TURISIAN.com – Seleksi pengelola baru Kebun Binatang (Bonbin) Bandung belum ramai peminat. Pemerintah Kota Bandung justru menghadapi situasi yang membuat Wali Kota Muhammad Farhan waswas.
Tenggat pendaftaran tinggal hitungan hari, sementara jumlah lembaga konservasi yang benar-benar menyatakan minat masih bisa dihitung dengan jari.
“Ini yang bikin saya agak deg-degan, karena syaratnya memang ketat sekali dan tidak semua lembaga konservasi menyanggupinya,” kata Farhan di Balai Kota Bandung, baru-baru ini.
Pemkot Bandung sebelumnya menyebar undangan kepada sekitar 85 lembaga dan pihak potensial.
Namun hingga awal Mei, respons yang kembali belum memuaskan. Dari puluhan undangan itu, baru sekitar empat lembaga yang memberi sinyal serius untuk ikut proses seleksi.
Menurut Farhan, minimnya peminat bukan sesuatu yang mengejutkan. Pemerintah kota sengaja memasang standar tinggi bagi calon pengelola kebun binatang.
Persyaratan itu menyangkut kemampuan finansial, kapasitas konservasi, hingga komitmen terhadap kesejahteraan satwa.
“Memang syaratnya berat,” ujar dia.
Seleksi pengelola baru ini menjadi perhatian karena menyangkut masa depan Bonbin tertua di Kota Bandung tersebut.
Mengejar sisi bisnis
Pemkot tak ingin pengelolaan jatuh ke tangan pihak yang hanya mengejar sisi bisnis, tanpa memahami prinsip konservasi.
Karena itu, pemerintah kota mulai menyiapkan langkah antisipasi. Salah satunya mengajukan perpanjangan masa pendaftaran kepada pemerintah pusat.
Farhan mengatakan tambahan waktu yang diajukan sekitar satu bulan setelah tenggat awal pada 10 Mei 2026.
Di tengah proses seleksi yang belum ideal, kondisi satwa di kebun binatang tetap menjadi perhatian utama. Pemkot Bandung mengklaim terus melakukan pengawasan bersama sejumlah instansi.
Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung bekerja bersama Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat untuk memastikan aspek animal welfare tetap terjaga.
Selain itu, bantuan juga datang dari lembaga internasional bernama Fantara, terutama untuk penyediaan obat-obatan satwa.
Farhan memastikan proses transisi pengelolaan tidak boleh mengorbankan kondisi hewan di dalam kebun binatang.
Pemerintah kota, kata dia, masih membuka berbagai kemungkinan agar seleksi berjalan optimal dan menghasilkan pengelola yang benar-benar kompeten.
“Berbagai opsi sedang kita siapkan,” kata Farhan. ***





