TURISIAN.com – Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong para desainer muda di Kabupaten Kudus agar tidak berhenti pada posisi pekerja lepas.
Mereka, kata dia, perlu mulai membangun merek sendiri supaya dapat bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Dorongan itu disampaikan Budi saat berkunjung ke sejumlah sekolah kejuruan di Kudus, Kamis 12 Maret 2026.
Seusai mendatangi SMK NU Banat Kudus, SMK Raden Umar Said, dan SMK Wisuda Karya Kudus, ia menekankan pentingnya memperkuat industri kreatif melalui perluasan akses pasar bagi produk lokal.
Menurut dia, pemerintah tengah berupaya mempertemukan para desainer lokal dengan jaringan ritel modern melalui skema business matching.
Tujuannya agar karya para desainer Indonesia dapat masuk ke pasar yang selama ini banyak dipenuhi produk luar negeri.
“Kita bekerja sama dengan asosiasi ritel agar karya anak bangsa bisa masuk. Tapi syaratnya satu: produknya harus bagus,” ujar Budi.
Ia menilai kualitas produk menjadi kunci agar desain lokal mampu bersaing dengan produk asing yang beredar di pusat perbelanjaan.
Pemerintah, kata dia, juga berupaya secara bertahap memperbesar porsi produk dalam negeri di pasar domestik.
Budi juga mengingatkan para siswa yang bercita-cita menjadi desainer agar tidak hanya mengandalkan pekerjaan sebagai freelancer.
Dengan memiliki merek sendiri, para desainer dapat mengendalikan karya sekaligus strategi pemasarannya.
Punya Brand Sendiri
“Kalau terus menjadi freelancer, yang menentukan justru brand lain. Karena itu adik-adik harus punya brand sendiri yang nanti menguasai pasar,” ujarnya.
Kementerian Perdagangan juga mendorong penggunaan produk lokal melalui berbagai program.
Salah satunya kebijakan penggunaan produk dalam negeri setiap Kamis di lingkungan kementerian.
“Setiap Kamis kami memakai produk dalam negeri dari atas sampai bawah. Dampaknya ternyata tidak hanya Kamis, tetapi Senin sampai Jumat juga banyak yang memakai produk lokal,” kata Budi.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung upaya pemerintah membantu pemasaran karya siswa sekolah kejuruan. Termasuk di bidang animasi dan fesyen yang dikembangkan di SMK Raden Umar Said.
Budi mencontohkan kerja sama internasional yang dilakukan pemerintah untuk membuka pasar tenaga kerja terampil Indonesia.
Salah satunya melalui misi dagang ke Jerman yang menghasilkan kontrak penempatan sekitar 4.000 tenaga kerja Indonesia.
“Kita ingin meningkatkan ekspor, tidak hanya barang tetapi juga jasa. Tugas kami di Kementerian Perdagangan adalah mencarikan pasar bagi tenaga kerja terampil dari Indonesia,” ujarnya.
Program Manager Djarum Foundation, Galuh Paskamagma, mengatakan pihaknya selama ini telah membekali kemampuan siswa SMK. Yakni, sesuai standar industri melalui berbagai proyek sejak awal masa pendidikan.
Namun, menurut dia, tantangan terbesar saat ini adalah membuka akses pasar bagi talenta muda tersebut, terutama untuk menembus pasar internasional.
“Secara jasa kita sudah siap, talentanya sudah siap. Tetapi kami memang membutuhkan bantuan pemerintah untuk memperluas jaringan agar karya teman-teman SMK bisa didistribusikan lebih luas,” ujarnya.
Ia menilai dukungan pemerintah, khususnya dari Kementerian Perdagangan, penting untuk membuka peluang kolaborasi melalui promosi, pameran, hingga jaringan kerja sama dengan negara lain.
Galuh optimistis sektor ekonomi kreatif seperti animasi dan fesyen memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai komoditas ekspor jasa.
Lawatan Kementerian Perdagangan ke Kudus itu juga dihadiri Gubernur Ahmad Luthfi, Bupati Sam’ani Intakoris, serta Wakil Bupati Bellinda Putri Sabrina Birton.





