TURISIAN.com — Tiga ratus orang berkumpul di Toboali, Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu, 26 September 2026.
Mereka bukan sedang mengikuti lomba memasak biasa. Dengan bahan baku udang dan bumbu tradisional, para peserta memproduksi 300 kilogram belacan.
Atau masyarakat Indonesia lebih mengenalnya dengan sebutan, terasi. Lomba tersebut merupakan satu kegiatan untuk memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Produksi massal itu menjadi salah satu atraksi dalam Kemilau Pesona Bangka Selatan 2026. Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kuliner lokal dapat menjadi daya tarik pariwisata.
Sementara itu Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Irwanto, mengatakan agenda kuliner memiliki tempat tersendiri dalam pengembangan pariwisata daerah.
“Rekor MURI pembuatan belacan atau terasi terbanyak bersama OJK Pangkalpinang,” kata Irwanto di Toboali, Sabtu, 26 September 2026.
Bubuk Udang
Proses pembuatan terasi berlangsung di lapangan terbuka. Di bawah terik matahari, peserta mula-mula menjemur udang segar hingga kering.
Udang itu kemudian ditumbuk menggunakan lumpang kayu sampai menjadi bubuk.
Tahap berikutnya adalah mencampur bubuk udang dengan air, garam, dan rempah-rempah khas Bangka.
Adonan tersebut lalu dibentuk menjadi terasi berwarna merah mengilap dengan tekstur lembut.
Hasilnya ditimbang di hadapan tim juri sebelum ditetapkan sebagai rekor.
Produksi terasi itu beriringan dengan Festival Memasak Lempah Kuning, hidangan khas Bangka Selatan yang menggunakan terasi sebagai salah satu bumbunya.
Dua kegiatan tersebut memperlihatkan hubungan erat antara kekayaan kuliner dan identitas budaya setempat.
Menurut Irwanto, penyelenggaraan event pariwisata semestinya tidak berhenti pada pertunjukan dan hiburan.
Pengalaman, cerita, serta karakter masyarakat perlu menjadi bagian dari daya tarik yang ditawarkan kepada pengunjung.
“Yang dipasarkan bukan hanya nama event-nya. Tetapi keseluruhan pengalaman, cerita, budaya, kuliner dan karakter masyarakat yang menjadi identitas Bangka Selatan,” ujarnya.
“Dari sana, sebuah event dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan destinasi secara lebih luas,” sambung Irwanto.
Pergerakan Ekonomi
Kemilau Pesona Bangka Selatan berlangsung pada 23-26 September 2026.
Mengusung tema “Jelajahi Pesonanya, Rasakan Budayanya”, acara ini menggabungkan pertunjukan seni, kebudayaan, kuliner, produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta hiburan rakyat.
Ribuan pengunjung memadati kawasan Sport Center Bangka Selatan untuk menyaksikan rangkaian kegiatan tersebut.
Bupati Bangka Selatan Riza Herdavid mengatakan festival itu dirancang bukan semata-mata sebagai hiburan. Melainkan juga sebagai sarana memperkenalkan potensi daerah dan menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Alhamdulillah, berjalan meriah dan masyarakat sangat antusias. Terima kasih kepada seluruh panitia, jajaran pemerintah daerah, pihak keamanan, pelaku UMKM dan seluruh masyarakat yang sudah ikut menyukseskan kegiatan ini,” kata Riza, Sabtu, 26 September 2026.
Ia menilai kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan berbagai pihak menjadi salah satu penentu keberhasilan penyelenggaraan acara.
Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Kepemudaan Olahraga Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Eko Kurniawan, juga melihat festival tersebut sebagai ruang promosi sekaligus penggerak aktivitas ekonomi.
“Kami melihat Kemilau Pesona Bangka Selatan sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, pelaku UMKM, seniman, komunitas, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan,” katanya.
Selama empat hari, pengunjung dapat mendatangi bazar UMKM, menyaksikan pagelaran seni dan budaya, festival tari kreasi daerah, serta lomba etnik wastra Nusantara.
Ada pula kegiatan melukis tudung saji, jalan sehat, dan Festival Memasak Lempah Kuning.
Di luar agenda wisata dan kuliner, panitia menggelar santunan bagi 1.000 anak yatim.
Rangkaian kegiatan keagamaan itu dilanjutkan dengan tabligh akbar bersama Ustaz Abdul Somad pada Jumat malam, 25 September 2026.
Pembukaan dan rangkaian acara turut dihadiri Bupati Riza Herdavid, Wakil Bupati Debby Vita Dewi, Kepala Disparbudkepora Bangka Belitung Eko Kurniawan, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah.
Kegiatan Wisata
Sementara panggung hiburan menjadi salah satu pusat perhatian pengunjung.
Sementara vokalis grup musik Hijau Daun, Dide, tampil di hadapan ribuan penonton. Mereka ikut bernyanyi ketika lagu Cobalah dilantunkan.
Di sisi lain, sebanyak 214 pelaku UMKM membuka lapak untuk menawarkan produk lokal dan aneka makanan.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya menghubungkan kegiatan wisata dengan transaksi ekonomi masyarakat.
Festival semacam ini menyediakan dua pengalaman sekaligus bagi pengunjung: menikmati atraksi daerah dan membeli produk yang dihasilkan warga setempat.
Kemilau Pesona Bangka Selatan 2026 juga melibatkan sejumlah organisasi pers, antara lain Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Bangka Selatan.
Lalu ada juga Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bangka Selatan, dan Pro Jurnalis Siber (PJS).
Perpaduan produksi terasi, festival kuliner, pertunjukan budaya, dan bazar UMKM menjadi gambaran pendekatan yang ditempuh Toboali Bangka Selatan dalam mempromosikan daerahnya.
Tantangannya bukan hanya mendatangkan pengunjung selama festival berlangsung, melainkan juga menjadikan pengalaman tersebut sebagai alasan bagi wisatawan untuk kembali.
Di Toboali, 300 kilogram terasi menjadi penanda bahwa produk tradisional dapat diangkat menjadi atraksi wisata.
Namun, keberlanjutan dampaknya akan bergantung pada kemampuan daerah menghubungkan keramaian festival dengan promosi destinasi dan pendapatan pelaku usaha lokal. ***





