Dari Command Center, Sumedang Menata Pemerintahan Berbasis AI, Pertama di Indonesia

Command Center
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir. (Foto: Dok)

TURISIAN.com – Di ruang command center Pemerintah Kabupaten Sumedang, layar-layar besar memantulkan arus data yang terus bergerak.

Laporan pelayanan publik, aduan warga, hingga capaian kinerja perangkat daerah muncul dalam hitungan detik.

Dari ruangan itu, Pemerintah Kabupaten Sumedang menyiapkan langkah baru: membawa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk ke dapur birokrasi.

Bupati Dony Ahmad Munir mengatakan, pemanfaatan AI menjadi tahap lanjutan setelah pemerintah daerah membangun fondasi digital dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut dia, teknologi tersebut akan dipakai untuk membaca data, mengenali persoalan, sekaligus membantu menyusun rekomendasi kebijakan secara lebih cepat.

“Kalau sebelumnya kita membangun sistem digital, maka tahap berikutnya adalah memanfaatkan AI untuk membaca data, mengidentifikasi persoalan, dan menghasilkan rekomendasi kebijakan secara lebih cepat,” kata Dony di Sumedang, Kamis 7 Mei 2026.

Bagi Dony, teknologi bukan sekadar pelengkap administrasi pemerintahan. Ia ingin AI menjadi alat untuk mempercepat respons birokrasi terhadap kebutuhan masyarakat.

Pemerintah daerah, kata dia, harus bergerak lebih cepat, lebih presisi, dan mampu mengambil keputusan berbasis data.

Sumedang Connected

Upaya itu bertumpu pada ekosistem digital yang lebih dulu dibangun melalui program Sumedang Connected. Sistem tersebut menghubungkan 26 kecamatan dan 270 desa dalam satu jaringan layanan terintegrasi.

Infrastruktur digital itu diperkuat dengan command center, dashboard lintas organisasi perangkat daerah, hingga sistem pelaporan publik berbasis data real time.

Dari jaringan itu, pemerintah daerah kemudian mengembangkan sejumlah aplikasi layanan. Ada Tahu Sumedang, WAKEPO, SIX, Simpati Jitu, e-Office, hingga layanan berbasis web mbg.sumedangkab.go.id.

Seluruh aplikasi tersebut, menurut Dony, dirancang untuk memangkas kerumitan birokrasi.

“Seluruh aplikasi tersebut kami bangun bukan untuk memperbanyak sistem, tetapi untuk menyederhanakan layanan. Prinsip kami adalah integrasi, bukan duplikasi. Satu data, satu sistem, dan satu standar pelayanan,” ujarnya.

Transformasi digital itu ikut mendongkrak capaian Indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Kabupaten Sumedang.

Pada 2023, indeks SPBE Sumedang tercatat 4,14 poin. Angka itu naik menjadi 4,69 poin pada 2024, lalu kembali meningkat menjadi 4,72 poin pada 2025.

Capaian tersebut menempatkan Sumedang sebagai salah satu daerah dengan performa digitalisasi pemerintahan yang menonjol di tingkat nasional.

Dony menilai, infrastruktur digital yang telah menjangkau hingga tingkat desa menjadi modal penting untuk memperluas pemanfaatan AI di pemerintahan daerah.

Dengan dukungan sistem yang terintegrasi, kebijakan berbasis data diharapkan dapat dijalankan lebih efektif hingga ke wilayah paling bawah.

“Digitalisasi yang terintegrasi hingga tingkat desa menjadi modal penting agar kebijakan berbasis data dapat dijalankan secara lebih efektif di seluruh wilayah,” kata dia. ***

Pos terkait