bendera baru, rombongan juga membawa paket bantuan berupa buku dan alat tulis yang akan diberikan kepada siswa-siswi sekolah dasar di sepanjang jalur perjalanan.
Bantuan itu diharapkan menjadi dukungan sederhana bagi kegiatan belajar mengajar sekaligus menyampaikan pesan bahwa keterbatasan geografis tidak boleh membatasi cita-cita.
Generasi Penerus
“Melalui penyerahan bendera baru serta paket alat tulis di 17 sekolah dasar, kami ingin menitipkan pesan kepada generasi penerus bahwa keterbatasan jarak bukan penghalang untuk meraih mimpi,” kata Ayi.
Misi tersebut dijalankan oleh dua riders dengan latar belakang berbeda. Aldea Henry, Brand Advisor Respiro Indonesia sekaligus instruktur keselamatan berkendara.
Ia bertanggung jawab memastikan perjalanan berlangsung sesuai standar safety riding.
Sementara Arian Helltrust, fotografer dan videografer profesional, mendokumentasikan kisah-kisah yang ditemui sepanjang perjalanan, mulai dari bentang alam hingga kehidupan masyarakat di berbagai daerah.
Perjalanan sejauh hampir dua ribu kilometer itu mendapat dukungan Castrol sebagai sponsor utama.
Keterlibatan Perusahaan
Sementara Brand & Product Lead Castrol, Yohan Liutama, mengatakan keterlibatan perusahaannya didorong oleh keyakinan bahwa kemajuan lahir dari keberanian untuk terus bergerak.
“Bagi Castrol, kemajuan sebuah bangsa dimulai dari keberanian untuk terus bergerak maju. Melalui dukungan terhadap Lintangnusa. Kami ingin menginspirasi semangat optimisme, mobilitas, dan kemajuan yang membawa manfaat bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Pada akhirnya, Lintangnusa bukan semata kisah tentang dua pengendara yang menaklukkan ribuan kilometer jalan.
Perjalanan itu menjadi upaya menjahit kembali rasa optimistis yang belakangan terasa rapuh.
Dengan bendera, buku, dan perjumpaan-perjumpaan kecil yang diharapkan meninggalkan jejak lebih panjang daripada lintasan roda di atas aspal. ***





