TURISIAN.com – Langit Jakarta pagi itu tampak murung. Awan kelabu menggantung rendah di atas kawasan Kota Tua Jakarta, seolah menahan terik yang biasanya menyengat.
Namun suasana di daratan justru sebaliknya—riuh, hangat, dan penuh warna. Libur Lebaran 2026 membawa gelombang manusia yang tumpah ruah. Memenuhi sudut-sudut kawasan bersejarah itu hingga H+3, Selasa, 24 Maret 2026.
Sejak pagi, denyut keramaian sudah terasa di Fatahillah Square. Rombongan keluarga, pasangan muda, hingga wisatawan dari berbagai daerah datang silih berganti.
Mereka berjalan santai di antara bangunan-bangunan tua, menikmati lanskap kolonial yang seakan membekukan waktu. Terutama di depan Museum Fatahillah dan Gedung Jasindo yang menjadi latar favorit untuk berfoto.
Di tengah keramaian itu, sepeda ontel warna-warni menjadi pemandangan yang mencolok.
Pengunjung menyewanya lengkap dengan topi lebar bergaya kolonial, lalu mengayuh perlahan mengitari plaza yang kini kian ramah bagi pejalan kaki.
Tawa dan suara kamera ponsel saling bersahutan, menciptakan harmoni khas libur panjang.
Tak jauh dari sana, antrean kecil mengular. Bukan untuk masuk museum, melainkan untuk berfoto bersama “manusia patung”.
Salah satunya karakter Noni Belanda. Sosok dengan gaun merah mencolok itu berdiri anggun, nyaris tak bergerak, namun menjadi magnet bagi wisatawan.
Setiap beberapa detik, ia “hidup” sejenak, memicu gelak tawa dan decak kagum.
Santi (40), yang melakoni peran sebagai manusia patung Noni Belanda, menjadi salah satu pusat perhatian.
Sementara itu di balik riasan tebal dan kostum mencolok, ia sabar melayani permintaan foto para pengunjung yang tak pernah sepi.
Pada sudut lain, cosplayer bertema pahlawan, Noni Belanda, hingga seniman jalanan berbalut cat emas turut meramaikan suasana. Menciptakan panggung terbuka yang hidup dan dinamis.
Museum Fatahillah
Anak-anak tak kalah antusias. Mereka bergantian menaiki meriam peninggalan kolonial, sementara orang tua sibuk mengabadikan momen dengan ponsel.
Tawa anak-anak, suara pedagang, dan lantunan musik jalanan menyatu menjadi latar suara yang khas.
Di pelataran Museum Fatahillah, tren kekinian ikut mengambil peran. Stan video booth 360 derajat menjadi magnet baru.
Dengan tarif Rp20.000, pengunjung bisa merekam momen singkat yang langsung dikirim ke ponsel.
Anak-anak tampak ceria mengenakan busana adat modifikasi berwarna cerah, sementara orang tua tak henti merekam dari berbagai sudut.
“Jadi enggak cuma foto biasa di bangunan, tapi ada yang lebih kekinian juga,” ujar Rita (20), salah satu wisatawan yang datang bersama rekannya, Lulu (30).
Bagi mereka, Kota Tua kini bukan sekadar ruang nostalgia, tetapi juga ruang ekspresi digital.
Berkah libur Lebaran juga dirasakan para pelaku usaha. Wahyudi (50), penyedia jasa sewa sepeda ontel, mengaku kewalahan melayani lonjakan penyewa sejak hari kedua Lebaran.
Dalam sehari, omzetnya bisa menyentuh Rp3 juta. Angka yang jauh di atas hari biasa.
“Kalau sekarang ramai dari pagi sampai sore, hampir enggak berhenti,” katanya.
Bagi sebagian pengunjung, sepeda ontel bukan sekadar alat transportasi, melainkan properti yang menghidupkan suasana.
Warna-warninya yang cerah dan desain klasik menghadirkan sensasi seolah kembali ke masa lampau.
Di tengah langit yang masih enggan cerah, kawasan Kota Tua Jakarta justru bersinar lewat wajah-wajah gembira para pengunjungnya.
Riuh tawa, jejak langkah, dan kilatan kamera menjadi penanda bahwa ruang bersejarah ini tetap hidup.
Menjadi tempat bertemunya masa lalu dan masa kini dalam balutan suasana Lebaran yang hangat. ***





