TURISIAN.com – Menjelang perhelatan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang akan digelar pada 8 hingga 10 Agustus 2025, denyut wisata di kota tembakau itu mulai mengencang.
Para pelancong berbondong-bondong mencari kamar hotel.Sementara kota belum sepenuhnya siap menyambut gegap gempita karnaval tahunan itu.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jember, Tegoeh Soeprajitno, mengonfirmasi peningkatan reservasi. Terutama di hotel-hotel yang berada di sekitar jalur utama karnaval.
“Sejak awal Agustus, kamar-kamar di hotel sekitar runway JFC sudah mulai dipesan. Terutama untuk tanggal 8 dan 9 Agustus. Biasanya, Sabtu malam memang jadi puncak keramaian,” ujar Tegoeh pekan ini.
Ia menyarankan wisatawan memilih akomodasi di pusat kota. Hal ini demi menghindari kerepotan saat akses jalan ditutup pada hari H. Sebab, beberapa ruas utama bakal steril dari kendaraan sejak siang hari.
“Lebih baik menginap di area yang dekat dengan lokasi acara, agar tak kesulitan saat hendak kembali ke penginapan,” tambahnya.
Namun, bagi pelancong yang ingin menjelajah pesona alam Jember. Seperti kawasan pantai dan pegunungan.
Oleh sebab itu, Tegoeh menyarankan menginap di wilayah yang lebih tenang, jauh dari pusat keramaian.
“Kalau mau eksplor wisata alam, cari akomodasi di pinggiran kota. Tapi kalau fokus nonton JFC, pusat kota tetap yang paling strategis,” kata dia.
BACA JUGA: Jember Menuju Pusat Kreatif Timur Jawa, Teuku Riefky Harsya Tekankan Kekayaan Lokal
Geliat Wisata
Sementara itu, di balik geliat wisata dan euforia menyambut Jember Fashion Carnaval , Tegoeh melontarkan catatan kritis.
Menurutnya, infrastruktur pariwisata di Jember masih jauh dari ideal. Di sepanjang ruas Jalan Gajah Mada dan Sultan Agung, yang menjadi titik vital karnaval, fasilitas dasar. Seperti tempat sampah dan lampu taman masih memprihatinkan.
“Estetika kota jadi terganggu. Lampu-lampu taman banyak yang mati, dan tempat sampah masih minim,” keluhnya.
Sedangkan PHRI Jember juga menyoroti kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap pengelolaan destinasi yang sudah ada.
Bukannya mempercantik yang lama, pengembangan wisata justru stagnan.
“Tidak perlu bikin destinasi baru, yang lama saja dirawat. Pantai Watu Ulo dan Teluk Love itu punya potensi besar, tapi sekarang justru kotor oleh sampah,” ujar Tegoeh.
Ia berharap pemerintah lebih serius dalam menata dan mempromosikan pariwisata lokal. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan etika berwisata juga mesti ditumbuhkan.
“Kesadaran wisata bukan hanya tugas pemerintah, tapi seluruh elemen masyarakat. Ini yang harus segera dijalankan bersama,” ujarnya. ***





