14 Tahun Tari Gandrung Sewu Menari Siang, Kini Banyuwangi Mengubahnya Jadi Pertunjukan Malam

Tari Gandrung Sewu
Para penari Gandrung Sewu kembali akan tampil dalam sebuah pertunjukan malam hari. (Dok.Pemkab Banyuwangi)

TURISIAN.com – Selama 14 tahun, Tari Gandrung Sewu selalu menari di bawah matahari. Ribuan penari memenuhi panggung pada siang hari.

Mereka membawakan tari Gandrung dalam pertunjukan kolosal yang menjadi salah satu ikon budaya Banyuwangi. Tahun ini, matahari disingkirkan.

Pada 24 Oktober 2026, lebih dari 1.000 penari akan tampil dalam gelap. Cahaya lampu dan elemen fosfor pada kostum serta perlengkapan tari akan menjadi bagian dari wajah baru Gandrung Sewu.

Ini untuk pertama kalinya pertunjukan tersebut digelar pada malam hari sejak pertama kali diselenggarakan. Perubahan itu bukan sekadar memindahkan jadwal pertunjukan.

Sementara itu pemerintah Kabupaten Banyuwangi ingin menjadikan Gandrung Sewu sebagai pengalaman wisata yang berbeda.

Sebuah pertunjukan budaya yang tak hanya ditonton, tetapi juga memberi alasan bagi wisatawan untuk datang dan tinggal lebih lama di Banyuwangi.

Sedangkan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan pembaruan konsep merupakan bagian dari upaya menjaga Gandrung Sewu tetap relevan tanpa kehilangan akar tradisinya.

Waktu Pertunjukan

“Setiap tahun kami berupaya menghadirkan sesuatu yang baru dalam Gandrung Sewu. Tahun ini untuk pertama kalinya kita hadirkan pada malam hari,” kata Ipuk dalam konferensi pers Gandrung Sewu 2026, Rabu, 30 September 2026.

Menurut Ipuk, perubahan waktu pertunjukan sengaja dirancang untuk menciptakan pengalaman baru bagi penonton dan wisatawan.

Panggung malam memberi ruang bagi permainan cahaya. Elemen fosfor pada kostum dan perlengkapan penari akan berpadu dengan tata cahaya.

Gerakan lebih dari seribu penari diharapkan membentuk lanskap visual yang berbeda dibandingkan pertunjukan pada siang hari.

BACA JUGA: Kemenpar Kejar Green Card, Geopark Ijen Banyuwangi Hadapi Ujian UNESCO

Teknologi menjadi kemasan. Gandrung tetap menjadi isi.

Ipuk mengatakan perkembangan zaman tidak semestinya membuat tradisi membeku.

“Tradisi tidak harus diam di tempat. Tradisi bisa terus bergerak, beradaptasi, dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

Ia memastikan seni tari Gandrung tetap menjadi inti pertunjukan. Gerak, irama, ekspresi, serta nilai budaya yang diwariskan leluhur tetap menjadi fondasi Gandrung Sewu.

Perubahan konsep ini mendapat dukungan InJourney, holding BUMN di sektor aviasi dan pariwisata.

Sedangkan kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat Gandrung Sewu sebagai atraksi wisata.

Potensi Wisata

Sementara SVP Corporate Secretary InJourney Yudhistira Setiawan mengatakan Banyuwangi memiliki modal wisata yang lengkap. Ada  alam, destinasi, dan atraksi budaya.

Gandrung Sewu, kata dia, termasuk atraksi yang sudah dikenal wisatawan.

“Banyuwangi memiliki banyak elemen potensi wisata yang sudah mapan dan lengkap, termasuk destinasi maupun atraksi,” kata Yudhistira.

Karena itu, konsep malam dirancang bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk memperbesar daya tarik Gandrung Sewu, baik bagi wisatawan Nusantara maupun mancanegara.

“Inilah tantangan kami bersama,” ujar Yudhistira.

Ia berharap wisatawan yang datang untuk Gandrung Sewu tidak sekadar hadir untuk menonton pertunjukan lalu pulang.

Sementara targetnya adalah seamless experience. Satu rangkaian pengalaman wisata yang menghubungkan pertunjukan dengan berbagai destinasi. Termasuk,  aktivitas selama berada di Banyuwangi.

Gandrung Sewu kini mencoba keluar dari panggung lamanya. Dari siang menuju malam, dari pertunjukan budaya menuju pengalaman wisata.

Yang berubah adalah cahaya. Yang dipertahankan adalah Gandrung. ***

Pos terkait