Saung Angklung Udjo Jadi Saksi Pengurus Baru DPD PUTRI Jawa Barat

Saung Angklung Udjo
Para pengurusa DPD PUTRI Jawa Barat Periode 2025-2029 yang baru dilantik foto bersama dengan para dewan pembina di Saung Angklung Udjo, Jumat 24 April 2026. (Foto: Turisian.com/Adisas)

TURISIAN.com –  Senja belum sepenuhnya pergi dari langit Bandung ketika halaman Saung Angklung Udjo  di Kota Bandung, Jawa Barat mulai dipenuhi orang-orang yang datang dengan tujuan serupa.

Mereka  berkumpul, berjejaring, sekaligus menyusun ulang harapan.  Dan, pada Jumat malam, 24 April 2026, tempat yang identik dengan bunyi bambu itu berubah menjadi ruang temu para pelaku industri wisata.

 

 

 

 

Lampu-lampu temaram menggantung rendah, memantul di sela bilah angklung. Suasananya hangat, nyaris intim.

Namun yang terasa menonjol justru bukan dekorasi atau musik, melainkan percakapan tentang bisnis, tentang tantangan. Dan, tentang bagaimana bertahan di sektor yang tak pernah benar-benar stabil.

Di tengah kerumunan itu, Wakil Menteri Perhubungan Suntana berdiri memberi sambutan. Kalimatnya tidak berputar-putar. Ia langsung menyentuh inti yakni pentingnya saling menopang.

“Dan, saya Insya Allah akan mencoba mem-backup segala persoalan yang dihadapi oleh teman-teman di PUTRI,” ujarnya.

Pernyataan itu meluncur di hadapan ratusan pelaku usaha yang tergabung dalam Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Jawa Barat.

Sebuah jaringan yang kini menaungi lebih dari 300 destinasi. Angka yang tidak kecil, sekaligus menandakan bahwa organisasi ini lebih dari sekadar struktur; ia adalah simpul ekonomi.

Percakapan di Bawah Rindang Bambu

Sebelum seremoni dimulai, para pengurus baru sempat berkumpul dalam diskusi internal. Lokasinya di taman, masih di area Saung Angklung Udjo.

Tak ada podium, tak ada jarak yang kaku. Percakapan mengalir, kadang serius, kadang diselingi tawa pendek.

Topiknya beragam. Ada program kerja, tantangan pascapandemi, hingga peluang kolaborasi lintas daerah.

Dari situ tampak jelas, organisasi ini dibangun bukan hanya oleh struktur, tetapi juga oleh relasi personal yang cair.

Malam kemudian bergeser ke ruang utama. Makan bersama menjadi jeda sekaligus pengikat.

Di sela-sela itu, pertunjukan angklung digelar—ritmis, teratur, dan terasa seperti metafora yang terlalu pas, dimana  harmoni hanya tercipta jika setiap bagian bekerja bersama.

Lebih dari Forum

Dalam kapasitasnya yang baru sebagai Dewan Pembina PUTRI Jawa Barat, Suntana kembali menekankan satu hal: dampak.

Organisasi, menurutnya, tidak cukup hanya menjadi forum komunikasi. Ia harus mampu bergerak, memberi efek nyata bagi masyarakat, terutama dalam konteks kesejahteraan.

Dari layar virtual, Ketua DPP PUTRI Hans Manangsang menyampaikan nada yang serupa. Ia menaruh harapan pada kepengurusan baru di bawah Taufik Hidayat Udjo.

“Dengan kesamaan integritas dan visi yang kuat, DPD PUTRI Jawa Barat diharapkan bisa ikut berpartisipasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Iendra Sofyan, memilih menyoroti hal yang lebih teknis: struktur. Ia mendorong pembentukan kepengurusan hingga tingkat kabupaten dan kota.

Alasannya sederhana, tapi krusial. Pengembangan pariwisata, kata dia, selalu dimulai dari daerah—dari mereka yang bersentuhan langsung dengan destinasi.

Di Tengah Efisiensi, Jalan Kolaborasi

Iendra tidak menutup mata terhadap kenyataan: kebijakan efisiensi berdampak pada laju sektor pariwisata. Pergerakan melambat, ruang gerak menyempit. Namun, di situlah kolaborasi menemukan relevansinya.

Ia mencontohkan komunikasi rutin antara pemerintah daerah dan asosiasi. Bahkan diformalkan dalam pertemuan bulanan—sebagai upaya menjaga ritme.

Di sisi lain, Taufik Hidayat Udjo menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung pelantikan ini, termasuk PT Askrindo.

“Semoga ini menjadi langkah baik untuk kerja sama berikutnya dengan teman-teman pengelola wisata di Jawa Barat,” ujarnya.

Malam itu, pelantikan memang berlangsung sebagaimana mestinya: ada sambutan, ada pengukuhan, ada foto bersama. Namun yang tertinggal bukanlah seremoninya.

Yang tersisa adalah kesan bahwa di tengah ketidakpastian, para pelaku pariwisata Jawa Barat memilih satu sikap: tidak berjalan sendiri. ***

Pos terkait