TURISIAN.com – Dukungan atau konsistensi terhadap perkembangan batik Jawa Barat tidak hanya datang dari kalangan perajin dan pemerintah.
Tokoh pariwisata Jawa Barat sekaligus CEO Kagum Group, Henry Husada, dinilai konsisten memberikan perhatian terhadap pengembangan batik di tanah Pasundan.
Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat, Sendy Dede Yusuf, mengapresiasi dukungan tersebut.
Menurut dia, Henry telah menjadi salah satu pihak yang secara konsisten mendukung berbagai kegiatan Yayasan Batik Jawa Barat sejak organisasi tersebut berdiri pada 2008.
“Pak Henry ini selalu mendukung kegiatan Yayasan Batik Jawa Barat sejak tahun 2008. Sampai saat ini beliau tetap konsisten memberikan support kepada kami,” kata Sendy saat menerima Henry Husada di kediamannya di Jakarta, baru-baru ini.
Sementara itu dukungan itu kembali diberikan Henry dalam penyelenggaraan peringatan Hari Batik Nasional tingkat Jawa Barat.
Potensi Batik
Ia menyiapkan Hotel Golden Flower Bandung sebagai venue Jambore Batik Jawa Barat 2026 yang akan berlangsung pada 24-25 Oktober 2026.
Jambore tersebut menjadi penyelenggaraan perdana yang mempertemukan potensi batik dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat.
Kegiatan akan dikemas melalui pameran dagang, peragaan busana, peluncuran buku batik, hingga pemilihan Duta Batik Jawa Barat.
Sendy mengatakan jambore tersebut bukan sekadar perayaan Hari Batik Nasional, namun salah bentuk konsistensi dalam merawat warisan budaya luhur tersebut.

Yayasan Batik Jawa Barat ingin menjadikan kegiatan itu sebagai ruang untuk memperkenalkan kekayaan batik Jawa Barat secara lebih luas sekaligus membuka peluang pasar bagi para perajin.
“Kita ingin membuat batik Jawa Barat ini lebih dikenal lagi, lebih maju lagi, perajinnya lebih sejahtera lagi,” ujarnya.
Menurut Sendy, perkembangan batik Jawa Barat kini tidak lagi terkonsentrasi di sejumlah sentra lama seperti Cirebon, Indramayu, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.
BACA JUGA:Â Ajang Batik Walk dan Upaya Membawa Batik Jawa Barat Naik Kelas
Kearifan Lokal
Sedangkan hampir seluruh kabupaten dan kota telah memiliki batik dengan motif yang lahir dari potensi serta kearifan lokal masing-masing.
Kondisi itu, kata dia, merupakan modal penting untuk memperkuat posisi batik Jawa Barat di tingkat nasional.
“Motif-motifnya lebih dikenal, warna-warnanya dan ciri khasnya di Pantura, Jawa Selatan, Priangan memiliki keunikan yang berbeda-beda,” kata Sendy.
Selama jambore berlangsung, masyarakat dapat melihat sekaligus membeli produk batik yang dibawa para perajin dari 27 kabupaten dan kota.
Dengan begitu, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada promosi, tetapi juga mempertemukan perajin dengan calon konsumen dan pelaku usaha.
Rangkaian acara juga akan diisi peluncuran Buku Batik Jawa Barat yang direncanakan dihadiri sejumlah menteri.
Duta Batik Jawa Barat
Selain itu, pergelaran busana akan menampilkan kekhasan batik dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Jambore juga akan melibatkan komunitas perajin dan pengusaha batik dari berbagai provinsi di Indonesia.
Kehadiran mereka diharapkan membuka ruang pertukaran pengalaman, kerja sama bisnis. Sekaligus memperluas pasar batik Jawa Barat ke tingkat nasional.
Puncak kegiatan akan ditandai dengan grand final pemilihan Duta Batik Jawa Barat.
Menurut Sendy, agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat regenerasi sekaligus mendekatkan batik kepada generasi muda.
Melalui Jambore Batik Jawa Barat 2026, Yayasan Batik Jawa Barat ingin menjadikan kekayaan motif dan tradisi batik daerah sebagai kekuatan ekonomi kreatif.
Dukungan berbagai pihak, termasuk Henry Husada, dinilai penting agar para perajin tidak hanya konsistensi mempertahankan tradisi. Tetapi juga meningkatkan daya saing di pasar yang lebih luas. ***





